Fanfiction · Fiksi

Angel’s Story

Judul               : Angel’s Story

Cast                 : Shin Hyesung a.k.a Steve (Shinhwa), Moon Junghyuk a.k.a Eric (Shinhwa), Park Junjin (Shinhwa), Kenny Choi (OC), other Shinhwa member’s, etc…

Genre               : Fantasy, Dark, Little Angst, Little Romance, AU

Rating             : General

Length             : Oneshoot

Abstrak cerita : Bolehkah malaikat penjaga jatuh cinta pada manusia yang dijaganya? Bolehkah demi manusia seorang malaikat saling dendam dan membunuh? Apakah itu boleh sementara yang bicara adalah cinta? Just read and enjoy this fiction…

Author’s Note  : Hanya sebuah fiksi yang terinspirasi dari MV SHINHWA ‘ANGEL’ yang ada di album vol.7 BRAND NEW. Nggak bener-bener jiplak, hanya ada moment yang disamakan. Gomawo sudah mau baca^^

*

“Kalian segera cari ke sektor tiga, aku yang akan memeriksa keadaan di sini. Go!”

Derap cepat dari kaki-kaki pasukanku segera menjauh dari tempatku sekarang. Sektor pusat, pusat juga markas pembunuh ulung asal LA yang bersembunyi di Seoul. Kau mau kemana, huh?

Aku segera masuk ke salah satu ruang dari empat jumlah keseluruhan di sector ini. Akh, hanya berisi persenjataan juga beberapa computer. Dengan gerakan cepat, segera aku mengopy seluruh file computer di sini ke hardiskku. Namun dalam proses pengiriman file yang penuh kata sandi itu, aku menemukan satu hal menarik yang bisa merebut seluruh konsentrasiku. Segera aku membukanya dan membaca file word itu.

“Eric, I got you…” desisku pelan sambil tersenyum.

*

“Sektor tiga masih kosong. Cepat periksa dan beritahukan hasilnya segera!”

Aku langsung masuk ke wilayah sector pusat gedung markas pembunuh yang terkenal seantero Korea ini tanpa kawan. Lagipula sector ini hanya berisi empat ruang, masih bisa ku atasi sendirian.

“Hook only, Chris only, Andrew only… private room!”

Aku bergegas masuk ke ruang terakhir yang kusebut namanya. Bagaimana menurutmu? Ruang yang bernama atau ruang yang tertulis rahasiakah yang menyimpan banyak fakta tersembunyi? Okay, itu kalimat retoris terbodoh yang pernah kubuat.

‘Steve PC’

“Aku tahu aku akan menemukanmu…” ucapku pelan begitu melihat tulisan itu di salah satu computer di sini.

*

@flashback@

“Tidurlah, Kenny-ah. Aku tak akan kemana-mana…”

“Sirheo. Kau selalu lari tiap kali aku menutup mataku,” aku tertawa.

“Kau takut kehilanganku?”

“Aku tak mau kehilangan lagi. Cukup Eric…” aku menyentuh ujung rambutnya pelan.

“Yaksokhae, aku tak kan lari. Jika kau mencariku, cari aku di ruang tengah, araseo?”

Kenny masih menatapku dengan mata elangnya. Aku tersenyum simpul, menyentuh kedua kelopak matanya dan menutupnya. Nampaknya dia mengerti. Gadis ini langsung menarik selimut dan menutup seluruh tubuhnya.

Aku melangkah pelan ke ruang tengah setelah yakin Kenny telah tidur. Mataku menatap nanar kotak yang berhasil kutemukan di lemari pakaian kami tadi siang. Kenny bilang itu tentang dirinya dan Eric, tapi kenapa dia masih menyimpannya.

‘Hanya aku dan dia. Where are you when I need you?’

‘Apa wajahmu masih sama?’

‘Bogoshippo…’

Tanganku membuang pelan foto-foto yang dipenuhi tulisan Kenny. Tak salah lagi, itu fotonya bersama Eric…

*

@flashback@

“Aku akan tidur jika kau juga tidur. Pallihae…”

“Kau duluan, aku menyusul setelah ini selesai,”

“Mwo? Ani ani! Aku akan menunggumu,”

“Kenny-a…”

“Shireoyo… Steve pergi saat aku menutup mata. Kau pasti akan melakukan hal yang sama,”

Aku menyerah setelah Kenny terus mendesakku. Percuma jika aku memaksanya, karena ada kenangan yang terlalu kuat dalam pikirannya. Tentang Steve. Ya, selalu Steve.

“Kapan kau tidur?” Tanya Kenny pelan.

“Jika kau menutup matamu dan pergi ke alam mimpi duluan,” jawabku sambil mengetik. Aku bisa mendengar desah kesalnya juga suara kain tertarik. Kenny beranjak tidur saat aku menemukan satu rekaman video yang kutemukan di laptop Kenny yang kupegang sekarang.

‘Kau pergi kemana, Steve? Cepat pulang dan temani aku lagi!’

Hanya itu, hanya itu isi video yang berdurasi kurang dari satu menit tadi. Begitu singkat tapi bermakna luas. Aku tahu kau masih mengingatnya dengan jelas, Kenny-ah…

@end of flashback@

*

Selesai aku mengopy seluruh file computer di ruangan ini, aku bergegas keluar karena ada suara yang mengusikku.

Srak…

“Nuguya!” bentakku, tapi tak ada sahutan. Hening.

Kriet…

“YAK!!!” bentakku lebih keras, tapi nihil. Tak ada apa-apa di sini.

Sebenarnya kakiku sudah ingin keluar jika saja aku tak mendengar sebatang logam jatuh. Aku menunduk dan mendapati kunci kuningan model kuno tergeletak di meja. Kunci apa?

*

Tak ada file yang tersisa dalam pengecekanku. Sial! Seluruh isinya sebagian besar tentang data penyewa jasa pembunuh, bukan data korban atau data mereka sendiri. Rupanya computer Steve lebih seperti computer administrator daripada computer pembunuh.

Ting…

Suara yang lebih mirip lonceng pagi hari itu membuatku menoleh dan menemukan rentengan kunci di bawah kakiku. Petunjuk baru…

*

Foto, hanya foto. Isi dari loker terkunci ini hanya foto-foto tak penting untuk penyelidikan juga penyergapan pembunuh ulung ini. Tapi tidak bagiku. Yang ada di dalam foto itu justru yang kucari selama ini. Foto seorang gadis berbaju blus putih dan seorang lelaki berpakaian militer di sampingnya. Kenny dan Eric.

Aku terduduk di kursi dengan ratusan foto yang kugantung disana-sini. Hanya satu foto yang kugenggam erat. Foto Eric bersama Kenny dengan note kecil dibaliknya.

’21 Januari 2013, atap gedung tertinggi tepat pukul 15.00’

Tak salah lagi. Ini tempat yang dimaksud tulisan ini. Inilah gedung tertinggi di Seoul dan sekarang tanggal 21 Januari 2013. Aku melirik jam di tangan kiriku. Pukul 14.00, satu jam dari sekarang pesan di foto ini akan terlaksana. Aku bergegas lari keluar tanpa peduli misi awalku kemari.

“Eric, kau tak bisa lari lagi…”

Dor!

Suara tembakan terdengar seiring dengan desis pelanku. Aku menoleh ke belakang dan Nampak seseorang di sana. Dia Eric!

*

Aku terduduk sambil menopang kepala dengan tangan kiriku. Tangan kanan masih tergenggam pigura dari dalam laci yang kuncinya kutemukan tadi. Aku mendadak melupakan seluruh kepentingan awalku berada di sini. Toh tujuan utamaku ikut tim polisi rahasia ini sudah terlaksana. Aku sudah menemukan petunjuk baru tentang Steve.

Sret…

Bunyi lembar kertas terjatuh membuatku terbangun dari dudukku. Nampak kertas tipis yang sudah pudar warnanya terjatuh di lantai. Tanganku bergerak memungutnya.

’21 Januari 2013, atap gedung tertinggi tepat pukul 15.00’

Aku langsung lari ke atap gedung begitu sadar rencana dari kertas ini akan terjadi setengah jam lagi di gedung ini. Kakiku terasa amat cepat melangkah bersamaan dengan suara tembakan di belakangku.

Dor!

Aku menoleh. Dengan senyum tersungging, aku menemukan seseorang yang kucari di sana. Steve, dia sudah datang.

Author pov

“Di sini kau rupanya…” ucap Eric cenderung sinis begitu sampai di atap gedung. Tatapannya nanar ke arah Steve yang juga sudah berdiri di depannya. Steve juga tak kalah sinis menatap Eric.

“Hm… bagaimana kabar Kenny?” Tanya Steve, Eric mendekat.

“Kau yang terakhir bersamanya kan? kau juga yang membuat janji bersama untuk hari ini. Untuk apa kau tanyakan kabar Kenny? Justru aku baru mau bertanya tentangnya padamu. Apa kabarnya gadis manis itu?” balas Eric. Steve menatapnya aneh.

“Kau berusaha membuatku merasa bersalah? Hey! Kau yang terkhir kali meninggalkannya! Sesuai perjanjian, kau berkesempatan lebih lama bersamanya!”

“Kau melanggarnya! Mengaku pada semua kalau kau mengikuti peraturan. Tsk, aku tahu kau memotong waktuku,”

Steve menatap Eric marah. Tak terima dirinya tertuduh melanggar perjanjian yang jelas-jelas ditaatinya mati-matian. Begitu juga dengan Eric yang begitu yakin Steve sudah melanggar.

“Malaikat penjaga yang jatuh cinta pada manusia yang dijaganya. Bukankah itu lucu, Eric-ssi?” sindir Steve, membuat raut wajah Eric merah padam.

“Apa bedanya denganmu, hah?! Kau juga jelas-jelas mencintainya! Aku masih lebih pantas karena aku bukan penjaga Kenny yang asli. Aku hanya menuruti permintaan Andy untuk menjaga Kenny yang waktu itu rapuh karena Andy telah pergi dari dunia ini. Sedangkan kau? Lihat dirimu Steve!”

Buk!!!

“Aku tahu hal itu. Kenny terlalu bodoh untuk menjadi rapuh hanya karena Andy! Demi senyumannya, aku rela mengubah diri jadi manusia bergantian denganmu!”

Pukulan Steve agaknya membuat emosi Eric memuncak. Nampaknya percuma jika dia terus menahan perasaannya. Dia malaikat yang hatinya sudah berubah menjadi manusia. Dia punya emosi.

Dak!!

“Aku mencarimu hanya untuk menanyakan Kenny! Ini sambutanmu, Steve?! Kau hilang, Kenny hilang! kau memutus kontak kami, sehingga aku terlalu sulit untuk menemukannya! Dimana dia?!”

“Kaulah yang memutus kontakku dengan Kenny! Aku juga kesulitan menemukannya. Aku terpaksa bergabung dengan manusia untuk menemukanmu! Mana Kenny?!”

Dan perdebatan akut itu berakhir dengan adu kekuatan. Steve meninju wajah Eric, Eric menendang pinggang Steve. Gulat penuh emosi yang entah berakhir sampai kapan. Jika mereka manusia asli, mereka pasti sudah babak belur karena kejadian ini. Tapi mereka adalah malaikat yang menjadi manusia juga beremosi seperti manusia karena gadis yang berhasil membuat mereka jatuh hati. Kejadian fatal untuk para malaikat penjaga seperti mereka.

Tapi cinta itu buta. Eric dan Steve sudah dibutakan oleh cinta. Kejadian yang sudah diatur rapi agar mereka menjauh dari Kenny justru membuat mereka berdua kelabakan. Ingatan yang dihilangkan justru membuat mereka saling dendam. Bodoh, cinta mereka bodoh.

“Terakhir kalinya. Dimana Kenny?!” pekik Eric di tengah sengal nafasnya. Steve justru menegakkan berdirinya dan sebuah pistol teracung ke arah Eric.

“Bodoh atau apa?! Aku tak tahu, kau yang terakhir bersamanya!” sahut Steve. Eric balas menodongnya dengan pistol yang berada di sakunya.

“Jika yang kau inginkan membunuh jiwa manusiaku, maka tembak aku tepat saat aku mundur di langkah ke empat karena aku akan segera membunuh jiwa manusiamu. Satu hal yang perlu kau ingat, begitu jiwa manusia kita mati, kita tak akan mengingat Kenny lagi!” Eric perlahan mundur.

“Tepatnya kita akan musnah selamanya karena saling membunuh,” sambung Steve.

Satu langkah.

“Jujur, aku benar-benar tak tahu dimana Kenny,” ucap Steve.

Dua langkah.

“Aku juga tak tahu dimana dia…” sahut Eric.

Tiga langkah.

“Baiklah, ingatan kita memang sudah diputus…” ucap mereka bersamaan.

Empat langkah.

“Tapi aku tetap membunuhmu!!!”

Dor!!!!

Dan pada detik selanjutnya muncul seorang gadis dengan jaket hitam juga celana hitam. Sesaat tadi dia masih mendengar suara dentuman senjata api. Matanya juga masih menangkap cahaya yang begitu silau di hari yang mendung. Perlahan dia tersenyum.

“Junjin, apa mereka tak akan kembali?” tanyanya entah pada siapa. Tiba-tiba muncul seorang namja tinggi di sampingnya.

“Tak akan kembali padamu, Kenny-ah. Karena itu aku diutus untuk menjadi pengganti mereka,” jawab namja itu.

“Araseo…” sahut yeoja itu pelan, lalu tersenyum. “Aku akan merindukan kalian…”

*

@flashback@

“Dia masih menangis…”

Suara yang baru tiba itu agaknya membuat 2 lelaki yang melayang bebas ini menoleh. Nampak seorang lagi yang baru datang dengan sayap putih, rambut panjang juga raut wajah yang sedikit suram. Panggil yang baru datang ini Hyesung.

“Tak bisakah kau buat dia berhenti menangis juga meraungi namaku?” Tanya seseorang lagi. Dia tak begitu terlihat, karena dia berbeda dengan 3 makhluk tadi. Dia hanya arwah yang belum bisa tenang.

“Calon istrimu itu sangat kehilanganmu, Andy-ssi. Itu bukti dia benar-benar mencintaimu,” sahut Hyesung, membuat roh yang transparan itu hendak maju untuk memukulnya. Namun satu tangan menahan Andy.

“Kenapa kau emosi? Aku tak yakin kau benar-benar sudah mati,” ucap makhluk yang bernama Junghyuk itu. “Biarkan aku yang bicara dengan malaikat ini,” lanjutnya dengan suara datar.

“Dengar Andy Lee! Kau satu-satunya roh yang berkesempatan untuk memperhatikan orang yang masih hidup di dunia dalam jangka waktu selama ini! Ini hampir melewati batas, aku tak mau Lord memusnahkanku karena terlalu menurutimu. Sekarang putuskan, apa yang akan kau lakukan pada Kenny agar kau mau pergi ke alammu sendiri?”

“Kau tahu Dongwan? Andaikan Andy tahu apa yang harus dia lakukan, tentu saja dia sudah mengatakannya sejak bulan lalu,” Junghyuk mencoba membela (mantan) manusia yang dijaganya di hadapan Dongwan, pemimpin dari seluruh malaikat penjaga.

“Karena kau tugasku sebagai malaikat penjaga makin rumit, Sebagai seorang namja seharusnya kau harus bisa memutuskan dengan cepat! Kenny terus menangis. Bahkan kekuatanku tak cukup untuk membuatnya berhenti meneteskan air mata. Kau tahu sudah berulangkali aku terpaksa berubah menjadi berwujud sepertimu demi melihat Kenny tersenyum. Tapi hanya sementara, setelah itu dia menangis lagi. Aku miris melihatnya!” bentak Hyesung, membuat Andy menatapnya dengan tatapan penuh tanya. Ada sesuatu yang ganjil dalam hati Andy.

“Kau malaikat penjaga atau namja yang mencintainya? Kata-katamu seakan kau ini namja yang selalu memendam perasaannya demi kebahagiaan yeojamu,” cibir Andy pelan, membuat Hyesung tersenyum simpul penuh makna.

“Mungkin kau sudah tahu jawabannya Dongwan…” ucap Hyesung tanpa melepaskan tatapan ke arah Andy. Junghyuk menggeleng kuat, ini sangat rumit.

Mereka akhirnya terdiam setelah Dongwan menggerakkan sedikit tangannya. Perlahan, terbentuklah 4 kursi yang terbuat dari awan. Mereka berempat duduk dan menunudukkan kepala. Hyesung sesekali melirik ke bawah, mengira-ngira apa yang dilakukan Kenny sekarang tanpa pengawasannya.

“Ada apa kau memanggilku, Dongwan?” panggil sebuah suara berat, membuat semua kecuali Dongwan menoleh. Ada yang muncul, seseorang yang bisa dipastikan sama dengan Dongwan, Junghyuk, dan Hyesung.

“Jangan pura-pura tak tahu, Junjin. Kau sudah kuberitahu lewat telepati 2 detik lalu. Duduklah dan sampaikan hasil rundingan kita,”

Malaikat bernama Junjin itu tersenyum tipis setelah menyembunyikan sayapnya. Dia malaikat yang setingkat dengan Dongwan. Dia sering menjadi hakim untuk para malaikat yang mandapat masalah rumit. Seperti halnya yang terjadi pada mereka sekarang.

“Tak perlu duduk. Sekarang aku bertanya padamu, Andy Lee. Kau ingin Kenny mati lalu menyusulmu atau Kenny hidup dengan memori penuh tentangmu?”

Skakmat! Pertanyaan Junjin cukup untuk membuat semuanya menoleh kaget. Keputusan mencabut nyawa seorang manusia sebelum waktunya tak semudah membalikkan telapak tangan.  Jika hal itu terjadi, maka semua malaikat harus bekerja untuk memutar roda nasib seluruh manusia yang lain, karena pasti ada hubungannya antara satu dengan yang lainnya.

Andy mengerutkan kening. Duduknya merosot karena pilihan yang diberikan Junjin terlalu berat. Jika memilih Kenny mati, berarti Andy sudah memutus jalan hidup Kenny secara sepihak. Andaikan dia memilih Kenny tetap hidup, bukan tak mungkin Kenny akan terus seperti ini.

“Jika aku jadi kau, aku memilih membiarkan Kenny hidup,” ucap Hyesung.

“Kau gila? Itu sama saja membuat Kenny terus-terusan menangis!”

“Sudahlah Junghyuk-ah, aku memang memilih Kenny tetap hidup…” Andy membuka suaranya, membuat Hyesung tersenyum.

“Yakin?” Tanya Junjin, yang masih dengan sikap coolnya.

“Ya, asal Junghyuk juga ikut menjaga Kenny. Hapus memori tentangku di otak Kenny. Buang semua kenangan kami berdua. Buat dia sangat menyayangi Junghyuk,” jawab Andy.

“Mwo? Aku tak setuju! Apa yang kau maksud berarti Junghyuk jadi manusia? Tugasnya sudah selesai untuk menjagamu, sudah saatnya Junghyuk mencari manusia baru!” protes Hyesung. Andy tersenyum kaku.

“Belum selesai. Yang kumaksud, aku ingin kalian berdua menjadi manusia untuk menjaga Kenny. Tak apa dia melupakanku, asal dia masih tersenyum…” sambung Andy, membuat semuanya memandang Junjin, berharap keputusan dari malaikat bijak ini.

“Baiklah… Mulai detik ini, seluruh kenangan juga ingatan Kenny Choi tentang Andy Lee akan kuhapus,” ucap Junjin sembari melambaikan tangan berbarengan dengan munculnya semburat jingga di langit. “mulai detik ini, Junghyuk resmi menjadi malaikat penjaga Kenny Choi dalam wujud manusia bersama dengan Hyesung,” lanjutnya sambil menggerakkan telunjuknya ke arah Junghyuk dan Hyesung yang berangsur-angsur bisa menjejakkan kakinya juga sayap mereka perlahan hilang. “Dan sekarang, nama Junghyuk adalah Eric, sedangkan Hyesung bernama Steve. Dalam ingatan Kenny, Eric adalah kakaknya, sedangkan Steve adalah suaminya. Kalian menjaga Kenny bergantian tiap dua hari.”

Seluruh gerakan cepat Junjin cukup untuk membuat Andy yang masih bermata manusia terpana juga tertusuk hatinya. Tak rela, tak rela Kenny akan menganggap Hyesung suaminya. Namun semua itu resiko dari pilihannya sendiri. Yeoja itu harus tetap hidup, harus.

“Kau Andy Lee, sekarang bisa pergi ke tempatmu,” suruh Dongwan. Namun Andy justru berdiri tegak dengan tubuh yang sudah tak transparan lagi.

“Jaga Kenny, itu pesanku. Ehm, boleh aku minta satu permintaan?” Tanya Andy. Dongwan mengangguk.

“Hapus memori tentang Kenny dariku,” ucap Andy.

Blam!

Seketika tempat mereka berubah menjadi taman depan apartemen Kenny. Tersisa Eric dan Steve. Eric menatap Steve tajam.

“Hari ini kau yang bertugas,” ucapnya datar.

*

“Lihatlah ulah kalian berdua yang asal merubah malaikat jadi manusia! Yeoja tak berdosa itu terlihat seperti orang gila di depan orang lain karena kapasitas malaikat itu jadi manusia hanya terlihat di depan manusia yang dijaganya saja!”

Dongwan menatap Junjin marah begitu Minwoo, tangan kanan Lord, menghakimi mereka berdua akibat ulah tanpa izin. Ya, Hyesung dan Junghyuk memang berubah tanpa memberitahu Lord, selaku pemimpin semua malaikat. Tak sepenuhnya ulah Dongwan, karena Junjin yang asal melakukannya tanpa diskusi dengan Dongwan.

“Kau tahu Junjin yang melakukannya! Kenapa masih aku saja yang kena?!” protes Dongwan, membuat Minwoo menggeleng.

“Kau pemimpin para malaikat penjaga! Bagaimanapun kau berteanggung jawab atas tindakan mereka!” bentak Minwoo, membuat Dongwan sedikit menciut. Junjin justru tertawa melihat tingkah dua malaikat ini, membuat Minwoo mengalihkan pandangannya.

“Apa yang kau tertawakan?” Tanya Minwoo.

“Aku sudah diutus Lord untuk melakukannya sejak yeoja itu lahir,” jawab Junjin, membuat Minwoo dan Dongwan menatapnya tak percaya.

“Yeoja itu bernasib sama seperti Andy, terbuang begitu lahir. Kenny terlahir sejak awal memiliki sedikit karisma yang bahkan tak bisa ditolak malaikat sekalipun. Apa kalian tak tahu kalau Eric dan Steve jatuh hati padanya? Akh, yang tahu hal ini hanya aku dan Lord. Yang jelas, hal ini memang tak boleh sama sekali terjadi di kehidupan malaikat. Aku sudah membuat rencana tentang ini semua…”

“Bagaimana aku tak tahu hal ini? Aku tangan kanan Lord, apapun kepentingan Lord aku pasti ada di sampingnya…”

“Minwoo, kadang ada waktunya kau akan mempercayakan suatu tugas pada malaikat yang sama sekali tak terkira. Mungkin menurut Lord, lebih baik kami saja yang tahu hal ini. Hm, melihat emosimu seperti ini, mungkin memang lebih baik kau tidak diberitahu…”

Junjin begitu santai saat menguraikan kalimat yang membuat Minwoo membuang muka. Satu saran, jangan beradu argument dengan Junjin. Dia adalah makhluk mematikan saat berkata-kata.

“Buat ini jadi mudah. Sebenarnya apa tugas yang diberikan Lord padamu?” Tanya Dongwan saat Minwoo terlihat menyerah memarahi mereka.

“Memusnahkan Junghyuk dan Hyesung.”

“Mwo?”

“Hah, sepertinya aku dan Lord benar-benar sukses menyembunyikan rencana pemusnahan mereka selama 25 tahun! Dengar! Apa kalian tak sadar kalau mereka berdua sudah terlalu banyak melanggar peraturan selama 350 tahun ini?”

Dongwan dan Minwoo menyerah kalah. Mereka tahu, Lord sudah memilih malaikat yang tepat.

“Lakukan sesukamu!”

*

Sementara 3 malaikat itu sedang berdebat, ada sedikit obrolan kecil di apartemen mewah di bumi. Obrolan antara ‘kakak adik’ yang terdengar hangat. Eric dan Kenny.

“Eric-ah, kau tahu dimana Steve?” Tanya Kenny pada ‘kakak’nya yang sedang duduk manis di ruang tamu.

“Suamimu itu mungkin workaholic akut! Tak pulang tanpa kabar pun tenang-tenang saja,” sahut Eric.

Buk!

“Bagaimanapun dia suamiku!!!” pekik Kenny nyaring usai Eric menerima lemparan bantal sofa. “kau kira kau tidak seperti itu? kalian seperti bertukar tempat tiap kali aku tidur!”

Agaknya teriakan Kenny membuat Eric ingat akan satu hal. Satu hal yang jadi perjanjian antara dirinya dan Steve.

“Kau… tidurlah. Tubuhmu ringkih, begadang hanya membuatmu lebih parah. Biar malam ini aku yang menunggu Steve pulang…” suruh Eric pada Kenny yang ikut-ikutan duduk di ruang tamu. Kepala yeoja berwajah blasteran itu langsung menggeleng.

“Selalu begitu. Steve pulang kau pergi. Kau pulang, Steve pergi. Aku ingin kita bersama-sama semalam saja, bukan sendiri-sendiri. Tak tahukah kalian betapa aku ingin seperti orang-orang normal? Cukup orang lain selalu bilang aku yeoja kesepian yang selalu bicara sendiri saking seringnya kalian pergi!”

Eric langsung memeluk Kenny erat. Sangat erat. Eric tak bisa menyangkal kalau dirinya tak bisa melihat Kenny menitikkan airmata barang setetes. Kenny harus selalu tersenyum manis. Ada satu hal yang disesalinya saat dulu berbagi tugas dengan Steve. Ia hanya ingin satu hal, dirinyalah yang jadi suami Kenny, bukan Steve.

“Mianhae…” ucap Eric pelan sambil mengecup puncak kepala Kenny.

*

“Aku tak yakin kau menyayangi Kenny sebagai adik…”

“Terserah kau. Dia benar-benar seperti adikku sekarang,”

Steve hanya melirik Eric yang memandangi sungai Han. Dua manusia jadi-jadian itu benar-benar terlihat seperti musuh bebuyutan yang  bertahun-tahun tak bertemu. Mereka merebutkan Kenny, manusia sebenarnya yang harus mereka jaga bersama.

“Aku tahu kau iri denganku. Kau ingin menjadi suaminya kan? Harusnya kau masih ingat kalau kemampuanku belum hilang. Otakmu terlalu mudah dibaca…”

Eric terkekeh pelan, lalu beranjak mendekati Steve.

“Pulanglah, Kenny merindukanmu…”

Setelah itu Eric langsung melangkah meninggalkan Steve yang menatapnya penasaran. Sebenarnya Eric bergumam pelan setelah menoleh sekilas pada Steve yang bergerak menuju apartemen Kenny.

“Ya, aku mulai mencintainya. Indah juga rasanya mencintai seorang yeoja…”

*

“Whoy! Cepatlah! Kau bilang hari ini terakhir Kenny bersama dua malaikat itu kan?”

Minwoo bergerak mondar-mandir di belakang Junjin yang berkutat dengan lembaran-lembaran dari awan yang berisi tugas-tugas malaikat yang rumit. Tugasnya sebagai malaikat hakim membuat Junjin selalu berurusan dengan masalah. Ehm, andai dia manusia mungkin dia harus memakai kacamata setebal pantat botol untuk membaca semua itu.

“Sabarlah, kau tak lihat masalah-masalah yang kupegang ini?” balas Junjin santai, membuat Minwoo mendengus kesal.

“Kau harusnya sabar. Bisa-bisa posisimu di hadapan Lord kugantikan…” goda Junjin, sekedar membuat Minwoo tersenyum.

“Yayaya, terserah. Kau lihat ini, sudah waktunya kau buat Kenny Choi itu sadar. Dan sesuai keteranganmu waktu itu, kau yang akan menjaga Kenny selama satu minggu lalu yeoja itu menyusul Andy,”

“Itu mudah. Kasihan sekali Kenny. Hidupnya hanya untuk memusnahkan dua malaikat yang sudah berubah jadi manusia pembuat masalah…”

Minwoo langsung menutup lembaran awan yang dipegang Junjin dan segera menarik malaikat tinggi itu ke atas apartemen Kenny. Dari sana terlihat Steve bergegas masuk.

“Kau ini! Aku harus memanggil Kangta dulu! Dia harus memanipulasi waktu di otak Steve dan Eric, membuat mereka merasa sudah sampai batas waktu untuk bergantian menjaga Kenny. Lalu memanggil Dongwan untuk memutus kontak mereka dengan Kenny. Selanjutnya aku harus menemui Kenny untuk menyampaikan semua ini. Apa kau tak tahu kalau itu harus dilakukan di detik yang sama?”

Minwoo menciut mendengar omelan Junjin. Tepatnya malaikat pertama yang berani mengomelinya karena statusnya sebagai tangan kanan Lord. Diam-diam Minwoo sedikit menyesal terlalu terburu memaksa Junjin. Bagaimanapun, melakukan hal ini memang tak mudah. Harus kerja sama dengan Kangta, malaikat waktu paling senior. Lalu dengan Dongwan yang punya hak untuk memutus kontak malaikat penjaga dengan manusia yang dijaganya. Tentunya Junjin juga harus menguras tenaga untuk hal ini juga menjaga Kenny satu minggu ke depan.

Dua detik setelahnya, nampak Kangta dan Dongwan datang bersamaan. Junjin melirik Minwoo yang cengengesan layaknya cupid berhasil menembakkan panah cinta untuk para manusia.

“Bagus! Begitu ku hitung sampai tiga, segera lakukan tugas masing-masing,”

“Tugasku apa?” potong Minwoo begitu mendengar Junjin.

“Awasi kami. Bagaimanapun, kau memiliki jabatan tertinggi di antara kami di hadapan Lord. Jika ada yang salah, kau berhak memukul kepala kami,”

‘Junjin yang bijak’ ucap Minwoo dalam hati sambil tersenyum.

“Satu… dua… tiga…”

Blam!

@end flashback@

*

“Dan pada akhirnya, Eric dan Steve sebenarnya berada di tempat yang sama, posisi yang sama, juga jiwa yang sama?”

“Hm…”

“Sesederhana itukah ceritanya?”

“Sebenarnya dua ribu kali lebih rumit, tapi aku tak yakin kau akan mengerti apa yang kumaksud nanti… Kau lupa kalau minggu lalu kau sempat histeris karena teringat Andy lagi dan melupakan semua tentang Eric juga Steve?”

Kenny tertawa kecil mendengar perkiraan Junjin tentangnya. Sedikit mengejek memang, tapi mau bagimana lagi? Otak manusia dan otak malaikat tentu memiliki kapasitas berbeda.

Junjin yang duduk di pinggir atap hanya menatap lurus-lurus ke arah gedung-gedung kota Seoul yang menjulang. Gedung tempatnya berada sekarang hanya gedung tak terpakai yang berhasil dibuatnya menjadi seperti markas pembunuh di mata Steve dan Eric. Junjin kemudian berdiri dan melihat ke arah Kenny yang dari tadi melihatnya tanpa kedip.

“Jatuh cinta padaku?” asal Junjin.

“Hahaha… mungkin saja. Kau… lebih tampan dari Steve maupun Eric. Tapi Andy masih jauh lebih manis darimu!” sahut Kenny sambil tertawa lepas. Junjin hanya tersenyum.

“Aku tahu itu. Tapi sepertinya lebih baik kalau kau segera aku musnahkan. Hash! Aku merasa sedikit lagi akan jatuh cinta padamu! Karismamu terlalu kuat!”

Kenny hanya tersenyum, balik menatap awan yang menggantung. Suasana sudah tak lagi mendung seperti tadi. Rupa-rupanya, suasana (yang diciptakan Junjin juga) hanya berlangsung selama proses pemusnahan Eric dan Steve. Perlahan dia sadar kalau ia sendiri akan segera dimusnahkan setelah ini. Ada rasa bahagia, karena Junjin sudah menjanjikannya untuk bertemu dengan Andy nanti. Tapi ada rasa tak rela juga, karena baru disadarinya kalau hidupnya baru sebentar. Masih banyak harapan-harapan yang dulu dirancangnya bersama Andy yang belum terlaksana. Ia ingin melunasinya dulu, baru nanti menyusul Andy dengan harapan akan pamer.

“Hey… kau harus sadar. Jika kau terus hidup, tak ada malaikat yang menjagamu karena semua sudah punya tugas masing-masing,” tegur Junjin, seakan membaca pikiran Kenny.

“Kan kau bisa menjagaku…” seloroh Kenny, nyaris membuat Junjin memukul kepalanya sendiri.

“Aku heran bagaimana bisa kau punya karisma kuat di antara malaikat, padahal kau seperti ini. Aku tentu punya tugas sendiri. Tugasku seminggu ini saja ditangani Minwoo, tak terbayang bagaimana dia mengomel nanti jika aku masih terus mengulur waktu untuk menjagamu,”

Tertawa lagi. Kenny merasa amat ringan mendengar semua kalimat Junjin, yang sebenarnya membuatnya yakin kalau meninggalkan dunia ini sekaranglah yang terbaik untuk kehidupannya. Dia tak mengenal siapa-siapa selain dirinya sendiri juga Andy karena sifatnya yang terlalu introvert. Tak yakin dirinya bisa lewati semua ini tanpa banyak masalah.

“Arasseo. Bisa musnahkan aku sekarang?” Tanya Kenny, membuat Junjin tersenyum.

“Bukan aku, tapi malaikat lain yang akan mencabut nyawamu. Tugasku nanti membawa jasadmu ke tempat kremasi lalu menebarnya di tempat ini,”

“Boleh tahu siapa pencabut nyawaku?” Tanya Kenny lagi.

“Jinyoung, malaikat maut paling senior…”

Dan tepat sepersekian detik setelah Junjin menjawab, perlahan tubuh Kenny ambruk. Junjin bisa melihat Jinyoung, si malaikat maut yang menutup kotak berisi nyawa Kenny. Tanpa sadar, setitik air turun bebas dari mata Junjin.

“Satu lagi, malaikat yang jatuh cinta pada manusia…” kelakar Jinyoung, lalu segera terbang menuju ke tempat lain, meninggalkan Junjin yang mengusap air matanya pelan.

Dia sudah pergi. Tugaspun selesai. Manusia ajaib bernama Kenny, yang berhasil membuat dua, oh bukan. Biar kuralat apa yang kukatakan. Manusia yang berhasil merebut hati tiga malaikat tanpa pernah disadarinya itu telah pergi. Pergi, meninggalkan sejuta perasaan yang membuncah di hati satu-satunya malaikat yang mencintainya yang masih ada di dunia ini.

“Semoga Lord tak berniat memusnahkanku karena kau…” ucap Junjin pelan, lalu memeluk tubuh Kenny yang sudah tak bernyawa.

fin

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s