Fanfiction · Fiksi

Rest of My Life

Author                   : ChaNara

Cast                      : Changmin (DBSK), YOU

Genre                    : Romance, AU, OOC

Length                  : Ficlet nyaris oneshoot ._.

Rating                   : PG-15 + PG-16 +PG-17+General #ambigu gue._.

Summary           : “Aku tak mengerti apa itu cinta, tapi saat aku menatapmu aku tahu aku benar-benar mencintaimu,”_Changmin

A.N.                        : Syaalalalala~~ gue bikin epep buat nyambut ultah Bang Changmin! Nah lho? Ultahnya kan udah lewat, gimana cerita ini buat nyambut ultahnya tuh epil? #plakk! Gini lho… FFnya dibuat udah lama, malah udah aku post di pesbuk. En kebetulan blognya baru, jadi aku post di sini sekalian 😀 Ini masuk nominasi ff tersuksesku dari 55 draft ff bernasib buram karyaku

Inspired by “Rest of My Life_Bruno Mars”

 

~

Kau baru saja masuk ke apartemenmu saat dia terbangun dari duduknya. Matanya membulat senang begitu melihatmu tiba.

“Yeobo, kau sudah pulang?” sapanya hangat sambil mengambil alih tas kantor yang tergantung di antara jemarimu. Kau mengangguk sambil tersenyum manis. “Aku sudah menyiapkan air mandimu. Mandilah lalu makan,” lanjutnya sambil mendorongmu pelan ke kamar mandi. Kau hanya menurut, karena badanmu memang butuh siraman air secepatnya.

Kini kau telah bersih dan terlihat mendapat nyawa baru. Kakimu melangkah ringan ke meja makan. Dia tengah duduk di salah satu kursi meja makanmu. Menunggumu.

“Aku membuatkan sup untukmu, hari ini kau mau melembur lagi?” tanyanya pelan sambil menuangkan sup di mangkuk. Kau terus menatap yeoja itu tanpa akhir, lalu segera menjawab, “Ne, tak usah menungguku. Tidur duluan saja,”

“Ne, Tuan Shim Changmin~” kelakarnya, membuat senyummu tak pudar. Sorot matanya begitu hangat, benar-benar menghangatkan siapapun yang melihatnya.

Ia menungguimu makan sambil bercerita tentang pengalamannya seharian di rumah. Bukan, bukan menggerutu. Ia justru nampak gembira karena bisa berulangkali mengacak posisi barang lalu mengaturnya lagi. Kau mendengarnya sambil menghabiskan makan malammu. Rasanya penatmu hilang begitu saja saat menatapnya yang terus bergembira. Ia seperti musim semi yang penuh warna ceria.

“Aku sudah selesai. Tidurlah Nyonya Shim…” kau berdiri lalu mengacak rambutnya pelan. Kali ini ia mengerucutkan bibirnya.

“Jangan rambutku, Yeobo!” gerutunya lalu bangkit dari kursinya. “Jangan sampai terlalu larut, ne?” sekilas ia mengecup pipimu dan langsung membereskan peralatan makanmu. Kau terkekeh, lalu segera masuk ruang kerja minimu.

Jam menunjukkan waktu lewat tengah malam. Kau merenggangkan sejenak otot-ototmu yang kaku akibat kebanyakan duduk. Masih kurang seperempat berkas lagi yang belum kau cek. Tugasmu sebagai seorang manager membuatmu harus berkutat dengan semua ini. Kau tak mengeluh, karena ini pilihanmu sendiri untuk berprofesi seperti itu.

“Uahm…”

Nampaknya matamu tak ingin terbuka lebih lama. Akhirnya kau memilih untuk bersandar sejenak di kursi besar yang cukup untuk dua orang tempatmu duduk. Lima menit, tolong biarkan matamu terpejam lima menit saja. Kau menyamankan posisimu yang tetap bersandar dan mencoba menutup mata untuk menyegarkan diri.

Berkas cahaya yang masuk membuat matamu mengerjap terganggu. Kali ini lehermu terasa berat, seperti digantungi seseorang. Akhirnya kau menoleh dan mendapati yeoja yang tadi malam menemanimu makan tengan melingkarkan lengannya di lehermu. Ia tampak tertidur pulas. Kau tersenyum, mengecup dahinya lalu berpura-pura tidur lagi. Kau tak ingin membangunkannya.

“Jangan pura-pura tidur, aktingmu jelek,” ucapnya. Kau bergeming, tetap menutup mata. “Bangunlah atau kau telat masuk kerja,” ucapnya lagi. Akhirnya kau membuka matamu, mendapatinya tengah menatapmu dengan puppy eyes yang manis. Kau mengecup kedua mata itu. Ya, benar-benar manis.

“Kau benar-benar manis yeobo,” godamu. Ia hanya tersenyum, lalu menutup matanya.

“Morning kiss…” pintanya. Kau terkekeh, lalu mengecup setiap bagian wajahnya tanpa lewat satu titik pun. Kau bisa melihatnya yang sedikit kegelian. Kau tak peduli, kau tetap memberi kecupan singkat di tiap bagian wajahnya.

“Giliranku?” pintamu sambil membuka kelopak matanya dengan jemarimu. Ia tersenyum, lalu mengecup hidungmu.

“Hidungmu mancung,” candanya. Kau hanya bisa tertawa, lalu segera bangkit dari posisimu. Kau harus bergegas kerja hari ini.

~

“Aku pulang…” ucapmu begitu masuk apartemen. Aneh, tak ada sorotan mata hangat yang biasa menantimu. Kau langsung masuk ke kemarmu, mencarinya.

Ternyata ia berbaring di kasur dengan tubuh terbungkus selimut tebal. Kau menyentuh dahinya, tapi tak ada tanda-tanda demam. Kau mencoba menggoyang tubuhnya.

“Yeobo, gwenchanayo?” tanyamu khawatir. Ia membuka matanya, menatap matamu.

“Kau ada lembur malam ini?” tanyanya balik. Kau sedikit kaget, lalu mengangguk kecil. Kau bisa mendengar dengusan kecilnya. “Mandilah, lalu segera makan,” lanjutnya lalu menutup matanya lagi. Kau akui kau sedikit kecewa dengan sikapnya hari ini. Tapi kau tak berniat bertanya lebih, nanti saja.

Malam ini kau menghabiskan makanmu tanpa mendengar celotehan kecilnya. Sepi, sunyi tanpa suaranya yang terbilang cukup nyaring. Kau yang tak tahan akhirnya segera kembali ke kamar. Kau ingin alasan darinya.

“Yeobo, apa kau ada masalah?” tanyamu pelan. Kau berdiri di sampingnya yang masih dalam posisi tadi.

“Kau tak jadi lembur?” tanyanya, yang sama sekali tak menjawab pertanyaanmu.

“Setelah kau menceritakan alasan kenapa kau diam begini,” jawabmu datar. Ia menaikkan selimutnya, menutup wajah hingga tak ada satupun bagian wajahnya yang bisa kau lihat. Perlahan kau mendengar suara tangis kecil. Kau memutari kasur, lalu naik dan berbaring di sampingnya. perlahan, kau membuka selimut yang menutup wajahnya. Ia menangis! Ia langsung mengusap air matanya lalu menaikkan selimutnya lagi. Kau langsung memeluknya.

“Yeobo-ah, waeirae?” tanyamu. “Uljima uljima…” lanjutmu. Ia justru makin mengeraskan tangisannya, membuatmu ikut-ikutan mengeratkan pelukanmu.

“Neomu geuliwo…” ucapnya, membuatmu terkaget. “Nappeun nampyeon, nappeun nampyeon!” kali ini ia memukulimu pelan. Kau membiarkan tangan mungilnya memukulmu, membiarkan ia melepas bebannya.

Ia menghentikan semuanya saat kau tiba-tiba menempelkan bibirmu di bibirnya. Ia tiba-tiba kaku, begitu lama hingga akhirnya ia melepaskan ciuman kalian.

“Can you tell me?” tanyamu pelan. “About this,” kau menunjuk pipinya yang masih basah karena air mata tadi. Ia tak menjawab, justru merangsek ke pelukanmu.

“Aku merindukanmu tidur di sini. Kau terlalu sibuk dengan lemburmu sampai larut malam. Aku takut kau sakit,” ucapnya bergetar sambil terus merangsek ke dadamu. Kau mencoba menahan tawamu, namun kalimatnya terlalu menggelikan untukmu.

“Hahaha… kau merindukan pelukanku, heum??” godamu sambil menelusupkan jemari di antara jemarinya yang bertumpuk di dadamu. Kau bisa mendengarnya menggerutu kecil. Tanganmu lalu beralih mengangkat wajahnya, menghadapkannya tepat di depan wajahmu.

“Jika kau bilang dari awal, maka aku tidak akan lembur, yeobo-ah…”

Matanya membulat sempurna saat mendengarmu mengatakan itu. Ada secercah kegembiraan yang meletup yang membuatnya mencoba menutupi itu semua. Namun matamu lebih cepat menangkapnya. Kini kau tersenyum penuh makna.

“Dan malam ini, nampaknya aku ingin lebih,” bisikmu di telinganya membuat yeoja itu menggelinjang geli. Dalam satu gerakan cepat, kau membuat tubuh kalian sama-sama terbungkus selimut dan bibirmu menyambar seluruh bagian wajahnya. Ya, kau benar-benar ingin sesuatu yang lebih…

~

Pagi ini wajah kalian sama-sama memerah. Malu bercampur geli mengingat kejadian malam tadi. Yeoja itu juga tak berhenti mengacak rambutnya frustasi tanda pikirannya sedang mengadakan percabangan tanpa diminta. Anaemu itu begitu salah tingkah tiap kali menatap matamu.

“Kau marah padaku???” tanyamu penasaran. Ia menggeleng, membuatmu gemas. Kau langsung berdiri dan menghampirinya yang tengah berkutat dengan masakannya.

“Aaaa…” kagetnya begitu kau melingkarkan tanganmu di pinggangnya. Kau mematikan kompor dan menaruh kepalamu di bahunya.

“Hari ini aku ingin masuk siang,” celetukmu sambil menghirup udara di sekitar bahunya. Ia yang mungil membuatmu harus menunduk sedikit lebih dalam.

“Gomawo…”

“Untuk apa?”

“Setiap pagi kau selalu ada di sampingku sekalipun aku tertidur di ruang kerjaku dan membangunkanku. Kau tak pernah lupa membuatkan sarapan sekaligus bekal untukku. Tiap siang kau juga mengirimiku pesan singkat sekedar menyuruhku makan. Saat aku pulang, kau pasti sudah menyambutku dengan senyummu dan menyuruhku segera makan. Bahkan air mandi sekaligus ganti bajuku juga pasti sudah kau siapkan. Kau… terlalu baik yeobo-ya…”

Ia memutar tubuhnya, membiarkan kau merasakan deru nafasnya. Ia tersenyum, lalu membalas pelukanmu.

“Karena aku mencintaimu, Shim Changmin. Itu saja,” ucapnya. Kau tersenyum lagi, merasakan betapa beruntungnya hidupmu saat ini hanya karena yeoja mungil yang tengah memelukmu ini. Yeoja yang telah kau kenal dua tahun ini. Yeoja pertama yang berhasil menarik perhatianmu setelah puluhan yeoja berusaha membuatmu jatuh cinta. Yeoja yang satu setengah tahun lalu menjadi yeojachingumu, juga yeoja yang resmi menjadi anaemu setahun lalu. Kau sangat mencintainya, sangat mencintainya.

Memang banyak yeoja yang jauh lebih cantik daripada ia, tapi kenyataannya hanya wajahnya yang berhasil mengisi hatimu. Masih banyak yeoja yang terampil mengurus rumah, tapi kau tetap begitu bangga dengan hasil kerja kerasnya mengatur apartemen kalian. Masih banyak yeoja yang baik hati, tapi entah kenapa kau terus merasa kagum dengan sikapnya yang seringkali mengalah demi kepentingan orang lain.

Ialah orang yang membuatmu bahagia sekaligus takut di saat yang sama. Kau bahagia bisa memilikinya, tapi kau juga takut setengah mati andai tiba-tiba ia jatuh hati pada orang lain. Tidak! Kau tidak mau kejadian itu menjadi kenyataan. Ia hanya milikmu, dan kau hanya miliknya. Kau tak peduli jika ia merasa kau amat posesif, yang kau pedulikan hanya bagaimana caranya ia tetap mencintaimu. Tetap dan selalu.

“Eung… aku mau menunjukkan sesuatu untukmu yeobo. Jjamkaman,” ia tiba-tiba melepas dan berlari ke kamar. Kau terkekeh.

And it hurts, and it hurts so bad,
Uri maeumgwa ibsureun seoro dareun mareul
Haneunde apahaltende
#Changmin’s ringtone

Kau langsung berlari menuju ruang kerjamu begitu mendengar ponselmu berdering. Kau sempat melihat id caller sebelum mengangkatnya dan menempelkannya di telingamu. ‘Ahra-noona’, itu yang tertera.

“Yeoboseyo, noona…”

“Changmin-ah~” suara parau itu terdengar di telingamu. Suara Ahra membuatmu khawatir.

“Noona-ya? Gwenchanayo???” tanyamu panik.

“Kyuhyun… Changmin-ah, Kyuhyun kecelakaan tadi malam…”

DEG!

“Ia kehabisan darah, rusuknya juga menusuk masuk ke lehernya lagi…”

DEG! DEG!

“Dongsaengku meninggal tadi pagi Changmin-ah…”

DEG! DEG! DEG!

Tiba-tiba saja kau menjatuhkan ponselmu ke lantai. Kyuhyun, sahabatmu sejak orok, sahabatmu yang selalu menemanimu, sahabatmu yang sangat percaya kau bisa berhasil dengan menjadi manager tanpa bergantung pada Appamu. Kyuhyun… juga sahabatmu yang mengenalkanmu pada yeoja yang selalu mengisi hari-harimu saat ini.

“Kyuhyun-ah!!!” teriakmu tanpa sadar hingga airmatamu mengalir. Tidak! Kau belum siap kehilangan sahabat sebaik Kyuhyun. Namja yang juga sama evil-nya sepertinya. Kau seperti runtuh.

“Ssh, yeobo-ah…” tiba-tiba ada tangan yang melingkar di pinggangmu dari belakang. Tangan yang sangat kau kenal. Kau tetap menangis, menangisi Kyuhyun.

“Ia bahkan belum menyusulku menikah. Wae?! Wae?!” kau begitu histeris, dan tangan itu juga mengeratkan pelukannya.

“Tenanglah…” ia memutar badanmu dan menyandarkan kepalamu di dadanya. “Aku di sini, aku selalu di sini, menemanimu,” ia masih mencoba menenangkanmu. Tangismu perlahan reda, hanya tersisa isakan-isakan kecil.

“Jangan pernah tinggalkan aku…” lirihmu. Yeoja mungil itu mengangguk, lalu perlahan mendudukkanmu di kursi kerjamu. Ia berlutut di depanmu.

“Selama kau masih mencintaiku, dan selama aku masih mencintaimu, aku akan tetap di sampingmu,” ucapnya begitu jelas. Kau langsung meraihnya, memeluknya seakan ia akan terbang jauh.

“Uljimayo yeobo…” pintanya pelan. Kau masih terisak. Rupanya Kyuhyun memang sudah terlanjur menjadi bagian hidupmu. Ia seperti saudaramu sendiri.

Kau mencoba menatap mata anaemu yang terbuka sempurna. Kau merasakan kekuatan mengalir begitu saja saja mata kalian saling bertatapan. Kau tahu kau sudah teramat dalam mencintainya.

Akhirnya kau tak begitu sesak lagi. Kau sudah bisa melepas Kyuhyun perlahan. Dan tiba-tiba kau teringat sesuatu. Ya, anaemu ingin menunjukkan sesuatu padamu tadi.

“Apa yang mau kau tunjukkan padaku, yeobo?” tanyamu dengan suara parau, berusaha tersenyum. Yeoja itu tiba-tiba tersipu, lalu mengambil sesuatu dari kantongnya, sebuah amplop.

“Igeo,”  “Ige mwoya?”

Kau terkekeh karena kalian mengucap bersamaan. Tangannya menyodorkan amplop itu, seakan menyuruhmu membukanya. Kau langsung mengambilnya dan merobeknya. Matamu perlahan membaca isinya satu persatu, sampai kau tiba di sebuah titik yang membuatmu tersenyum cerah.

“Changmin-appa, jalputakdeurimnida~(Changmin-appa, jagalah aku dengan baik~)”

Yeoja itu memelukmu dan mengarahkan tanganmu untuk menyentuh perutnya. Ada kehidupan baru di sana, kehidupan yang selama ini telah dinanti kalian berdua selama ini. keterpurukanmu tadi terkikis perlahan.

“Gomawo yeobo-ya, gomawo…” lagi-lagi kau menangis. Namun kali ini kau menangis bahagia. Tangis yang seakan membuat nyawamu bertambah.

“Aegi-ya, jadilah anak yang baik…” kau berbicara pada perutnya. Kalian tersenyum, manis. Manis sekali.

FIN

Syaalalala!!! Selesai juga ni epep!! Mellow kan? Mellow nggak? Mellow ajadeh!#plakk!! Hehe, buat Sparkyu, mian Kyuhyun cuma kebagian mati di sini T,T#author dipanggang Kyu. Soalnya yang aku tahu yang biasa nongol bareng Changmin ya si epil ntu. Ditambah lagi dengan Kyu-line, makin eratlah mereka(?).

Hehe, ceweknya emang nggak aku kasih nama. Anggep aja itu kalian!^^ soalnya nggak kebayang nama siapa yang kupake. Kalau namaku ntar Hyukjinnie ngamuk-ngamuk lagi#apadeh-_-

Komen silakan, like silakan, dibiarin juga gapapa. Tapi kalo tiba-tiba sakit perut jangan salahin saya, ffufufu…#ketawa bareng duo epil maknae

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s