Cerpen · Fiksi

Dion

Lagi-lagi Dion memandang langit biru di atas sana. Langit di sini memang cerah. Membuat semua kenangan manis masa-masa sekolahnya kembali terputar secara urut. Otot-otot wajahnya kembali memaksanya untuk tersenyum tulus nan indah. Masa delapan tahun lalu membuatnya selalu mengenang sekolah ini.

“Bagaimana dengan kabar mereka?” gumam Dion pelan sambil kembali mengingat masa lalu.

*

“Jadi begitu Bu, saya ingin menitipkan anak saya di kos yang dikelola oleh guru di sekolah ini,”

Obrolan pendek antara Ibu Dion dan seorang guru muda itu diacuhkan oleh Dion. Dia sibuk bermain dengan formulir mendaftar ke SMP yang digenggamnya sekarang. Hari ini dengan bangga Dion kembali masuk ke kawasan sekolah elit yang akan dijadikan tempatnya menimba ilmu. Nilai ijazah SD yang memuaskan membuatnya begitu percaya diri.

“Bu, guru kita ada yang buka kos?” tanya sang guru muda yang kelak akan dipanggil Dion dengan sebutan Pak Andar. Pertanyaannya diajukan pada seorang wanita paruh baya yang duduk di kursi pojok. Bu Rina namanya.

“Kenapa nggak di rumah Bu Tiah saja? Bu Tiah kan buka kos. Bentar-bentar, tak panggilke dulu,” usul seorang laki-laki yang juga berusia sebaya dengan Bu Rina. Guru bernama Pak Ramlan itu pun segera bergegas berlari keluar perpustakaan, bermaksud memanggil seseorang yang diusulkannya.

Dion tetap tak peduli dengan perdebatan kecil yang sebenarnya terjadi karena dirinya. Dion hanya membayangkan masa menyenangkan yang akan dijalaninya. Bukankah masa SMP adalah masa-masa peralihan dari anak-anak menjadi remaja yang lebih cerdas?

Dion adalah salah satu dari banyaknya anak yatim yang beruntung. Kenapa? Karena Dion masih bisa bersekolah di tempat yang terkenal akan prestasinya juga keelitannya. Dion memang dasarnya cerdas, sehingga bukan hal mustahil untuknya untuk memilih sekolah mana yang akan menjadi tempatnya menimba ilmu. Namun, yang dikhawatirkan bukanlah hal itu. Sang Ibu akan berangkat ke tempat nun jauh di sana untuk menafkahi biaya hidup keluarganya di sini. Ibu Dion khawatir putra semata wayangnya itu akan salah memilih jalan hidup tanpa dirinya di sisinya. Karena itulah, memilih tempat kos yang dikelola oleh guru sendiri akan membuat Dion lebih terarah.

Namun kembali lagi bahwa Dion tak peduli dengan semua itu. Yang ada dipikirannya hanya satu. Masa menyenangkan yang akan dijalaninya nanti.

“Lho Pak, saya itu nggak buka kos. Gimana tho Pak Ramlan ini?” suara seorang wanita berumur membuat Dion akhirnya menoleh dan menghentikan aktivitas mengkhayalnya. Guru itu berkerudung dan berkacamata. Langkahnya tergopoh-gopoh, seperti mengejar sesuatu. Tampak Pak Ramlan menyusul di belakang guru itu.

Lha setahu saya di rumah Bu Tiah banyak anak-anak, bukan kos ya?” celetuk Pak Ramlan membuat Bu Tiah makin terlihat gusar.

Dion baru mulai memahami keadaan sekitarnya. Sedikit terkekeh, merasa lucu dengan kecuekan dirinya sendiri yang terlewat parah. Terbersit satu keinginan, untuk merubah sifat cuek keterlaluan itu.

“Ini yang mau cari kos?” celetuk Bu Tiah sambil menepuk bahu Dion. Yang ditepuk bahunya pun hanya tersenyum manis, karena pada saat ini yang bisa dia lakukan hanya itu.

Ibu Dion kembali menjelaskan semuanya dari awal pada Bu Tiah. Menjelaskan semua alasan-alasan yang mungkin bisa membuat Bu Tiah menerima Dion di rumahnya. Namun kembali lagi pada Dion yang sekarang kembali bermain sendiri dengan fantasinya. Dion masih tak peduli, sekalipun jelas-jelas tadi dia berjanji sendiri akan lebih memberikan perhatian untuk sekitarnya.

Di sisi lain Bu Tiah justru senyum-senyum sendiri sambil sesekali melirik tingkah Dion. Tertarik dengan sikap bocah yang unik ini. Tanpa bermohon-mohon pun Bu Tiah sudah pasti menerima anak ini.

“Yasudah Bu, Dion ikut saya saja tidak apa-apa…”

*

Tersenyum lagi. Dion kembali menarik otot wajahnya setelah mengingat saat-saat baru masuk sekolah ini. Tentu dulu belum semodern yang sekarang. Tapi ilmu yang ditimba juga pengalamannya di sini tentu saja tetap membuatnya merasa tempat berharga dari apapun.

Buk!

“Maaf Kak, aku buru-buru tadi…” ucap seorang gadis berseragam putih biru. Dion yang terjatuh hanya mengangguk lalu tersenyum lagi.

“Nggak apa Dek, udah cepet sana. Katanya kamu buru-buru, ‘ntar ketinggalan lho…” sahut Dion santai. Gadis itu hanya menunduk sedikit, lalu berlari lagi. Dion terus menatap gadis itu sambil membersihkan celana jeans yang kotor akibat terjatuh tadi.

“Tujuh A, itu kelasku dulu kan?” gumamnya pada diri sendiri. Kini matanya tertuju pada kelas terpojok. Perlahan kakinya melangkah ke sana, ingin sejenak mengingat lagi…

*

“Dion!!!!!!!!!”

Pekikan Santi, teman sebangkunya, membuat Dion yang sedang asyik melamun terpaksa menoleh malas. Santi sudah berkacak pinggang daritadi.

“Ada panggilan ketua kelas tauk!!!! Ndang mangkat!!!!” pekik Santi sekali lagi. Dion menatap mata gadis itu dengan tatapan kosong. Sesaat kemudian tangannya meraih buku catatan kosong di mejanya.

“Pinjam bukumu, jangan ribut kalau Pak Andar belum datang,” ucap Dion singkat-sesingkatnya dengan datar. Santi lagi-lagi pasang tampang jutek menanggapi bocah ajaib yang satu itu.

Dion menyusuri lorong sekolah sambil bersenandung kecil. Ketua kelas yang markasnya berada di tempat terpojok harus berangkat ke ruang guru yang letaknya di gedung sentral, itulah nasibnya sekarang.

“Andai ada lantai yang jalan sendiri, pasti nggak secapek ini…” rutuknya sambil mengibas tangan pelan. Gerombolan anak-anak yang sudah berkumpul di depan sana membuatnya bergegas segera sampai.

Tak sampai bermenit-menit untuk Dion segera sampai di ruang guru. Matanya menerawang, memastikan belum ada pengumuman yang disampaikan sebelum ia tiba. Pandangannya berhenti saat seorang wanita paruh baya berbadan gemuk melangkah ke pusat gerombolan ketua kelas itu. Tatapannya tajam, membuat siapapun yang melihat akan langsung menaruh perhatian. Semua memanggilnya Bu Hani.

“Semua sudah lengkap?” tanya Bu Hani, memecah keheningan yang tercipta.

“Sudah Bu,” jawab semua kompak.

“Bagus, ini ada formulir ekstrakurikuler. Dibagikan ke teman-temanmu, paling lambat dikumpulkan lagi Senin depan. Ada pertanyaan?”

Beberapa anak tampak mengacungkan jarinya. Riuh suasana, kecuali Dion yang berusaha mencerna sendiri tanpa mau bertanya. Nyalinya masih terlalu ciut untuk bertanya pada guru senior itu. Toh pada intinya, formulir mengenai kegiatan ekstra ini wajib diisi dan dikumpulkan lagi paling lambat Senin depan. Sekalipun ada tambahan, pasti sudah tertulis di formulir itu kan?

Selang beberapa waktu, Bu Hani pun segera membagi formulir tersebut dengan cepat. Tak perlu waktu lama untuk Dion segera mendapatkannya. Bocah ini segera mengambil jatahnya sebelum dipanggil dan langsung melesat pergi. Tak dipedulikan sorakan dari anak-anak lain. Dia… hanya bosan berada di gerombolan tak jelas itu.

*

Kini Dion sudah duduk manis di bangku depan kelas terpojok. Bangunannya sudah baru, bercat biru langit, dan kini sudah terlihat lebih menyenangkan. Jelas berbeda dengan masanya dulu, yang hanya bercat krem dan berpapan tulis kapur. Debu-debu putih yang selalu menemaninya saat meraih ilmu membuatnya sedikit murung. Terbersit rasa iri, kenapa dulu dia merasa sekolahnya terlalu sederhana. Kenapa sekolahnya sekarang sudah sangat maju? Kenapa anak-anak jaman sekarang tak merasakan menulis menggunakan kapur, berpanasan dengan angin siang, juga berjubel dengan kawan sekelas karena banyaknya murid? Sekarang semua menggunakan spidol, ruangan ber-AC, juga sekelas hanya berisi 20 murid.

Tapi inilah namanya hidup. Ada masanya kita akan merasa lelah, ada masanya kita merasa gembira, ada masanya kita merasa istimewa, ada masanya kita merasa biasa saja. Jikalau dulu dia sudah merasakan fasilitas semewah ini, apakah mungkin dia akan belajar giat? Apakah mungkin dia akan tetap berjuang mempertahankan nilai demi membahagiakan Bu Tiah, sosok guru yang berhasil membuatnya memiliki semangat ’45? Semua itu toh membuatnya bersyukur, karena di masa kecilnya, dia tidak merasakan semua itu.

Kring!!!!

Bel sekolah berbunyi nyaring, membuat Dion menoleh ke arah pintu-pintu kelas yang terbuka dengan paksa akibat tingkah bocah-bocah kelaparan menyeruak keluar menuju kantin. Kali ini dia terkekeh.

“Kalau yang ini tidak ingat jaman. Yang namanya istirahat ya rebutan…” gumamnya pelan tanpa kehilangan kekehannya. Matanya sesekali beradu pandang dengan bocah yang lewat. Namun bukanlah Dion jika dia menghiraukan semua itu, yang ada dia malah mengingat lagi masanya dulu.

*

“Whoy!!! Aku ndhisik!!!”

Pekikan-pekikan kecil anak-anak membuat Dion berulangkali menahan napas. Sesekali Dion harus menahan emosi karena beberapa anak berbadan bongsor menggusurnya hingga harus mengantri dari belakang lagi. Istirahat memang saatnya adu kesabaran.

“Sini Dek, biar aku yang antrikan. Mau beli apa?” tawar seorang siswi berbadan tinggi. Nampaknya dia baik, sayang Dion tak sempat mengingat namanya.

“Nggak usah Mbak, nanti repot,” tolak Dion halus. Namun siswi itu nampaknya tak kehilangan semangat.

“Ayolah Dek, mau beli apa? Aku nggak minta kok, kasian kamu kejepit gitu,”

Dion berfikir sejenak. Tawaran yang menggiurkan sejujurnya. Tapi dia merasa tak kenal dengan siswi itu.

“Ini Dek, nggak usah ngantri. Udah tak belikan, aku duluan ya?”

Tiba-tiba badan Dion tertarik keluar dari antrian panjang manusia kelaparan itu. Kini tangannya penuh dengan plastik berisi 2 bungkus wafer, 2 potong gorengan, juga segelas air minum. Siswi itu melambai padanya lalu berlalu dari balik dinding kantin, membuatnya ingat satu hal.

“Astaga! Makasih Mbak Artha!!!” serunya sambil menepuk kening. Tak salah lagi, siswi tadi adalah Artha, putri Bu Tiah tempatnya tinggal sekarang.

*

Tersenyum lagi. Tulang pipinya yang tegas lagi-lagi makin terlihat jelas karena senyumnya yang tak kunjung reda. Dion terlalu bahagia dengan semua masa lalunya.

“Dea!!! Jangan lupa nanti bimbingannya pulang sekolah ya?!”

“Iya Bu!”

Sahutan teriakan pasangan murid dan guru merebut perhatian Dion. Entah apa yang ada di benak anak muda ini, yang jelas dia kembali hanyut dalam ingatan masa lalu yang seakan tak ada ujungnya.

*

“Rumus luas segitiga?”

“Setengah alas kali tinggi!”

“Rumus volume balok?”

“Panjang kali lebar kali tinggi!”

Pak Andar mengangguk takzim melihat respon Dion yang memuaskannya. Yakinlah beliau, kali ini sekolahnya menang dalam siswa teladan yang akan diadakan bulan depan. Bocah ini terlampau cerdas, juga cerdik tentunya. Asal pandai mengatur strategi, Dion pasti bisa menyabet juara dengan mudah.

Namun, nampaknya Dion tak sejalan dengan benak Pak Andar. Dion merasa tak nyaman untuk mengikuti hal seperti ini. Baginya jauh lebih menyenangkan mengikuti pelajaran biasa daripada harus ikut bimbingan khusus untuk lomba-lomba.

“Pak, kalau saya mengundurkan diri boleh?” celetuk Dion, sukses membuat Pak Andar terperangah.

“Kenapa?”

“Nggak nyaman Pak. Mending yang ikut Fadli atau Tara, mereka kan niat banget Pak,”

Pak Andar hanya bisa mengernyitkan dahinya, bingung dengan jalan pikiran bocah bernama Dion yang sedang duduk manis di depannya. Disaat yang lain berlomba ingin ikut, kenapa anak ini malah berharap mundur?

“Sebenarnya saya lebih suka ikut lomba non akademik Pak, seperti PMR atau Pramuka. Nah, padahal PMR ada seleksi untuk peserta lomba tingkat nasional. Saya pengen ikut, tapi udah kepilih di sini,”

Dion memandang papan tulis dengan hampa. Nada bicaranya penuh keputusasaan, membuat Pak Andar hanyut dalam kepasrahan Dion. Diam-diam, tangannya meraih ponsel yang tergeletak di meja.

“Halo Pak, gimana kalau kita adakan seleksi ulang untuk siswa teladannya?”

Raut wajah Dion berubah cerah. Manik matanya berputar riang, menandakan betapa gembiranya ia. Sejenak lupakanlah kalau itu masih sebuah permohonan, yang jelas dia sudah memiliki pendukung. Ya, Pak Andarlah pendukungnya.

*

Kali ini Dion tak bisa menahan tawa. Tingkahnya dulu terlalu konyol. Apa masih bisa membujuk guru dengan cara seperti itu?

Tak ada angin tak ada hujan, kaki Dion ajak untuk berpindah dari tempatnya sekarang. Sang pemilik raga hanya menurut tanpa bantahan, karena sejujurnya Dion pun masih belum puas hanya duduk di depan kelas. Dia ingin yang lebih.

“Ibu!!!” seruan seorang bocah membuat Dion sedikit berhenti dari langkahnya. Usia 5 tahunan, berlari kecil menuju wanita berbaju hijau yang tadi dipanggilnya Ibu. Serasa hati Dion sedikit tersayat belati mungil nan anggun mendengar kata ‘Ibu’.

“Bu, Ibu gimana kabarnya?” gumamnya pelan, menahan perih yang makin lama makin menyeruak.

*

“Hahahaha…”

Dion tertawa riang menonton aksi lawak di televisi. Sesekali tangannya meraih cemilan yang tersaji di depannya. Sore ini dia tak ada kegiatan, sehingga setidaknya dia bisa beristirahat barang sejenak untuk melepas lelah.

Kriet…

“Yon, lagi ngopo tho, le?

Muncul Bu Tiah dibalik pintu ruang televisi, membuat Dion sedikit terlonjak dari duduknya.

“Nggak ngapa-ngapain Bu, cuma nonton. Ada apa Bu?” tanya Dion sambil berdiri dan menyongsong Bu Tiah. Wanita paruh baya itu hanya tersenyum penuh makna, lalu menyodorkan sepucuk surat.

“Dari Ibumu, belum dibuka. Baca dulu gih,” ucap Bu Tiah pelan, namun berhasil membuat siapapun termasuk Dion patuh. Segera setelah mengambil surat itu, Dion langsung mematikan televisi dan segera masuk ke kamar.

Dengan berbalut rasa penasaran, Dion merobek amplop yang membungkus surat itu rapi dan menarik isinya. Hanya selembar kertas, bertuliskan tinta biru yang ia yakin tulisan Ibunya yang tengah bekerja nun jauh di sana. Ada satu hal yang tak bisa dipungkirinya, ia rindu sang Ibu.

Mata Dion membaca isi surat itu berulangkali di tiap katanya. Mencerna dengan baik maksud dari surat itu tanpa terlewat satu poin pun. Namun yang ada setelahnya Dion menjatuhkan surat itu. Matanya kini menerawang jauh, pikirannya bercampur aduk karena surat itu. Rindu pada Ibunya seakan menguap usai membaca surat tersebut.

Ibunya telah menikah lagi dengan saudagar kaya di tempatnya bekerja. Itu inti dari surat yang baru saja dijatuhkannya. Kini Ibunya telah hidup mapan tanpa harus kerja banting tulang. Dan dari surat itu, Ibunya menawarkan Dion untuk memilih, hidup menyusul Ibu dan Ayah tiri di negeri orang sana atau tetap di sini, tinggal bersama Bu Tiah sampai nanti.

Jujur Dion merasa sakit hati, karena Ibunya menikah tanpa persetujuannya dahulu. Namun di sisi lain, Dion merasa bahagia karena kini sang Ibu sudah memiliki pendamping hidup. Bagaimanapun, Ibunya tentu seorang wanita yang patut dijaga, apalagi sampai kerja di seberang sana.

“Dion, kamu mau ikut Ibumu atau di sini sampai lulus?”

Tiba-tiba Bu Tiah sudah berdiri di depan pintu kamarnya. Menatapnya lembut dan penuh kasih sayang, seakan mengerti perasaan kalut Dion.

“Dion juga bingung Bu. Dion kangen Ibuk, tapi Dion pengen sekolah di sini aja…” jawab Dion tanpa tenaga. Perlahan, lengan Bu Tiah memeluk Dion hangat.

“Yon, sekarang terserah kamu, Bu Tiah nggak mau maksa. Kalau kamu mau ikut Ibumu, ya ayo beres-beres. Tapi kalau mau di sini, ya nulis surat balasan untuk Ibumu. Tapi kamu harus inget, rumah ini selalu terbuka buat kamu,” Bu Tiah mencoba memberi sedikit penerangan dalam kebuntuan pikiran Dion.

Selang beberapa waktu, akhirnya Bu Tiah bangkit duduknya dan melangkah menuju pintu keluar. Namun refleks Dion menahan tangan itu dan ikut berdiri.

“Dion ikut Ibu terus boleh ya? Dion sreg tinggal di sini,” ucap Dion dengan suara bergetar. Bu Tiah memalingkan kepalanya, menatap Dion penuh arti.

“Boleh. Sekarang, panggilnya Ibu aja ya? Jangan Bu Tiah, kamu udah Ibu anggap anak sendiri,”

Untuk pertama kalinya, seorang bocah ajaib bernama Dion menangis meraung-raung di pelukan Bu Tiah, meluapkan segala tekanan juga kerinduan pada Ibunya yang tak bisa dibendung lagi. Bagaimanapun dia masih seorang remaja, yang butuh perhatian lebih dalam kehidupannya.

*

Dion menghela napas kaku saat kenangan lalunya usai. Untuknya, itu adalah masa lalu yang kalut, yang membuatnya selalu merasa terpuruk dan terabaikan. Namun tangan seorang wanita paruh baya membuatnya kembali menemukan lentera hidupnya. Beliau Bu Tiah, sosok yang selalu membuatnya bersemangat untuk hidup.

Tanpa sadar, kini kakinya sudah berdiri di depan sebuah tembok bercat putih bersih. Tembok kelulusan namanya, karena tiap kali kelulusan maka tiap murid wajib memberi coretan kecil di sana dan akan dicat ulang untuk dipakai tahun depan. Dion pun pernah turut meramaikan tembok itu di saatnya lulus.

Bukan, bukan kenangan indah saatnya mencoret yang membuat Dion ingin mengingat lagi. Otaknya kini bergulir ke masa lalu, masa saatnya dulu mencari sekolah lanjutan.

*

“Yon, mau lanjut kemana?” tanya Bu Tiah. Kini keluarga besar Bu Tiah ditambah beberapa anak yang tinggal di sana termasuk Dion, berkumpul di depan teras sambil bersenandung kecil. Sekedar hiburan di akhir minggu.

“Lanjut apanya Bu?” tanya Dion balik, membuat semua yang ada mendecak gemas.

“Lanjut sekolah tho ya… Kamu ini udah mau lulus SMP kok nggak mikir buat SMA…” celetuk Artha, membuat Dion tersenyum kaku.

“Kan Dion udah nurut Ibu, ikut tes beasiswa yang lima sekolah itu…” jawabnya datar, sambil mengingat tes yang diikutinya minggu lalu.

Dion memang mengikuti tes seleksi beasiswa untuk masuk 5 sekolah terbaik di kotanya. Itu juga karena paksaan Bu Tiah yang gemas dengan sikap Dion yang terlalu masa bodoh dengan kelanjutan pendidikannya.

“Pengumumannya kapan?” tanya Artha.

“Besok, katanya langsung dikirim ke peserta…” jawab Dion lagi-lagi datar, membuat seakan semua kompak setuju untuk mengganti topik pembicaraan.

*

“Dion!!!!”

Bu Tiah berlari kecil ke arah Dion yang duduk manis di perpustakaan, membuat Dion segera bangkit dan mendekati Bu Tiah.

“Ada apa Bu?” tanya Dion dengan muka tak bersalah.

“Ini, baca ini. Kamu juara satu! Kamu bebas masuk SMA mana aja!” Bu Tiah dengan semangat mengatakannya. Dion hanya terperangah, tak percaya dengan kenyataan yang baru saja terucap. Tanpa mengurangi rasa sopan, Dion mengambil selebaran yang digenggam erat oleh Bu Tiah dan dibaca isinya.

Mendadak Dion merasa sekelilingnya begitu ringan. Beban yang secara tak langsung ikut membebani pundaknya kini hilang entah tertiup angin atau terhempas badai. Digulungnya selebaran itu dan dipeluknya erat Bu Tiah.

“Makasih Bu! Karena Ibu, Dion jadi semangat belajar. Dion nanti bakal ngelanjut ke SMA 1 Bu, nggak usah pakai biaya sampai lulus! Makasih Bu!”

*

Lunas sudah segala kenangan Dion di sekolah ini. Kini Dion berdiri menghadap ruang guru, berniat masuk untuk mencari seseorang yang dirindukannya setengah mati. Seseorang yang juga membuatnya tak merasakan lelah perjalanan Bandung-Blora tadi malam. Kakinya bergegas masuk ke ruangan yang luas itu.

“Assalamu’alaikum…” sapa Dion pelan, membuat beberapa guru menoleh padanya. Dengan senyum kikuk, dia melangkah menuju seseorang yang duduk tanpa sedikitpun tertarik pada salamnya.

“Assalamu’alaikum, Bu Tiah… Dion pulang Bu…” ucapnya pelan, membuat orang itu menoleh sekaligus terkaget melihatnya. Tak salah lagi, ini Bu Tiah.

“Wa’alaikumsalam… ini Dion?” ucap Bu Tiah tak percaya, membuat Dion langsung mengambil sesuatu dalam ranselnya. Sesuatu yang sangat ingin ditunjukkannya pada Bu Tiah.

“Ini bukti kalau saya Dion, Bu. Ibu mau ya, datang ke acara wisuda saya?” tanya Dion sambil menyerahkan surat. Bu Tiah membuka surat itu dan membacanya pelan. Matanya berkaca-kaca begitu selesai membaca isinya.

“Kamu cum laude, Yon?” tanya Bu Tiah dengan suara bergetar. Dion hanya mengangguk dan tersenyum.

“Dan Dion mau, Ibu yang datang ke wisuda Dion nanti. Dion pengen Ibu bangga, punya anak lulusan ITB, cum laude pula!” sahut Dion lalu memeluk tubuh Bu Tiah yang sudah dimakan jaman. Perlahan, riuh suara tepukan tangan mengiringi tangisan haru Bu Tiah dan senyum simpul seorang Dion.

Ya, bocah ajaib nan cuek berat itu kini sudah membanggakan dirinya, sekelilingnya, juga hidupnya. Sekalipun kenangan-kenangan masa lalu ikut mewarnai harinya, toh dia sudah memberi bukti. Tugasnya kini hanya melanjutkan hidup. Tanpa takut, tanpa gentar.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s