Cerpen · Fiksi

The End

Langkah gontai menemaniku melewati deretan ruko-ruko kecil ini. Mataku sudah tak awas, sehingga langkahku terus menabrak. Ah, tidak. Bukan menabrak tapi menembus. Tak ada yang mempedulikanku, karena mereka tak melihatku…

*

14 Februari 2012, Ruang VIP, Rumah Sakit

Ibu dan Ayah Nampak sibuk merapikan bawaanku. Abangku, Joan pun ikut sibuk. Aku hanya menatap mereka dari atas ranjang besi ini. Lemas untuk bergerak.

“Akhirnya kamu pulang, Roy…” celetuk Bang Joan sambil menyenggol pelan bahuku.

Ndak ado[1] yang tak ingin pulang. Badanku sajo[2] yang tak sembuh-sembuh,” balasku dengan dialek Minang, daerah Ibuku berasal. Bang Joan dan yang lainnya hanya tertawa melihatku sudah bisa bercanda.

Ya, aku mengalami kecelakaan motor yang cukup parah 2 minggu lalu. Kata Ibu sih, aku koma empat hari dan sempat kehabisan darah di hari ketiga karena pendarahan hebat di otakku. Sialnya aku, tubuhku (yang kata Ibu juga) menolak donor dari kedua orang tuaku juga Bang Joan sendiri.

Sangat beruntung karena di saat aku berdiri di ambang kematian, seorang pemuda datang dan bilang ia ingin menodonorkan darahnya untukku. Jangan tanya bagaimana perasaanku karena aku sendiri tak sadar saat itu. Yang jelas, tubuhku langsung menerima donor darah itu. Dan kini, aku sudah bisa beraktivitas lagi, hanya saja tidak seheboh biasanya.

“Ini hari valentine ya? Aku baru sadar,” ucapku sambil melihat kalender di dinding. Semua menatapku penuh senyum.

“Selamat ulangtahun sayang…”

*

Kembali pada masaku sekarang. Hiruk pikuk tempat ini tak kunjung membuatku semangat. Kepalaku terus tertunduk, bahkan cenderung menutup mata. Aku tak sanggup, aku tak sanggup…

*

1 Maret 2012, Sekolah

“Roy!!!”

Pekikan seorang gadis membuatku yang susah payah berjalan menggunakan kruk langsung menoleh. Nampak seseorang yang tinggi dan… cukup cantik berlari ke arahku dengan mata berbinar. Hey, apa bocah ini dapat lotere kalau melihatku?

“Ada apa?” tanyaku begitu gadis bernama Yuri ini sudah berdiri di sampingku.

“Nggak apa-apa, kangen nggak ada yang nyontekin aku ulangan kimia sebulan ini,” jawabnya polos sambil pamer senyum. Yuri langsung meraih tangan kiriku yang bebas dan menaruhnya di bahu kurusnya.

“Kamu kira aku otak komputer apa?” omelku sambil melayangkan sedikit jitakan di dahinya. Yuri hanya tertawa kecil, menambah kenangan manis di hari pertama aku kembali sekolah.

Dan yang terjadi selanjutnya adalah Yuri membantuku berjalan sampai di kelas. Ia mendudukkanku di kursinya dan ia duduk di kursiku yang notabene bersebelahan langsung. Aku mengernyitkan dahi, tak paham maksud gadis ini.

“Kakimu kan masih proses penyembuhan, jadi jangan di dekat jalannya anak-anak. Kamu deket tembok aja,” Yuri seakan membaca otakku. Aku hanya tersenyum masam. Aku ini teman sebangkunya atau adiknya atau malah anaknya sih?

“Dan lagi, selamat ulangtahun…” ucap Yuri sambil menyodorkan sesuatu.

Sapu tangan?

*

Kali ini aku sedikit tersenyum. Mengingat Yuri yang begitu perhatian padaku membuat langkahku sedikit lebih bertenaga.

“Aduh…” rintih seseorang yang terjatuh sekitar 3 meter di depanku. Aku langsung berlari mendekat dan melihatnya.

“Badannya lemas, suhu badannya tinggi. Cepat panggil ambulans!!!”

Badannya lemas, suhu badannya tinggi…

            Seketika aku kehilangan semangatku lagi. Aku tiba-tiba ikut terjatuh dan menutup wajahku sepenuhnya dengan telapak tangan. Tidak! Tidak!

*

25 Mei 2012, lari sore

Yeay! Rasanya bahagia sekali bisa lepas dari kruk! Ini sudah seminggu sejak aku membuang krukku ke sembarang tempat. Kakiku sudah sembuh total. Kini aku sudah bisa sedikit lari-lari sore di sekitar rumahku, seperti yang kulakukan sekarang.

“Fiuh!”

Aku menghembuskan nafas kuat sambil beranjak duduk di pinggir lapangan kompleks sambil menyeka keringat. Tanganku memegang kening, karena sedikit pusing. Akh, mungkin efek obat yang kuminum dua jam lalu. Sedikit istirahat pasti sembuh.

Tapi nampaknya aku salah. Kepalaku justru makin pusing setelah aku mencoba bersandar di pohon yang cukup rindang. Akhirnya aku memutuskan untuk pulang. Percuma kalau di sini terus. Kalau pingsan tak ada yang mengangkutku sampai rumah.

Di Rumah

            Sial! Sial! Kenapa pusingku makin parah?! Aku sudah mandi, aku sudah mengganti pakaianku, aku sudah menidurkan diri di atas kasurku di lantai dua. Tapi kenapa justru rasanya kepalaku makin tak menyenangkan. Dokter bilang pengaruh obat paling lama tiga jam setelah diminum, lalu kenapa aku masih menderita padahal sudah lebih dari empat jam lalu aku menegak semua obat?

Dengan sedikit memaksa, aku turun ke dapur dan memanaskan air. Mungkin kalau aku dengan minum susu pusingku bisa berkurang. Haish! Di saat seperti ini, kenapa tak ada keluargaku yang di rumah?! Ayah di kantor, Ibu entah kemana, dan Bang Joan latihan basket.

Sama saja. Aku masih merasakan pusing, malah sekarang cenderung sakit. Baiklah Roy, kau harus mandiri hari ini!

“Pak Mir! Pak Mir!” panggilku setelah kembali ke kamar dan mengambil jaket juga sedikit merapikan diri.

“Ada apa, Den?” tiba-tiba Pak Amir, supir keluargaku, muncul di depan pintu kamarku.

“Antar Roy ke rumah sakit Pak, tapi nggak usah bilang yang lain,” pintaku lalu segera keluar dari kamar sambil memegang dompet. Pak Amir segera menyusul di belakangku.

 

 

Rumah sakit

            “Hasil lab akan keluar besok karena sebenarnya hari ini klinik lab libur. Untuk sementara saya beri obat dulu, tak apa kan Roy?”

Aku hanya mengangguk malas menyahuti ucapan dokter. Rupanya dokter sedikit curiga dengan kondisi tubuhku, makanya aku diminta tes lab. Lakukan apa saja sesukamu Dok, asal cepat buat pusingku reda!

“Saya bisa pulang sekarang Dok?” tanyaku sambil menyodorkan beberapa uang lembaran pada dokter yang cukup tua ini. Beliau menatapku lembut, mendorong pelan tanganku.

“Besok saja uangnya. Sekarang kamu bisa pulang, ini obat sementaranya…” Dokter itu masih menatapku lembut sembari menyodorkan sekantung obat. Aku mengangguk pelan dan segera memohon diri.

26 Mei 2012, Sekolah

            Aku membereskan bukuku cepat sambil terus menyeka keringat yang tak berhenti mengalir di keningku. Astaga, kenapa keadaanku makin miris begini?

“Kamu sakit?”

Tiba-tiba tangan Yuri menyeka keringat di dahiku dengan… sapu tangan yang sempat kutolak bulan lalu. Sapu tangan yang Yuri berikan untukku. Langsung saja aku menarik kepalaku.

Gwenchanayo[3], kamu pulang duluan aja,” cegahku. Yuri terkikik pelan.

“Aku nggak nyangka kamu pake istilah Korea segala. Aku tahu aku keturunan sana, tapi aku masih ngerti bahasa Indonesia kok!” canda Yuri lalu segera berdiri. “kamu yang nolak ya. Aku duluan!” lanjutnya lalu segera keluar dari kelas. Aku hanya menatap punggungnya dari sini. Kenapa kau baik sekali padaku???

Rumah Sakit

            “Tuan Roy!”

Aku langsung berdiri begitu mendengar suara petugas lab yang kemarin meneliti sample darahku. Petugas wanita itu sedikit mengernyitkan dahinya. Heran padaku?

“Iya, saya sendiri. Hasil lab saya mana, Mbak?” tanyaku memecah keheningan yang tercipta antara kami. Petugas itu justru menunjukkan jalan padaku.

“Dokter Gandi yang menjelaskan hasil lab ini,” kata petugas itu sambil membukakan pintu untukku. Aku mengangguk dan segera masuk.

*

Aku masih terduduk lemas dengan wajah sepenuhnya tertutup. Ingatan kelam itu membuatku jatuh. Ingatan yang seketika merubah hidupku. Ingatan yang seketika membuatku menjauh dari seluruh makhluk bernama manusia. Ayah, Ibu, Bang Joan, bahkan Yuri, aku menjauh dari mereka.

            “Berdasar hasil lab ini, anda positif mengidap AIDS. Maaf sebelumnya, apa anda sempat terjerumus pergaulan bebas?”

Kalimat itu terus terngiang di telingaku. Kalimat yang membuatku menyesal seumur hidup pernah kecelakaan. Kalimat yang membuatku merutuki nasib kenapa harus menerima donor darah waktu itu.

           “Dokter jangan sembarangan bicara! Saya tidak pernah hidup dalam lingkungan bejat seperti itu!”

           “Tolong jaga emosi anda. Maaf jika pertanyaan tadi membuat anda tersinggung. Jika tidak pernah, apa anda sebelumnya menerima donor darah?”

           Aku seketika membeku mendengar ucapan dokter muda ini. Lidahku tak sanggup untuk sekedar mengucapkan kata ‘tidak’. Aku begitu kaku.

          “Karena ini masih awal, setidaknya perkembangannya bisa dihambat. Saudara wajib checkup minimal sekali sebulan. Karena AIDS belum ada obatnya, jadi kami akan berusaha membuat system imun anda lebih kuat…”

Setelah itu aku tak lagi mendengar apa yang diucapkan dokter. Telingaku tuli, otakku penuh dengan sumpah serapah untuk pemuda yang mendonorkan darahnya untukku, benakku tak henti bertanya kenapa dulu tak ketahuan kalau pemuda itu mengidap AIDS. Jiwaku tergoncang. Seketika aku benci pernah dilahirkan ke dunia.

*

6 Juli 2012, rumah

            “Lu kenapa sih?! Gua nggak kenal lu yang sekarang! Lu bikin gua lupa gimana sifat adek gua dulu! Bahkan gua lupa gua punya adek atau nggak!”

Seruan Bang Joan mengiringiku beranjak ke kamar. Dalam diam aku terus melangkah tanpa sekalipun menoleh setelah tadi aku menepis tangannya yang berusaha mengacak rambutku.

Brak!

Aku membanting pintu kamar lalu merosot jatuh. Airmataku turun. Aku tak ingin hidup seperti ini. Hidup menyendiri, menjauh dari semua orang.

Ya, sudah dua bulan lalu dokter memvonisku mengidap penyakit terkutuk ini! Dan dua bulan sudah aku terus menghindar dari semua orang. Ayah, Ibu, Bang Joan, semuanya kujauhi tanpa memberi alasan barang satu katapun. Aku tak sanggup cerita mengenai ini semua. Tidak!

Tok tok tok!

“Roy, keluar yuk? Hari ini ulangtahun Ayah…”

“Nggak! Jangan suruh Roy keluar! Roy pengen hidup sendiri!!!”

Aku berteriak sambil menangis pelan. Maafin Roy, Bu…

7 Juli 2012, sekolah

Aku duduk memojokkan diri di ruang drama. Meringkuk layaknya bayi tak berselimut. Aku memandangi tanganku yang makin hari kian mengurus layaknya tulang berbungkus kulit. Hilang sudah tubuh idealku dulu.

“Roy…”

Aku menundukkan kepala. Dia mendekat.

“Roy…”

Kepalaku terbenam sempurna di balik lututku yang terlipat. Aku tahu dia siapa.

“Roy, ini alasanmu menjauh dari semua orang?”

Kepalaku langsung terdongak begitu mendengar pertanyaan Yuri. Bingo! Aku mendapati amplop coklat ukuran besar yang biasa bersarang di ranselku kini tengah tergantung manis di antara jemari Yuri. Sontak aku berdiri dan merebutnya.

“Kau membacanya?” tanyaku. Dia hanya tersenyum dan mendekat, membuatku makin meringkuk. Menghindari kontak fisik antara kami.

“AIDS nggak menular lewat sentuhan,”

Mataku memandangnya heran. Berusaha mengetahui bagaimana Yuri yakin akan hal ini. AIDS bukan penyakit main-main. Aku tak mau orang disekitarku tertular. Tidak!

“Hubungan seks, jarum suntik tidak steril, donor darah, ibu dan anak, hanya itu. sekedar menyentuh tak akan menular. Sepupuku menderita penyakit yang sama denganmu,” Yuri menyentuh lenganku sambil menatapku yakin. Tak ada bentuk kebohongan di sana.

Yang terjadi selanjutnya adalah Yuri menarikku menuju kelas. Tak peduli dengan tatapan anak-anak yang menatap kami tanpa henti, ia terus menarikku dengan senyum yang tak pernah lepas dari wajahnya. Seakan dia berkata, “Roy temanku, sekarang dan selamanya…”

“Berhenti!” bentakku sambil menghempas tangannya.

“Kenapa Roy?”

“Kamu!” aku menunjuk tepat pada wajahnya sebelum menarik nafas panjang, “Kamu nggak pantes punya temen selemah aku!”

Aku langsung berlari tanpa peduli teriakan Yuri yang terus terngiang di telingaku. Cukup! Jangan buat aku terus menyesal!

*

Perlakuan Yuri waktu itu terus membuatku tak henti menyesal. Aku memang terlalu takut untuk hidup di sekitar orang yang menyayangiku dan kusayangi dengan penyakit terkutuk ini. Aku tak mau mereka tahu hampir setiap hari aku meringkuk kesakitan sampai tak mampu bangkit. Aku tak mau mereka khawatir padaku yang kian mengurus. Aku hanya ingin mereka tahu aku masih hidup, aku masih hadir di dunia, aku masih masuk sekolah, dan aku masih… bernafas.

Tapi tak selamanya aku bisa terus bersembunyi di ruang drama atau meringkuk di kamar. Aku harus tetap keluar untuk menunjukkan kehadiranku. Mereka semua harus tetap tahu, aku masih memberi perhatianku pada mereka. Aku tahu Ayah sempat drop melihat tingkahku. Aku tahu Ibu sering menangis hanya karena ingin makan bersamaku. Aku tahu Bang Joan tak henti membanting pintu kamar saking bencinya ia terhadapku yang sekarang. Dan aku tahu, Yuri masih terus berusaha mencari alternatif untuk kesembuhanku. Satu pertanyaan, apa aku masih pantas diberi perhatian sederas itu?

“Minggir semua! Ini bawa orang keadaan gawat!”

Seruan demi seruan perlahan membuatku terbangun. Apa aku menangis? Akh, melihat tanganku yang basah harusnya aku tak usah bertanya ya?

Aku menyingkirkan diri ke tepi. Mataku menatap orang yang diangkut dengan ambulans itu sampai ia hilang bersama ambulansnya. Semoga ia masih diberi kesempatan, setidaknya untuk mengucap terima kasih.

Kakiku melangkah pelan menuju suatu tempat yang kuhafal setengah mati. Tempat yang telah menerimaku selama 15 tahun ini. Rumahku, aku pergi ke sana…

*

31 Oktober 2012, sekolah

Aku yang terbungkus sweater hitam duduk sendirian di pinggir lapangan sekolah sambil melihat anak-anak yang bermain basket. Doni, kapten basket yang menggantikan posisiku sejak aku kecelakaan delapan bulan lalu, tampak bermain dengan penuh semangat. Aku merindukan posisi itu…

                “Roy! Terus Roy! Terus!”

                Seruan seluruh kawanku membuat semangatku berkobar. Bola basket yang kupegang ini tak henti memantulkan dirinya mematuhiku. Kurang satu meter.

               “Shoot! Yeay!!!”

                Gemuruh pun terdengar di stadion ini seiring dengan bunyi peluit tanda berakhirnya pertandingan. Senyumku berkibar penuh arti. Seluruh timku memeluk serta melempar tubuhku ke atas langit-langit. Sambil tertawa, aku melihat ke arah penonton. Mereka masih di sana. Ayah, Ibu, Bang Joan, dan Yuri.

Tak mungkin aku berdiri di tengah lapangan itu sekarang. Hey Roy! Kau sudah lemah! Kau kalah dengan penyakit! Sekarang kau tak lebih dari banci yang bahkan akan langsung lari andai bola menggelinding mendekat. Pecundang!

“Nggak selamanya kamu bisa seperti ini,”

Muncul Yuri duduk di sampingku. Aku tak menghindar. Oh, tepatnya berusaha tak menghindar. Yuri melirikku, lalu ikut larut dalam permainan Doni dan timnya.

“Ngapain kamu deket-deket anak AIDS?” tanyaku ketus. Ia tertawa pelan.

“Jangan keras-keras. Kau takut mereka tahu hal ini kan? Kau takut mereka menjauh, kau takut dicap sebagai anak pergaulan bebas. Otakmu terlalu mudah dibaca,” jawabnya datar tanpa menoleh sedikitpun padaku. Aku segera berdiri, hendak melangkah namun keburu tertahan oleh tangan Yuri.

“Hidupku tinggal sebentar lagi, Ri! Jangan bikin aku terus-terusan nggak bisa ngelepas kalian!” bentakku padanya, membuat beberapa orang menatap kami berdua. Aku tak peduli.

“Kalau begitu biar aku bikin hari-hari terakhirmu sedikit punya harga! Harga yang sebanding andaikan kamu meninggal hari ini juga! Bisa kamu terima ini sedikit Roy?!”

Yuri balas membentakku dengan mata berkaca-kaca. Pegangannya menguat di lenganku. Semuanya kini menyingkir, termasuk bocah-bocah yang tadi bermain basket.

“Please Roy, give me a chance…” isak Yuri. Aku menengadahkan kepalaku ke atas langit biru. Mencoba menatap biru ceria di atas sana. Perlahan, tanganku terbuka dan lenganku memeluk Yuri pelan. Entah, rasa takut yang sering menahanku menyentuh manusia lain kini hilang seketika saat aku memeluknya.

“Lakukan itu sekarang…” ujarku pelan.

Rumah

Yuri melangkah ragu saat tanganku menariknya ke ruang tamuku. Matanya celingukan kesana-kemari, membuatku tertawa kecil. Eh? Tawaku yang pertama kah?

“Tunggu bentar, aku ganti baju bentar ya!” pintaku sambil mendudukkannya di sofa. Aku bergegas lari ke kamar untuk melepas seragam.

Tak sampai sepuluh menit aku sudah kembali ke ruang tamu. Yuri (masih dengan wajah canggungnya) langsung berdiri menyongsongku.

“Kenapa pakaianmu… setebal itu?” tanya Yuri ragu. Aku tersenyum kecil.

“Supaya nggak begitu ketahuan kalau aku kena AIDS. Ayok! Jam lima nanti semua udah pulang, masih ada tiga jam!” aku langsung menarik tangan Yuri lagi. Kami akan keluar membeli makan malam hari ini. Yuri begitu baik mau menemaniku. Aish! Kau terlalu baik untuk jadi teman!

19.00 WIB

“Aku pulang aja deh…”

“Nggak! Kamu pulang habis makan di sini!”

“Roy…”

“Nggak!”

Aku dan Yuri terlibat aksi tarik-menarik di depan rumahku. Kami baru saja pulang dari berbagai tempat dan tangan kami penuh dengan tas belanja. Ada kotak berisi hadiah yang kurencanakan akan kuberikan untuk orang rumah, ada tas berisi hadiah untuk Yuri yang kupaksakan dia untuk menerimanya, ada makan malam, dan berbagai barang lain.

Yuri ingin kabur begitu saja begitu kami tiba di rumah. Tentu saja aku tak membiarkannya pulang. Setidaknya ia harus ikut makan malam bersama keluargaku.

“Roy! Ngapain?!”

Tiba-tiba Bang Joan muncul di depan kami. Sontak aku melepaskan tarikanku dan…

Bruk!

“ROY!!!!!”

Aku masih bisa melihat Bang Joan ikut menutup telinga bersamaku mendengar pekikan Yuri yang terjatuh gara-gara aku melepas tarikanku sembarangan. Yuri menatapku ketus. Muncul Ayah dan Ibu.

“Astaga Roy! Kamu apain anak orang? Udah ngelarang Bi Nung masak, tiba-tiba ilang, sekarang malah banting cewek?”

“Nggak Yah! Yuri jatuh sendiri!” aku membantah tuduhan Ayah yang jelas terdengar nada candaannya itu.

Setelah aku membantu Yuri berdiri, kami masuk ke rumah, menata makanan yang kami beli tadi, serta kami (aku, Ayah, Ibu, Bang Joan, dan Yuri) sudah duduk manis di meja makan, aku yang duduk di kursi pojok pun mulai memecah keheningan.

“Roy… Roy minta maaf beberapa bulan ini udah berubah drastis. Itu karena sebenarnya Roy……”

“Itu karena Roy pengen nunjukin kalo Roy bisa mandiri. Eh, malah kebablasan. Ya kan Roy?”

Yuri menatapku tajam begitu melihat gelagatku yang hendak membantah kalimatnya yang tiba-tiba memotong pengakuanku tadi. Aku tak mengerti, dia yang menyuruhku bangkit, tapi kenapa giliran mau mengaku Yuri mendelik?

Tapi kelihatannya yang lain tak peduli kalau sebenarnya bibirku belum selesai berucap. Mereka terlihat menikmati makanannya.

“Yang penting Roy udah kembali. Ya kan Jo?” celetuk Ibu. Bang Joan yang asyik mengunyah pun asal mengangguk.

“Kalo yang ini gua kenal,” sahutnya sambil mengacak rambutku. Aku hanya tersenyum.

Acara makan akhirnya selesai. Yuri segera mohon pamit setelah membantuku menaruh piring kotor di dapur. Seluruh keluargaku mengantarnya sampai pintu depan.

“Jangan sungkan kesini lagi!” suruh Ibu. Yuri tersenyum simpul.

“Hati-hati, lagi razia orang jelek!” ledekku sambil melet. Seketika aku merasa Bang Joan menjitak kepalaku. “Sembarangan!” omelnya.

Di sela pamit Yuri, tiba-tiba aku seperti dihantam palu godam tepat di tengkukku. Badanku terhuyung jatuh karena sakit dan pusing yang bercampur jadi satu. Aku melihat cahaya terang yang seperti menarikku. Masih terdengar jelas teriakan Ibu.

“Roy! Buka matamu Roy!”

Buka mata gimana? Mataku masih kebuka kok?!

*

1 November 2012, hari ini

                 “Putra kedua dari Alex Simanjuntak, pemilik Rocky Group, meninggal tadi malam. Menurut berita yang tersiar, Roy meninggal karena penyakit AIDS. Namun keluarga besar membantah dan menyatakan kalau penyebabnya adalah pendarahan di otaknya akibat kecelakaan yang sempat menimpanya delapan bulan lalu. Rencana Roy akan dimakamkan hari ini pada pukul sebelas siang nanti…”

Sepintas berita yang kudengar tadi pagi terus terngiang di telingaku. Roy Simanjutak meninggal, tapi Roy Simanjuntak juga sedang berdiri tepat di depan gerbang rumahnya. Alex Simanjuntak itu ayahku. Beliau pemilik Rocky Group, perusahaan marketing yang cukup besar di kota ini.

Ya, aku sudah meninggal. Tepat tadi malam setelah makan malam bersama semua anggota keluargaku juga Yuri. Kini rohku saja yang berjalan tanpa beban. Roh yang secara konyol bisa merasa sakit, merasa tertekan, juga merasa bersalah dalam waktu tak lebih dari setengah hari.

Aku tak tahu, aku meninggal karena AIDS atau penyebab lain. Eh, sampai aku terjatuh tadi malam tak ada yang tahu kalau aku mengidap AIDS selain dokter juga Yuri. Mungkin saja setelah itu Yuri menceritakan semuanya. Haish! Anak itu!

Tapi, apapun itu, aku tetap berterima kasih padanya. Tanpa dia, belum tentu aku sempat menikmati makan malam sehangat tadi malam. Tanpa dia, belum tentu aku sempat belanja. Semoga ia menunjukkan kotak yang kusiapkan untuk orang rumah.

Rasanya terima kasih dan maaf tak cukup untuk membayar ini semua pada mereka yang telah memberi ruang cukup untukku sebagai kenangan. Mungkin harusnya aku hidup lagi dan menunjukkan rasa terima kasihku yang terlanjur berjubel di otakku.

Baiklah Roy, waktunya kembali ke tempatmu seharusnya! Tenang saja, mereka akan terus mengingatmu sebagai si anak bungsu, bukan si pecundang AIDS yang terus menyembunyikan dirinya. Selamat tinggal semua, aku akan masuk ke dunia baru yang abadi. Ini akhir kehidupanku yang sekarang dan awal di hidupku yang lain. Yes, it’s…

The Begin


[1] Tidak ada

[2] saja

[3] Nggak apa-apa

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s