Fiksi

The Horse

            Lelaki itu berdiri tegak dengan wajahnya yang tegas. Matanya menatap tajam ke arahku sambil mengacungkan nggaris besi yang cukup untuk memecah semangka menjadi kepingan kecil. Aku hanya menunduk. Aku ketakutan.

            “Kau tahu apa kesalahanmu?” tanyanya dengan suara yang membuatku gemetar. Tanganku menggenggam erat tali kekang kuda yang menjadi sumber masalah hari ini.

“Maaf…” meluncurlah kata dengan ekspresi yang sulit kujelaskan dari mulutku itu. Sungguh! Aku tak pernah berusaha terlihat dingin!

“Bagus! Belajar dari siapa ngomong begitu? Hah!” kepalaku terdongak dan aku sangat yakin mataku terlihat berkilat-kilat.

“Aku hidup sama siapa?! Kenapa masih tanya siapa yang ngajarin?! Siapa lagi yang pernah kudengar suaranya selain keluarga ini dan kuda-kuda penuh masalah itu?!”

Plak!!!

Tamparan keras menghampiri pipiku tanpa ragu. Sungguh, aku tak pernah punya keinginan untuk bicara segamblang tadi! Aku hanya berniat bilang kalau aku hanya pernah bicara dengan orang di keluarga ini. Tak ada yang lain. Kenapa?

Tanyakan pada pelakunya saja. Aku korban.

“Asal kamu tahu saja, harga Brey jauh lebih mahal dari harga hidupmu! Kamu itu sudah anak yang tak diharapkan, bikin susah, nggak punya sopan santun lagi! Sana! Bersihkan Brey!”

Kakiku melangkah malas sedangkan tanganku dengan pintarnya melempar tali kekang tadi ke arah lelaki yang membentakku tadi. Telingaku serasa tuli untuk mendengar umpatan-umpatan yang muncul akibat lemparanku. Aku benar-benar lelah.

Langkahku begitu cepat sehingga aku tak merasakan letih sama sekali untuk sampai di kandang Brey, kuda impor yang harganya cukup untuk merenovasi rumahku menjadi rumah konglomerat. Ajaib sekali keluargaku. Demi seekor kuda mereka dengan mudahnya merelakan uang sebesar itu. Dan bukankah tadi jelas, harga Brey masih lebih tinggi daripada harga hidupku.

Kuda hitam besar itu mendengus pelan sambil menggosok badannya di tumpukan jerami. Ia terlihat kotor akibat tercebur lumpur tadi.

Hanya lumpur dan itu cukup menjadi alasan untuk membentakku habis-habisan.

Kupandangi tubuh Brey tanpa jeda, lalu kualihkan pandanganku ke arah tubuhku sendiri. Apa yang bisa kubandingkan? Mata Brey jauh lebih menarik daripada mataku. Telinga Brey mencuat, telingaku tak ada apa-apanya. Rahang Brey terlihat kokoh, sedangkan rahangku seakan menyimbolkan kerapuhanku. Otot Brey yang kekar, coba saja bandingkan dengan ototku yang tak jauh lebih besar dari tongkat baseball. Keseluruhan Brey sangat sempurna, sementara keseluruhan diriku tak akan bisa melebihi cukup. Selalu jauh. Selalu kurang.

Brey menatapku penuh curiga saat aku mendekat. Dikibaskan ekornya ke segala arah. Aku hanya mendekat, lalu mengambil seutas tali kekang lain yang bertengger di dekat Brey. Brey meringkik, sayangnya aku tak peduli. Kuda ini tak pernah mau diikat, tapi kali ini ia harus menurutiku.

“Diamlah, Brey! Cukup hari ini kau buat Ayah memarahiku habis-habisan! Turuti apa mauku!” bentakku. Brey menatapku, namun bukan tatapan curiga. Tiba-tiba ia mendekatkan moncongnya kepadaku dan diam di sana.

Aku tahu, kuda ini pun tak pernah mengerti apa yang dilakukannya. Ia hanyalah seekor hewan yang mencoba mencari kebebasan juga kasih sayang. Hey! Kurang kasih sayang apalagi? Brey mendapat kandang yang lebih luas daripada kuda yang lain. Ia selalu mendapat jatah rumput yang lebih hijau, juga dedak yang benar-benar berkualitas tinggi. Jika yang lain cukup dimandikan dua hari sekali, maka Brey wajib disiram sehari dua kali dan disikat sehingga bulunya berkilau.

Entah mendapat dorongan dari mana, tanganku menyentuh puncak kepala Brey. Kutepuk beberapa kali sehingga kuda itu kegirangan sendiri. Ajaibnya, semua kemarahanku tadi lenyap setelah melihat Brey tak lagi menatapku curiga. Ia menjadi kuda penurut.

“Baiklah Brey, kau mengingatkanku pada Bang Siwon. Sekarang cepat bergerak dan aku akan menggosok badanmu,” ucapku sambil memasang tali kekang ke leher kuat Brey. Kuda itu seperti mengangguk lalu mengikuti langkahku menuju sumur.  Tanganku sudah menggenggam sikat juga seember hasil bakaran jerami yang kugunakan nanti untuk menggosok Brey.

Begitu sampai, langsung saja kuikat tali kekang Brey di tiang sumur. Sambil menimba, aku mencoba mengajaknya bicara.

“Brey, apa kau tahu aku ini siapa?” tanyaku. Brey hanya mendengus, mungkin menunggu badannya disiram. Aku tak peduli.

“Aku anak dari orang yang sudah membelimu. Hahaha… sebenarnya aku bertanya-tanya sendiri. Apa benar aku anak mereka? Kalau iya, bagaimana bisa mereka menyuruhku tidur di kandang kuda bersamamu? Bagaimana bisa mereka hanya mengantar tiga tangkup roti, sebotol susu, dan seceret air untuk menu makanku sehari padahal mereka menyuruhku mengurus puluhan kuda termasuk kau? Mereka hanya mau di rumah, melayani pembeli kuda. Bahkan aku tak sempat sekolah dan Ibu hanya mengajarku baca tulis juga sedikit ilmu berhitung,”

Byur…

Tubuh Brey telah basah sepenuhnya. Kuda itu meringkik riang sementara tanganku mulai menggosok badan besarnya. Sebenarnya aku sedikit menyesal. Bagaimana bisa Brey yang baru kumandikan kubiarkan bermain di dekat kubangan lumpur? Jelas saja lumpur itu muncrat kemana-mana. Sialnya, Ayah datang tepat saat Brey terperosok dan tak kuat naik.

“Beruntung Ayah tak memukulku dengan penggaris itu. Hah! Aku jadi ingat Bang Siwon lagi. Brey, apa kau mengenal Bang Siwon?” tanyaku (lagi) pada Brey. Kuda itu diam saja.

“Tentu saja kau tak mengenalnya. Waktu itu kau baru sehari di sini dan Ayah mengusir kakakku satu-satunya hanya karena salah menempatkan kuda. Astaga! Apa orang tuaku tak pernah mau punya anak? Sembarangan sekali mengusir anaknya! Dan asal kau tahu saja, Ibu justru tak tahu kalau Bang Siwon pergi. Ia mengira Bang Siwon ikut hidup bersamaku di kandang kuda. Orang tua macam apa itu?!”

Kulanjutkan makianku sampai badan Brey benar-benar bersih dari lumpur. Tapak kakinya bahkan mengilap karena aku benar-benar menggosoknya dengan cermat. Mungkin aku memandikan Brey hampir dua jam lebih. Kuda hitam yang beruntung.

Aku menuntun Brey kembali ke kandangnya setelah membersihkan areal sumur yang kotor gara-gara Brey. Kuda ini tak pernah mau dinaiki kalau badannya belum benar-benar kering. Sok sekali! Terpaksa aku berjalan lagi. Melihat matahari yang bersinar sedemikian terik, aku berpikir sudah saatnya aku makan siang.

Langsung saja kutambatkan Brey di kandangnya dan kuambil setangkup roti dari keranjang makanku. Aku sudah memakan setangkup pagi tadi dan kusisakan setangkup lainnya untuk malam nanti. Hanya sebesar telapak tangan dan roti itu hanya diolesi sedikit madu. Tak apa, masih lebih baik daripada harus ikut makan jerami bersama kuda-kuda kesayangan orang tuaku. Kuraih botol susu yang isinya tinggal setengah dan segera kutegak sampai habis. Brey mengibasku dengan ekornya.

“Tunggu sebentar Brey, setelah hilang lelahku, kujamin kau kuberi dedak setengah ember,” ucapku sambil menyelonjorkan kaki dan bersandar di papan dinding kandang.

Brey diam saja. Ia terus mengibas ekor dan meringkik tak jelas. Dalam lelah yang seakan betah sekali di tubuhku, aku segera berdiri dan merebus sepanci besar air. Kutuangkan dedak dalam jumlah besar ke dalam ember. Brey terlihat senang.

Aku tak membenci Brey. Mungkin justru kuda inilah yang paling dekat denganku. Hanya saja, mungkin karena gaya bicaraku yang tak pernah bisa halus menyebabkan kami terlihat jauh.

Begitu airnya mendidih, aku langsung menuangkannya ke dalam dedak tadi. Setelah mengaduknya susah payah, Brey pun akhirnya bisa mencicipi makan siangnya. Kulirik kuda lain yang tengah merumput di tanah lapang kami. Oh, maaf. Yang benar tanah lapang milik orang tuaku.

Begitu besar nafsu makan Brey sampai tak sempat aku melihat caranya makan. Semuanya tandas saat aku mengambil air minum untuknya. Ia terlihat sangat gagah kalau kenyang begini. Kutepuk kepalanya pelan dan Brey terlihat girang.

Entah kenapa tiba-tiba air mataku mengalir tanpa perintah. Tingkah Brey mengingatkanku pada Bang Siwon, kakakku yang terusir. Aku sangat dekat dengannya, sekalipun ia sedikit lebih beruntung dariku. Bang Siwon boleh tidur di ruang dekat gerbang peternakan kuda ini, yang biasa dijadikan pos untuk menyambut para tamu. Ada kasur tipis, bantal, juga selembar selimut di sana. Sedangkan aku benar-benar tidur di kandang kuda. Beralaskan sekaligus berselimutkan jerami yang sudah kuanyam sedemikian rupa sehingga cukup untuk menghangatkanku di tengah malam.

Aku mengerti mengapa Bang Siwon sedikit lebih beruntung. Ia memiliki wajah yang rupawan dan tutur katanya jauh lebih sopan. Tentu saja tamu akan semakin tertarik untuk masuk karena Bang Siwon dengan senang hati akan mengantar sekaligus memberi panduan tentang kuda. Hahaha… dan saat itu terjadi, maka Ayahku dengan tanpa perasaan akan menyembunyikanku di balik kandang kuda yang cacat. Para tamu bisa dipastikan tak akan masuk ke sana karena tak ada yang mau membeli kuda cacat. Bang Siwon berulang kali meminta maaf padaku karena posisi yang tak mengenakkan ini. Tapi sedikitpun tak pernah kuanggap permintaan maafnya, toh bukan dia yang salah. Justru ia dengan senang hati sering membagi jatah makannya yang sebenarnya tak lebih banyak dariku. Dia… mungkin boleh dibilang malaikat yang terusir.

Brey menjulurkan moncongnya mendekatiku. Aku mengusap air mataku dan mendongak, menatap mata kuda hitam ini.

“Mau jalan-jalan?” tanyaku. Brey seakan mengerti maksudku dan aku (sok) mengerti apa maksud responnya. Tanpa ragu kupasang pelana di punggungnya dan aku melompat naik. Berbekal tali kekang, kuarahkan Brey menuju tanah lapang tempat kuda-kuda lain yang merumput.

Brey begitu pintar. Ia hanya mau melewati tempat teduh dan tak tergoda sedikitpun untuk melewati tempat panas sekalipun ada tumpukan rumput segar di sana. Sesekali kami berhenti dan dengan senang hati Brey membiarkanku berdiri di punggungnya untuk memastikan jumlah kuda tak berkurang karena mereka saling berpencar. Kami seperti saudara yang sangat kompak. Baiklah, Brey adalah versi kuda dari Bang Siwon.

“Brey, kau tahu? Aku benar-benar sering berpikir untuk kabur dari sini. Biarlah aku mati di tengah jalan, asal aku tak tersiksa di sini. Aku benar-benar menderita,” tiba-tiba kalimat itu meluncur dari mulutku. Ajaibnya, Brey seperti paham semua yang kukatakan tadi. Ia meringkik, lalu berlari menuju kandangnya sendiri. Nyaris aku terlempar saking kuatnya ia berlari.

“Hey! Brey! Setidaknya aku hanya akan kabur saat malam hari karena aku bisa menyelinap untuk mencuri beberapa bekal di rumah! Aku tak segila itu untuk kabur dengan tangan kosong!!!”

Sekali lagi ajaib! Brey langsung berhenti padahal aku tak sempat menarik tali kekangnya. Kami berhenti sekitar dua meter di depan kandang Brey. Ia terlihat terengah-engah. Kupeluk leher Brey kuat-kuat. Mungkin aku menangis lagi.

“Kau ingin pergi bersamaku?” tanyaku terisak. Brey meringkik.

“Kau yakin?” tanyaku lagi dan Brey masih tetap meringkik. Aku melompat turun dan entah sudah berapa kali kutepuk lehernya hari ini.

“Baiklah, kita pergi setelah malam nanti. Biarkan saja kuda-kuda terlantar itu di lapangan, karena bukan tak mungkin Ayah tak datang besok. Aku tak mau mereka kelaparan. Mengerti?”

Untuk pertama kalinya aku melihat mata Brey berbinar seterang ini. Ia melompat kecil, lalu meringkik riang. Ia berjalan memutariku sambil sesekali mendekatkan moncongnya ke arahku. Aku tertawa saja.

Tunggu! Seingatku ini tawa pertamaku sejak perginya Bang Siwon. Haish! Dasar kuda!

*

Itu cerita hidupku tiga tahun lalu. Cerita di mana malam harinya aku menyelinap masuk ke dalam rumah, mencuri beberapa bahan makanan dan juga setumpuk uang yang kuperkirakan cukup untuk biaya hidup sebulan. Bersama Brey aku kabur dari peternakan, menyusuri jalan desa sampai tengah kota. Aku tak pernah berpikir apakah orang tuaku mencariku atau tidak. Atau mungkin malah mereka mencari Brey, si kuda nakal yang sejak kepergian kami mendadak berubah menjadi seekor kuda yang sebenarnya.

Ya, sejak kami keluar dari peternakan, Brey menunjukkan sikap yang jarang sekali kulihat. Ia tak semanja di peternakan, malah cenderung liar. Kuambil kesimpulan kalau Brey memang liar sejak lahir, lalu ditangkap, dijinakkan sejenak, lalu dijual dengan harga tinggi.  Sekarang Brey sedikit lebih kurus, tapi justru inilah yang membuatnya terlihat sangat tangguh.

Dalam perjalananku, aku bertemu dengan sekelompok orang sirkus yang tinggal nomaden. Mereka berkelana menyusuri berbagai tempat dan tak sengaja menemukanku dan Brey yang tertidur di pinggir hutan. Mereka mengajak kami untuk bergabung dalam kelompok mereka dan aku setuju. Brey juga mendadak jadi kuda sirkus. Kami menjadi pasangan yang ‘serasi’ tiap kali pentas.

Sejujurnya, aku benci masa awal bergabung dengan mereka. Bagaimana tidak? Mereka secara khusus memberi tambahan pelajaran ‘berbicara sopan’ sekaligus ‘bahasa asing’. Akh! Aku benar-benar tersiksa karena mereka tak segan membentakku jika aku tak sopan. Baiklah, aku tahu mereka melakukannya untuk kebaikanku. Mereka juga sangat sayang padaku, tak seperti dua orang berstatus ‘orang tuaku’ yang seenak jidat menelantarkan anaknya di kandang kuda.

Saat perjalanan kami sampai di selatan, aku menemukan tempat yang benar-benar mirip dengan tempat tinggalku dulu. Tanah lapang luas berumput hijau dan udara yang luar biasa segar. Siapa sangka pemiliknya adalah seorang wanita tua yang menjadikan tanah lapang itu sebagai peternakan?

Ya, sama seperti tempatku dulu.

Wanita itu memohon padaku agar aku mau membantunya mengurus peternakan itu karena ia tak memiliki penerus. Brey juga terlihat betah. Dengan berat hati, aku memohon pada kelompok sirkus untuk mengizinkanku tinggal di daerah selatan ini. Mereka mengerti dan membiarkanku ikut keputusanku sendiri.

Dan hari ini, aku duduk di punggung Brey sambil memperhatikan domba-domba juga beberapa ekor kuda yang tengah merumput. Sesekali dengan gagah Brey melangkah, seakan menakuti kuda lain agar tak berbuat hal aneh yang menyusahkan kami. Aku hanya bisa tertawa melihat ekspresi kuda-kuda itu. Brey yang memimpin, bukan aku.

“Maaf Tuan, ada surat,”

Seorang berbadan tinggi menghampiriku dengan amplop yang teracung di tangannya. Ia terlihat lelah. Aku pun melompat dari punggung Brey dan mengambil amplop itu.

“Terima kasih, kau boleh kembali,” ucapku sambil menepuk bahunya. Dia hanya tersenyum lalu berlari lagi menuju kandang sapi.

Kubuka amplop berwarna coklat ini. Hanya ada selembar kertas. Tanganku tergesa membuka lipatan itu dan mataku berputar cepat membaca isinya. Rangkaian katanya sederhana, tapi itu cukup untuk membuatku tahu apa yang terjadi di sana.

Yang sedang terjadi di rumahku.

Sejurus kemudian aku sudah menunggangi Brey menuju rumah. Entah, aku sendiri bingung harus berbuat apa. Brey sepertinya lebih mengerti apa yang terjadi. Kuda hitam itu tak langsung menuju rumah. Kami pergi menuju orang yang tadi memberikan surat ini.

“Maru! Aku akan pergi ke utara dan mungkin baru kembali dua minggu lagi. Akh! Tidak! Paling lama hanya seminggu! Jaga peternakan ini baik-baik,”

“Baik Tuan, saya dan lain akan menjaga tempat ini,”

Baru setelah ini aku dan Brey bertolak menuju rumah dan mengambil barang yang sekiranya cukup untuk perjalanan pulang. Kami akan mengambil jalan pintas, pilihan terbaik jika ingin pergi ke utara tanpa kehilangan banyak waktu. Kali ini masalahnya cukup serius dan aku tak mungkin berleha-leha. Well, let’s run, Brey!

*

Perjalanan dua hari dipersingkat jadi setengah hari.

Aku tertawa-tawa sendiri begitu sampai daerah utara saat matahari terbenam. Aku benar-benar ingat kami berangkat saat matahari di atas kepala. Jalan pintas (yang sebenarnya kami telusuri sendiri) benar-benar membantu.

Aku melompat turun dari punggung Brey saat kami tiba di depan sebuah gerbang kayu raksasa yang terlihat rapuh. Mataku sedikit memicing, memastikan kalau ini tempat tinggalku dulu. Ayolah, peternakan kuda orang tuaku bisa dibilang peternakan tersukses di sini. Bagaimana bisa hanya dalam waktu tiga tahun tempat ini jadi terlantar?

“Siapa kau?”

Aku menoleh. Seorang wanita menatapku galak. Aku tak mengenalnya.

“Ehm, bukan siapa-siapa. Aku hanya orang yang pernah singgah di sini dulu,” jawabku berusaha tenang. Brey mendengus, tanda ia tak nyaman dengan sikap wanita itu.

“Kau terlihat mirip seseorang, pemilik tempat ini dulu,” ujar wanita itu lagi. Gigiku beradu. Kali ini aku yang tak nyaman.

“Orang itu telah mati karena penyakit tua. Istrinya juga sudah mati duluan, kudengar dia gila sejak anak-anaknya menghilang. Oh, astaga! Aku belum tahu kau siapa tapi ceritaku sudah sepanjang kereta. Masuklah, maaf tadi aku terlalu kasar. Kukira kau orang suruhan Barom, pemilik pacuan kuda yang mengincar tempat ini,”

Ayah dan Ibu sudah pergi?

Batinku berkecamuk saat kakiku melangkah masuk pekarangan. Pemandangan yang begitu memilukan menyambutku dengan senyum suram. Rumput tumbuh tinggi, tak terawat. Brey hanya mau berdiri di depan. Ia memilih mengunyah rumput-rumput itu. Aku menambatkannya di tiang depan rumah. Wanita tadi mengajakku masuk.

“Namaku Tiffany. Siapa namamu?” tanya wanita tadi sambil menyodorkan secangkir teh untukku. Aku menerimanya ragu-ragu. Keadaan di dalam terlihat lebih baik.

“Ak… aku Suho. Aku belum pernah melihatmu di sini. Boleh aku tahu… err… siapa kau sebenarnya?” tanyaku balik. Tiffany tertawa kecil sambil mengangguk.

“Tentu saja kau boleh tahu. Aku ke sini atas tawaran suamiku. Ia bilang ia menemukan lahan kosong yang kepemilikannya sedang diperebutkan. Well, dia berhasil mendapatkan ini semua melalui lelang. Tapi Barom ternyata masih mengincar tempat ini, jadi suamiku meminta aku tinggal di sini sementara,” cerita Tiffany.

“‘Itu yang ingin kuketahui! Siapa yang berhasil mendapat lahan ini?!”  batinku mengomel.

“Lalu, mana suamimu?” tanyaku tanpa basa-basi. Tiffany sedikit terkejut.

“Maaf…”

“Tak apa, tenang saja. Dia sedang mengurus kepindahan kami kemari. Katanya malam ini dia akan datang,” ia menjawabku santai. “Boleh aku balik bertanya?” aku mengangguk.

“Kau pasti ingin tahu siapa aku kan? Langsung kuceritakan saja. Aku pemilik peternakan di daerah selatan,”

“Wow! Peternak? Muda sepertimu? Luar biasa! Pantas saja kudamu segagah itu!” kagum Tiffany. Memang kenyataannya peternakan itu milikku sekarang. Ibu angkatku meninggal tahun lalu dan tentu saja peternakan itu jadi milikku.

“Hahaha… Aku kemari juga karena kabar burung yang kuterima. Katanya pemilik tempat ini sudah berubah, ternyata benar ya…”

“Aku juga kaget bagaimana bisa suamiku yang jadi orang kantoran yang lebih sering duduk di tempat bisa tahu lahan kosong seluas ini! Ditambah lagi ada beberapa ekor kuda-walau mereka sedikit liar dan kurus, sekarang impian masa kecilku terwujud!”

Aku tertawa kecil, lalu melanjutkan cerita kami lagi. Tiffany orang yang ramah. Pembicaraan antara kami tak terasa canggung sama sekali. Baiklah, aku tak mengelak kalau pertama kali aku melihatnya tadi yang ingin kulakukan hanya satu. Cukup menyuruh Brey menendangnya. Hahaha, aku cukup sadis memang.

Tiba-tiba Brey meringkik keras seiring dengan deruman yang muncul tiba-tiba. Aku dan Tiffany langsung berlari keluar.

“Brey! Ini aku!” pekikku saat Brey berputar-putar tak tenang. Brey panik sepenuhnya.

“Oh, Boy! Kau membuat tamu kita ketakutan!” omel Tiffany pada… Astaga! Kenapa wajah lelaki itu benar-benar mirip dengannya?!

Tanganku menepuk leher Brey, berusaha menenangkannya. Tiffany berjalan mendekat sambil menggandeng lelaki itu. Muka Tiffany benar-benar merasa bersalah.

“Brey tak apa-apa. Dia hanya kaget,” ucapku berusaha membuat Tiffany tak semuram itu.

“Maaf… Haish! Kau wajib minta maaf pada Suho, Siwon!”

Itu benar dia! Itu benar dia!

“Su… Suho..??”

“Bang Siwon?”

Mata kami beradu dan mendadak tatapan kaget itu berubah jadi tatapan yang sangat kurindukan. Dia benar kakakku! Kakak yang terusir!

Tak perlu waktu lama untuk membuat kami sadar satu sama lain. Tangan lelaki tinggi itu menyentuh bahuku dan menggoncangnya kuat. Air mataku tumpah secepat ia beralih memelukku.

“Apa kau benar-benar Suho? Apa kau benar-benar adikku?” tanyanya bertubi-tubi. Aku tak bisa merespon apa-apa.

Kami benar-benar menangis. Entah, karena rindu yang memuncak atau apa. Yang jelas Bang Siwon benar-benar memelukku erat. Aku seperti menemukan bagian hidupku yang hilang. Aku tahu, aku sangat yakin aku merindukannya.

Mungkin ‘reuni’ kami akan terus berlanjut andai Tiffany-seharusnya Kak Tiffany-menepuk bahu kami sambil berdeham kecil. Brey justru menatap kami canggung. Astaga! Apa pemandangan tadi sangat buruk?

Dan semua terbongkar saat kami bertiga masuk rumah. Bang Siwon menceritakan semuanya dan yang jelas ia meminta maaf pada Kak Tiffany karena tak pernah bilang sebelumnya tentang sekelumit masa lalu yang cukup pahit ini. Ia yang terusir tak sengaja ditemukan oleh ayah Kak Tiffany-yang sekarang jadi mertuanya-dan mulai bekerja di perusahaan milik keluarga mereka. Bang Siwon baru menikahi wanita cantik itu dua bulan lalu. Jagung bahkan lebih tua dari umur pernikahan mereka.

Bahuku terasa sakit karena pukulan Bang Siwon yang terlontar akibat ceritaku yang kabur dari rumah. Andai tak ada Kak Tiffany mungkin dia akan menghajarku sampai pagi nanti.

“Kau membuatku ketakutan setengah mati! Kau kira menghilang tanpa jejak seperti itu tindakan bagus?!”

Aku menunduk saja saat dia mengomel. Memang benar, tak seharusnya aku melakukan tindak kabur itu. Keputusan yang sama sekali tak boleh dicontoh keturunanku. Kabur dengan seekor kuda tanpa punya pengalaman keluar sebelumnya adalah sesuatu yang sangat bodoh. Sekalipun tindakan bodoh itu yang membawaku menjadi bocah yang cukup sukses.

“Kurasa ini sudah terlalu larut. Kalian harus istirahat,” tiba-tiba Kak Tiffany yang tadi menghilang muncul di depan kami berdua. Baru saja aku ingin membantah, wanita itu sudah menodongkan tangannya.

“Tidur sekarang atau kupotong Brey?”

“Bang! Bagaimana bisa kau menikahi orang kejam macam dia?! Tadi saja aku baru datang sudah disambut dengan tatapan galak!” aku mencoba membela diri. Bang Siwon tertawa saja, lalu berdiri dan mengacak rambut Kak Tiffany.

“Kalau kujawab karena aku mencintainya?” celetuk Bang Siwon yang sukses membuatku langsung beranjak dari sana. Ke mana saja asal aku tak melihat mereka.

Sepertinya aku datang di momen yang salah.

*

“Sebenarnya mereka sangat menyayangi kita. Buktinya Ibu frustasi karena kita tidak di rumah kan? Mereka melakukan itu karena ingin kita menjadi mandiri…”

“Walau agak sadis,”

Kak Tiffany seenak jidat memotong kalimat suaminya dan kami tertawa kecil. Ia telah mendengar semuanya pagi tadi dan jelas sekali ia kesal pada Ayah dan Ibu. Ia tak percaya kami diperlakukan seperti itu dulu.

Aku, Bang Siwon, dan Kak Tiffany tengah berdiri di depan dua makam yang masih baru. Di sana tertulis “Kangta” dan “Isak”, nama kedua orang tua kami. Entah, aku tak bisa menangis atau merasa sedih atas kepergian mereka. Rasanya aku begitu ikhlas. Bukan karena dendam. Sungguh! Tak sedikitpun dalam otakku terbayang keinginan untuk membalas mereka. Aku hanya… tak ingin mengingatnya…

Setelah cukup lama di sana, kami pun beranjak kembali karena matahari mulai merangkak naik. Aku berniat kembali ke selatan hari ini. Toh niatku kemari hanya untuk memastikan nasib tempat ini. Kalau sudah ada yang menangani, ya cukup. Jujur, aku lebih betah di peternakanku sendiri.

“Darimana kau tahu kalau peternakan ini ganti pemilik?” tanya Bang Siwon saat kami sampai di rumah. Brey menyambutku dengan aksi rakusnya memakan rumput. Percaya atau tidak, kuda hitam itu sudah membabat hampir setengah dari rumput yang tumbuh di pekarangan!

“Seorang kawan mengirimiku surat,” jawabku.

“Akh, beberapa hari yang lalu ada dua orang yang sebaya denganmu datang kemari, Suho. Mereka seperti wartawan yang bertanya  terus-menerus. Kalau tak salah namanya Minho dan Joe,” kata Kak Tiffany sambil membawa nampan berisi sarapan kami pagi ini, omelet.

“Hm, itulah kawanku. Mereka dari sirkus,” timpalku.

Kami duduk melingkar di meja makan. Sesekali kami tertawa karena banyolan konyol Kak Tiffany. Kakak iparku ini sepertinya tak pernah kehabisan akal untuk melontarkan kalimat-kalimat lawak. Pilihan yang tepat untuk Bang Siwon. Sudahlah, dulu ia sudah cukup menderita.

“Kau yakin pulang hari ini? Ayolah, belum ada 24 jam aku melihatmu,” tanya Bang Siwon. Aku mengangguk mantap.

“Tak enak juga kalau aku meninggalkan peternakanku lama-lama. Berkunjunglah, Bang, Kak! Hewan di sana benar-benar menyenangkan untuk diusili!” jawabku sambil (sedikit) promosi. Langsung saja aku disambut dengan lemparan kain oleh Kak Tiffany.

“Cukup promosinya, Tuan Suho!” canda wanita itu. Aku hanya mengangguk kecil.

Tiga tahun lalu aku sudah kabur dari rumah. Aku terkejut begitu mendengar kabar Ibu frustasi begitu tahu anaknya menghilang. Well, dosaku benar-benar besar pastinya. Aku juga yakin Ayah terpengaruh hal itu. Istri tercintanya frustasi, aku juga bisa mengerti kalau Ayah ikut stress.

Tapi biarlah. Aku tak bisa mengulangnya. Yang boleh kulakukan hanya memperbaiki yang masih sempat kuperbaiki. Jika yang bisa kutemui hanya ini, ya nasibku saja yang tak beruntung. Aku harus tahu, aku harus paham.

Ku dongakkan kepalaku, menatap dua sejoli yang sedang tertawa bahagia di depanku. Aku tersenyum saja melihat mereka.

Bahagia, itu yang kucari sekarang.

TAMAT

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s