“Ananda Hellen Keller!!!”

Aku menoleh dan mendapati seseorang berbadan tinggi menatapku serius. Astaga! Berapa kali harus kubilang padanya kalau namaku hanya ‘Ananda Hellen’, tidak pakai ‘Keller’?

“Berapa kali aku harus bilang kalau namaku Ananda Hellen, Matt?!” omelku sambil berkacak pinggang. Matthew malah makin mempertajam tatapannya.

“Aku cuma bercanda,” ucapnya datar. Tanpa senyum sama sekali.

“Nggak ada yang percaya bercanda tapi muka serius begitu!”

“Emang kamu nggak kenal siapa aku? Kita kan barengan terus!”

Aku hanya menjejakkan kaki ke lantai kelas yang berdebu lalu berpaling dari Matthew. Hobi sekali membuatku kesal. Bukannya aku tak suka disamakan dengan orang terkenal, tapi aku hanya tak suka ekspresi Matthew tiap kali memanggilku dengan nama itu. Ngakunya bercanda, tapi mukanya dijamin bikin anak kecil nangis!

“An!” panggilnya lagi. Aku tak mau berpaling.

Grep!

Hoho, rupanya dia benar-benar serius memanggilku kali ini. Matthew sudah menggenggam lenganku dengan tatapan yang masih serius.

“Besok tugasnya kerjain di rumahku, mau kan?” pintanya. Aku menggeleng.

“Nggak! Mau aku kerjain sendiri!”

“Ini tugas kelompok, An!” paksa Matthew.

“Nggak, Matt! Ogah kerja kelompk bareng orang nyebelin!” tolakku mentah-mentah.

“Ngambekan! Padahal kalau dijahilin yang lain nggak kayak gini!” Aku melotot.

“Enak aja! Yang lain kan usilnya nggak pake muka serius begitu! Pokoknya aku kerjain sendiri! Titik!”

Akhirnya genggamannya berhasil lepas dari lenganku dan aku langsung kabur menyusul kawanku di kantin. Sayup-sayup aku masih bisa mendengar Matthew berteriak,

“Kalo gitu besok sore aku ke rumahmu!!!”

Tsk! Coba saja!

*

“Hey!”

“Ya ampun, Luna! Stop ngagetin orang!” bentakku pada Luna, rekan kerjaku yang sedang cengengesan tanpa dosa di depanku. Buyar sudah lamunanku tadi!

“Hayo! Kamu mikirin siapa?? Jangan-jangan mikirin si Joe ya? Atau pegawai dari Korea itu? Siapa namanya? Minho? Monro? Momon? Ma…”

“Maru, Luna. Anak buah Pak Eric dari Korea itu namanya Maru,” aku mencoba membenarkan. Tapi, sepertinya jawabanku justru jadi senjata baru untuknya.

“Tuh kan! Bener kan yang aku bilang?! Haduh, tuh anak mana lagi?! Nggak tahu apa lagi dilamunin asisten manager terpercaya…”

“Luna!” bentakku lagi. Luna tertawa puas berhasil membuatku malu setengah mati.

Wanita modis itu masih tertawa saat kembali ke bilik kerjanya. Setengah mati aku bersyukur berhasil membujuk Pak Eric, bosku, untuk memindahkan bilik kerjaku yang sebelumnya berada tepat di depan Luna. Bisa mati muda kalau aku masih kerja di sebelah sana. Mulutnya Luna kan nggak beda jauh sama kaleng rombeng yang nyangkut di ban bajaj. Klontang-klontang terus tiap kali gerak.

Sesaat kemudian aku kembali mengerjakan tugasku yang sempat terlantar gara-gara Luna dan… lamunanku tentang’nya’ tadi. Argh!!! Bahkan aku sudah tak melihatnya lagi sejak sepuluh tahun lalu! Bagaimana bisa aku masih memikirkannya sampai hari ini? Sadar An! Sadar! Dia tak mungkin masih mengingatmu! Iya, si bocah tinggi berkulit gelap yang hobi sekali memanggil namamu, dia pasti sudah lupa segalanya tentangmu!

“Excuse me, Miss, would you help me to bring this thing to Boss’s room?”

Aku mendongak dan mendapati Maru tengah kewalahan membawa tumpukan kertas di tangannya. Segera aku berdiri dan mengambil separuh bagian. Maru tersenyum penuh arti padaku.

“Kamsahamnida…” ucapnya tulus sambil membungkuk. Aku terkekeh pelan.

“You’re welcome, Mr. Lee. Please, don’t call me Miss. You can call me ‘An’,”

“So don’t call me Mr. Lee. Call me Maru, just like Boss did,”

Aku mengangguk saja sambil mengiringi bocah Korea-yang mukanya tak mirip orang Korea-ini ke ruangan Pak Eric. Jujur, aku bisa mendengar Luna tengah cekikikan sambil bergosip bersama Summer, pegawai baru yang ternyata satu merk sama Luna. Iya, sama-sama kaleng rombeng.

Aku dan Maru langsung bergegas keluar dari ruangan Pak Eric selepas diusir secara halus oleh Bos kami. Ada telepon penting katanya (berani taruhan kalau itu cuma telpon dari istrinya yang bawel). Baru sampai di tangga, Maru tiba-tiba menarikku ke lantai bawah.

“Hey! Where will we go?!” tanyaku panik. Maru malah makin mengeratkan pegangannya di tanganku.

“Just follow me,” jawab Maru asal sambil menekan tombol lift. Kami menuju basement, alias tempat parkir.

Sial! Kenapa tingkahnya seperti bocah itu sih?!

Aku menghempas tangan Maru begitu kami sampai di depan mobilnya. Maru justru tersenyum lebar. Tanpa dosa, polos.

“I want you accompany me to go for lunch. Have you a meal?” tanyanya. Aku menepuk kening kuat.

“You gave me a big shock, get it?!” bentakku. Maru malah tertawa lebar.

“C’mon! It’s lunch time! You have to know everything I’ve done for this occasion. Don’t make me sad, An…”

Aku memukul bahunya kuat. Well, mungkin hanya aku yang berani melakukan ini pada Maru. Selain statusnya yang pegawai ‘impor’, pegawai lain juga merasa segan karena Pak Eric sendiri yang membawanya kemari. Berhubung aku termasuk orang yang muka tembok, ditambah statusku sebagai asisten manager (dan Maru manager perusahaan kami!), jadi bisa dibilang hanya aku dan Pak Eric yang berhasil membangun komunikasi dengan Maru. Padahal bocah ini termasuk koplak! Sayang sekali yang lain tidak berani mendekat.

Maru mengetukkan ujung sepatunya di ban mobil. Akhirnya aku mengangguk.

“Asal jangan restoran Korea lagi…”

“What? An, I don’t understand what you said before,” tegur Maru yang mendengar gumamanku. Aku cengengesan.

“Nothing. Let’s go to warteg!” teriakku sambil balas menarik tangan Maru. Pria tinggi ini tak bisa menolak dan jelas aku mendengar rutukannya karena harus jalan kaki. Bukan apa-apa. Aku hanya ketakutan kalau naik satu mobil dengannya. Cara menyetirnya seperti setan! Ngebut nyalip seenak jidat!

*

Kami sedang serius mengerjakan soal matematika saat Aiden tiba-tiba terjatuh ke mejanya. Astaga! Dia sedang tidur pulas ternyata!

“Matt, bangunkan dia,” suruhku pelan. Kebetulan Bu Sari sedang keluar. Kasihan juga Aiden kalau bangunnya karena dibentak guru kami yang galak itu.

“Nggak mau. Kamu aja,” balas Matthew. Sok serius dia mengerjakan soal perkalian.

“Kasihan kalo yang bangunin Bu Sari! Baikin temen kenapa sih?!” aku mulai membentaknya.

“Kamu aja sendiri!”

“Kalo kamu nggak nutup jalan keluar juga udah aku lakuin sendiri, Jangkung!”

Matthew diam di tempat. Ya ampun! Kalau boleh tukar tempat duduk, dengan sukarela aku menukar tempat dudukku sekarang! Sebangku dengan bocah satu ini hanya membuat tensi naik tiap hari.

“Matt!” panggilku lagi. Akhirnya dengan ogah-ogahan Matthew berdiri dan menggoyang badan Aiden. Entah karena Aiden yang terlalu lemas atau Matthew menggoyangnya terlalu kuat, tiba-tiba Aiden yang malang terjungkal ke samping dan tepat saat itu Bu Sari muncul.

“Aiden! Matthew! Maju ke depan, kerjakan soal nomor sepuluh sampai lima belas di papan!!!”

Aku menutup mukaku rapat saat Matthew menoleh padaku dan menatapku tajam. Jariku membentuk huruf ‘V’ tanda aku merasa bersalah. Matthew mendengus kesal, lalu menarik Aiden ke depan. Aku sempatkan melirik hasil kerjaan Matthew di buku tulis dan aku membelalak lebar.

Gimana ceritanya disuruh ngerjakan soal malah ngegambar robot gundam?!

“An! Ngapain ngeliatin bukuku?!” bentak Matthew yang tiba-tiba muncul.

“Kamu disuruh ngerjain kok malah ngegambar?”

“Suka-suka aku! Sana minggir!!!”

“Matthew! An! Jangan buat keributan!”

Bu Sari tiba-tiba muncul di antara kami. Aku menelan ludah gugup dan menunduk takut-takut. Bu Sari menarik buku Matt dan melihat isinya. Beberapa saat kemudian Bu Sari langsung membanting buku itu tanpa ampun dan menyuruh Matthew duduk.

Beruntung! Beruntung sekali bel istirahat berbunyi! Bu Sari tak jadi mengomeli Matthew dan beliau langsung keluar kelas. Matthew melirikku malas.

“Baru lima tahun bareng, tapi kamu udah bikin hidupku sial melulu,” ucap Matthew dingin. Aku menunduk saja. Jujur aku merasa bersalah.

*

“Should I eat your nasi gourengg?”

Lamunanku buyar saat Maru tiba-tiba mengacak-acak isi piringku. Sebenarnya buyar karena caranya bilang ‘nasi goreng’ sih. Bukan ‘goreng’ tapi ‘gourengg’.

“No, of course no,” jawabku lalu mulai melahap makananku.

Di sinilah kami. Berhenti di warung tenda depan kantor dan sukses meraih perhatian seisi warung. Bukan karena wajah Maru yang asing. Kami diperhatikan karena keributan kami masalah makanan. Maru rewel sekali minta dijelaskan satu per satu tentang isi menunya padahal yang punya warung nggak bisa bahasa Inggris. Aku juga ogah translate. Bahasa Inggrisku masih amburadul. Yang ada malah diketawain seisi warung nanti. Akhirnya dia memilih tempe penyet.

Sudah tahu semua kan kalau tempe penyet pake sambal? Nah, Maru malah ngomel lagi karena tempenya kena sambal semua. Frustasi! Murni aku frustasi!

“I’ve done mine. What about yours?” tanyaku setelah berusaha kilat menelan sepiring nasi goreng. Maru yang meneguk air mineralnya mengangguk. Aku langsung memanggil pelayan untuk menghitung harga makanan kami. Tentu saja Maru yang bayar. Enak saja, dia yang narik aku sembarangan kok!

“Fifteen minutes, let’s comeback before Mr. Eric punish us!”

Lagi-lagi Maru menarikku seenaknya. Ya ampun! Seseorang tolong tutup wajahku!!! Ini cuma di depan kantor, bahkan dengan jalan kaki santai-santai pun tak akan sampai memakan waktu sepuluh menit. Tapi Maru berlari seperti orang kesetanan. Maaf, maksudnya kami berlari seperti orang kesetanan.

“Ecieh, yang abis makan berdua…” goda Joe yang tiba-tiba muncul depan kami berdua. Sama-sama mengantri lift.

“Jeh, kamu juga abis makan bareng Summer kan? Inget woy! Badanmu itu kalah tinggi sama dia,” balasku. Maru melongo saja. Mana paham dia kalau lagi diledekin begini?

“Iya-iya! Cerewet! Jago banget bales ledekan orang! Eh, liftnya udah kebuka, mau masuk nggak? Atau mau berduaan lagi sama-ekhm-orang impor sambil nungguin Pak Eric…”

“Enak aja! Nggak niat bunuh diri!”

Kami bertiga pun bergegas masuk ke dalam lift. Sesekali Maru mengajak Joe mengobrol singkat. Pengecualian untuk Joe memang dalam cuap-cuap bahasa asing di antara semua pegawai. Bocah satu itu sempat tinggal di California jaman kecil, jadilah mulutnya ringan sekali berbahasa Inggris. Kapan-kapan minta kursus privat sama Joe, ah! Kali aja gratis. Palingan minta dideketin sama Summer.

Begitu pintu lift terbuka, kami langsung bubar menuju habitat masing-masing. sempat aku melirik tempat Luna dan Summer. Voila! Mereka belum muncul, otomatis belum ada yang bergosip! Damainya dunia…

*

Aku dan Matthew tengah duduk berhadapan. Meja panjang berisi buku-buku IPA kelas empat SD menjadi penghalang kami berdua. Jelas, kami sedang mengerjakan tugas kelompok kami.

“Eh, jangan lupa besok ajak yang lain ke rumahku ya? Aku ulang tahun,” pintaku tiba-tiba. Matthew mengangkat kepalanya.

“Giliran begini minta tolong. Kemaren aja ngusir…” celetuknya. Aku mendengus.

“Kemaren kamu kan maksa. Yang ini juga acara ulang tahun, bukan kerja kelompok,”

“Iya-iya. Wajib bawa hadiah?”

“Jangan! Nanti aku diomelin Mama,”

Matthew mengangguk-angguk takzim. Aku membuang napas malas, lalu kembali mengerjakan tugas kami di perpustakaan sekolah. Eh, aku lupa bilang kalau kami di perpustakaan ya?

Rupanya Matthew menepati janjinya. Sekitar jam sembilan dia bersama Aiden dan Kevin muncul di depan pintu rumahku. Tasha, Zia, dan Nana yang sudah datang duluan pun menyambut mereka.

“Ini aja?” tanyaku pada Matthew.

“Menurutmu ngajak anak-anak dalam jangka waktu setengah hari bisa efektif?” balasnya sinis.

“Bahasamu sok tinggi! Udah ah, ayok masuk!” aku mencoba mengalihkan perhatian. Ketiga gadis tadi pun langsung menyerbu ke ruang makan sementara sisanya menahanku di ruang tamu. Aku mengernyit.

“Apa?” tanyaku. Aiden perlahan menyodorkan sebuah boneka kucing putih berpita merah muda.

“Selamat ulang tahun!!! Maaf nggak pake bungkus, uangnya nggak cukup sih…” Kevin menepuk-nepuk bahuku sambil tersenyum lebar. Aku mengangguk asal sambil membalas senyumnya. Seingatku aku sudah bilang ke Matthew jangan bawa kado deh…

“Makasih…”

“Makasihnya ke aku. Mereka nyumbang sepuluh ribu, aku nyumbang lima puluh,” potong Matthew. Kompak Kevin dan Aiden memukul lengannya.

“Kan udah kita bilang mau bakal diganti!!! Udah ah! Aku laper! An, boleh makan kan?”

Aku mengangguk dan Kevin langsung nyelonong masuk. Aiden juga langsung menyusulnya. Tersisa aku dan Matthew. Kali itu, pertama kalinya Matt tersenyum padaku.

“Selamat ulang tahun ya…”

*

“Jadi gitu ceritanya! Jason ngajak aku makan, tapi dompetnya… Hey! An! Dengerin aku nggak sih?!”

“Eh? Gimana tadi?”

Luna langsung memasang wajah kesalnya melihatku melamun saat ia bercerita tadi. Aku cuma menggaruk kepalaku sambil memamerkan cengiran khas. Ia menepuk kepalaku dengan gulungan koran dari meja.

Pluk!

“Maaf, Lun… Galak amat sih!”

“Kamu kan biasanya galakin aku pas meeting, ini namanya balas dendam!” candanya. Aku mengangguk asal, lalu kembali menekuni pekerjaanku yang sempat terlantar tadi. Luna juga kembali mengurusi lembar-lembar laporannya.

Sebenarnya Luna datang ke meja kerjaku untuk meminta bantuan-lebih tepatnya meminta dibuatkan-tentang laporan hasil produksi bulan ini. Tapi berhubung predikat “kaleng rombeng”nya sedang kumat, dia malah bercerita tentang pacar barunya yang dikenalnya lewat kencan buta. Ya ampun! Di jaman seperti ini dengan wajah secantik dia, bagaimana bisa masih mencari pasangan lewat kencan aneh-aneh begitu?

“Bu Ananda Hellen?” panggil seseorang. Aku dan Luna langsung mendongak. Bu Tiffany, sekretaris Pak Eric berdiri anggun di depanku. Cepat-cepat kami berdua membereskan meja yang lebih mirip kapal pecah. Ketemu atasan masa amburadul begini?

“Tidak usah dibersihkan, saya cuma menyampaikan pesan dari Pak Eric kalau Bu Hellen akan menggantikan Pak Elias di divisi keuangan mulai besok. Jadi Bu Hellen bisa beres-beres untuk pindah ruangan sekarang,” ujar Bu Tiffany sambil menyodorkan lembaran surat padaku. Aku menerimanya ragu-ragu. Agak kagok juga dipanggiol “Hellen”. Biasanya kan yang lain asal nyablak “An”.

“Eh? Pak Elias? Manager divisi keuangan?” tanyaku. Bu Tiffany mengangguk.

“Pak Elias pindah tugas ke Kalimantan. Kebetulan Pak Elias juga tidak punya asisten manager jadi Pak Eric langsung memutuskan Bu Hellen yang menggantikan…”

“Terus Maru gimana?”

Plak!

Aku langsung menepuk lengan Luna kuat. Apa dia lupa kalau Maru itu statusnya atasan dia juga? Seenggaknya pakai embel-embel “Pak” dong! Nyablaknya ngaco total!

“Maru? Oh, maksudnya Mr. Lee?” tebak Bu Tiffany. Luna mengangguk antusias.

“Kan An, eh, Bu Hellen itu asisten managernya Mr. Lee. Kalau Bu Hellen pindah di divisi keuangan, nanti yang jadi asisten managernya Mr. Lee siapa?” tanya Luna.

“Kamu yang namanya Luna Marcelina kan? Kalau nggak salah yang gantikan posisi Bu Hellen kamu. Eh, Bu Hellen diminta ke ruangan Pak Eric secepatnya, saya kembali dulu,”

Luna mengguncang bahuku. Matanya jelas berbinar cerah. Secara tidak langsung berkat kenaikan pangkatku, Luna ikut naik pangkat. Ya, kami diterima di perusahaan ini di hari yang sama, masuk di divisi yang sama juga. Dalam dua tahun kami bekerja, Luna memang belum pernah naik pangkat. Penyebabnya jelas, dia kebanyakan ngegosip daripada kerja di depan komputer. Padahal dia lebih cerdas dan terampil dibandingkan rata-rata pegawai di sini termasuk aku sendiri.

Lhah? Kok malah cerita tentang Luna?

“Eh, kamu diminta ke ruangan Pak Eric kan? Udah-udah, sana! Kayaknya tadi Maru juga masuk ruangan Pak Eric…” usir Luna. Aku mengernyit.

“Apa hubungannya sama bocah itu, Luna?!” bentakku kesal. Luna cuma tertawa-tawa sambil mendorongku.

Luna benar. Begitu aku membuka pintu, tampak Maru dan Pak Eric tengah mengobrol santai dengan bahasa yang tak kukenal. Mungkin Korea. Kebetulan Istri Pak Eric itu Kakaknya Maru, jadilah mereka akrab begini.

“Wasseo?” sambut Maru, sukses membuatku cengo. Ngomong apa tadi dia?

“Ya! She doesn’t understand about Korean! Duduk dulu An,” Pak Eric langsung menunjuk kursi di sebelah Maru. Aku menurut.

“Congratulations!” tiba-tiba Maru menjabat tanganku. Aku mengernyit lagi. Bocah ini kesambet setan mana sih? Tadi nyambut pakai bahasa nggak jelas(untukku), sekarang bilang selamat tiba-tiba.

“Dia yang promosiin kamu jadi manager keuangan,” celetuk Pak Eric. Maru cengengesan lebar, lebar sekali.

“Oh, thank’s… Tapi Pak, saya dipanggil untuk apa ya? Bukan untuk nemenin Bapak berdua kan?”

“Hahaha… Pasti Maru sering nyiksa kamu pakai paksaan-paksaan ajaibnya itu! Tenang saja, saya manggil kamu karena besok kalian berdua sama asisten barunya Maru berangkat ke Bali, ada tanda tangan kerja sama dengan perusahaan di sana,” Pak Eric menyodorkan amplop dengan logo salah satu maskapai penerbangan.

“That’s Luna’s ticket. I brought yours, so I’ll pick up you tomorrow on eight o’clock. May I know where is your home?” ucap Maru. Aku sempat melirik Pak Eric dan beliau pura-pura tak melihat kami.

“Can’t I bring my own? We’ll depart together-with Luna-from this place…”

“As your wish…”

Maru menyodorkan amplop yang serupa dengan milik Luna. Aku menerimanya ragu-ragu lalu segera beranjak.

“Maaf saya harus kembali, ada pekerjaan yang belum selesai,”

Pak Eric mengangsurkan tangannya ke arah pintu, tanda beliau mengizinkanku segera keluar. Mereka berdua kembali bercakap-cakap menggunakan bahasa yang tak kumengerti, hanya saja nadanya terdengar seperti Pak Eric meledek Maru. Kenapa?

Entahlah, aku tak peduli.

*

Kami tiba di hotel tepat tengah hari. Keberangkatan yang tertunda satu jam membuatku begitu menikmati saat-saat bisa membuang diri di atas kasur empuk. Beda lagi dengan Luna yang langsung geger menyalakan laptop. Katanya Maru menyuruhnya membuat laporan singkat tentang hasil pemasaran minggu ini untuk ditunjukkan pada rekan bisnis kami dan perintah itu baru datang kemarin saat ia beranjak pulang. Kasihan sekali, Luna sampai memohon-mohon pada Joe, Summer, dan Nikky untuk meng-copykan data pekerjaan mereka padahal komputer baru saja dimatikan. Padahal kalau Luna mau berpikir lebih panjang dia bisa datang ke tempatku dan meng-copy milikku.

Jadilah saat ini Luna bergumul dengan dua laptop. Satu miliknya, satu lagi milikku.

“Kamu nggak laper?” tanyaku. Luna mengangguk, tapi matanya masih fokus ke arah laptop. Tak! Tak! Tak! Terdengar tangannya lincah mengetik.

“Order makanan aja. Kalau turun ntar malah laporan ini keteteran. Kamu sih, nggak bilang kalau udah punya datanya! Joe sama Nikky tuh masih ngomel sampai sekarang! Nih! Lihat anak buahmu ngirimin sms annoying begini!” omel Luna.

“Salah sendiri nggak nanya aku dulu. Aku mana ngerti Maru tega nyuruh kamu bikin laporan kilat! Yaudah, mau order makan apa?”

“Nasi aja. Terserah mau nasi padang kek, nasi lemang kek, nasi kucing kek, pokoknya nasi!”

Ting tong!

Terdengar bel kami berbunyi. Aku bergegas menuju pintu dan membukanya. Voila! Muncul si troublemaker yang berhasil membuat Luna uring-uringan.

“Let’s go for lunch!” ajaknya. Aku menggeleng.

“I’ll order it. I should accompany Luna, she is busy because of you,” sahutku santai. Maru menatapku bingung.

“Me?” Maru menunjuk dirinya sendiri. Aku mengangguk.

“Okay, I’ll go to restaurant. Take some rest, tomorrow both of you can’t show your pale face…”

“I get it Mr. Lee…”

Maru pun segera beranjak dari depan pintu. Aku langsung berbalik dan menyusul Luna yang masih duduk manis.

“Maru?” tanya Luna.

“Hm, ngajak kita makan bareng,” jawabku.

“Ngajak kamu itu mah,”

“Eh? Gimana ceritanya? Kan kita berdua!”

“Hish! Kamu bener-bener nggak pernah pacaran? Stuck di tempat gara-gara cinta pertama kayak sinetron-sinetron?”

Pluk! Sebuah bantal nyasar ke kepala Luna.

“Enak aja! Bener aku nggak pernah pacaran, tapi nggak stuck gara-gara alasan konyol begitu juga, Lun! Lagian apa hubungannya coba, antara aku, Maru, sama pacaran?”

“Tsk! Kamu nggak sadar kalau seorang Maru Lee, adik ipar Pak Eric, atasanku sekaligus mantan atasanmu itu naksir kamu?! Please deh, An! Satu kantor itu udah pada ngerti gelagat bocah Korea itu, tapi kamu nggak paham juga!”

Aku terkejut dengan ucapan Luna. Mana mungkin Maru… Nggak! Nggak! Tingkahnya aja nyebelin gitu, mana mungkin naksir sama aku! Palingan ini cuma akal-akalan Luna biar ada bahan cerita! Huh, dasar Kaleng!

“Sumpah aku penasaran, kamu sebenernya suka sama Maru nggak sih? Akhir-akhir ini kamu sering ngelamun, kali aja yang kamu lamunin si Maru…” aku membuang napas.

“Nggak Lun. Seenggaknya sampai hari ini aku masih berani bilang kalau aku nggak ada nasik-naksirnya sama Maru. Tapi kalo ngelamun… beneran aku sering ngelamun sekarang?” tanyaku. Luna mengangguk.

“Hu’um. Sering banget malah, sampai nggak nyadar tiap kali aku ceritain tentang Jason. Ya ampun An! Ceritaku tentang Jason tuh pasti seru lhoh! Kamu nggak pernah dengerin!”

“Hey! Kok malah ngomongin Jason sih?!” protesku sebelum Luna melanjutkan pidatonya lagi. Luna tertawa kecil, lalu menyiapkan printer. Sudah selesai rupanya. Aku bilang juga apa, Luna lebih terampil daripada aku!

“Yang kamu pikirin tuh siapa?” tanya Luna.

“Temenku jaman kecil. Dari awal masuk TK sampai kelas empat SD aku sekelas sama dia. Tapi gara-gara aku pindah ke Jawa, kita pisah sekaligus loss contact,” jawabku lesu. Haish!

“Cowok yah? Ganteng mana sama Maru? Eh, bukan! Bandingin sama Pak Elias aja, yang udah jelas gantengnya…” Luna tiba-tiba antusias. Aku mengambil tas selempangku dan ku ambil album foto di dalamnya. Luna langsung mendekat.

“Yang ini, namanya Matthew. Pak Elias lebih ganteng,” ucapku sambil menunjuk foto Matthew di ulang tahunku dulu. Luna merebut album foto itu dan mengamatinya.

“Kayaknya aku pernah liat orang ini deh. Siapa tadi? Matthew?”

“Eh?! Di mana?!”

Luna menunjuk salah satu foto sambil tersenyum jahil. Mulutnya jelas menahan tawa.

“Sarap!”

Luna tak peduli. Ia tertawa saja lalu kembali bergelut dengan hasil laporannya. Aku pun segera memesan makan siang kami.

*

Bruk!

“Maaf, saya nggak sengaja!”

Aku menatap laki-laki bermasker yang menggendong ransel hitam yang menabrakku di depan pintu kamar. Dia gila atau gimana sih?! Laporan Luna sekaligus berkas-berkas pekerjaan jadi berantakan di lantai. Laki-laki ini hanya bisa berdiri dan melihatku yang kerepotan.

“Omo! An, are you okay?” Maru tiba-tiba muncul di depanku. Laki-laki tadi masih diam di tempat.

“Hey! You don’t even help her and just stand like that?! How could you…”

“Stop it, Maru! Forget him and help me,”

“No, he must help you before…”

“Stop being a child, Lee Maru!”

Beruntung Luna muncul dan langsung membantuku. Laki-laki tadi sempat melirik Luna, lalu segera pergi sebelum Maru menyemprotnya lagi. Mantan atasanku itu ikut membantuku sambil mengomel kecil.

Aku tidak tahu kenapa Luna tiba-tiba menarikku saat berkas tadi sudah rapi kembali. Luna menitipkannya pada Maru dan ia membawaku ke kamar kami lagi. Maru menuju aula hotel duluan.

“Kamu ngerasa familiar nggak?” tanya Luna. Aku menatapnya bingung.

“Sama siapa?” tanyaku balik.

“Laki-laki tadi, matanya mirip temenmu yang kemaren kamu ceritain…” jawab Luna. Aku tersentak.

“Matthew? Masa sih?”

“Ya aku juga nggak yakin, tapi beneran mirip!”

Mungkinkah? Mungkinkah laki-laki tadi itu Matthew?

“Yaudah, ayok berangkat sebelum Maru pidato tiga lembar! Gila aja dia pidato tapi aku nggak ngerti dia ngomong apaan!”

Aku tak mendengar sepenuhnya kata-kata Luna. Otakku masih berpikir tentang…

Apa tadi benar-benar Matthew??

*

Setahun kemudian…

Orang terus berlalu lalang di depanku. Sesekali mereka tertawa sambil melahap makanan di tangan mereka. Aku hanya tersenyum melirik pakaian-pakaian yang mereka kenakan. Setelan pesta.

Pesta  apa?

Aih, aku malu mengungkapnya.

Ini pesta pernikahanku dengan… Maru.

Iya, dengan bocah yang kata Luna naksir padaku itu! Aku sendiri kebingungan bagaimana caranya menjelaskan pernikahan kami yang tergolong singkat.

Yang paling ajaib adalah Maru langsung menemui orang tuaku untuk melamarku. Bayangkan! Seorang pria yang tak bisa berbahasa Indonesia melamar gadis yang orang tuanya tak lincah berbahasa Inggris. Beruntung saat itu dia tak hanya bermodal nyali. Dia juga membawa Pak Eric sebagai modal translator.

Waktu itu, begitu aku tiba di rumah mereka semua sudah tertawa-tawa girang. Orang tuaku langsung menerimanya tanpa syarat. Katanya hanya gara-gara prinsipnya yang aneh. ‘Nikah langsung lebih baik daripada pacaran dulu,’ aneh kan? Aku saja kebingungan bagaimana jalan pikirannya. Tolong jangan tanya tentang perasaanku padanya! Aku sendiri tak tahu jawabannya. Aish! Kenapa aku jadi kagok begini kalau cerita tentang Maru?

Maru sekarang tengah berkumpul dengan teman-temannya yang datang dari Korea. Aku cuma memperhatikan dari jauh. Aku ikut bergabung juga sama saja. Mana paham aku bahasa yang mereka pakai?

“Tante…”

Seorang anak kecil menubrukku sambil menggelayut manja di kakiku. Aku tersenyum dan menggendongnya. Dia Brian, anaknya Pak Eric. Karena bos kami itu sering membawa anaknya ke kantor dan akhir-akhir ini sering dititipkan padaku (dengan alasan dulu aku asisten Maru, sedangkan Brian keponakannya), jadilah Brian dekat denganku.

“Tante kok sendirian?” tanyanya. Aku mencubit pipinya gemas.

“Kan sekarang ditemenin Brian… Papa mana?”

“Papa sama Mama sama Jean lagi makan, aku disuruh main sama Tante. Aaaaa… kapan aku boleh copot ini Tante? Panas!!!”

Brian mengibas-ngibas jas mungilnya. Astaga, kejam sekali Pak Eric! Anak kecil begini dipakaikan kemeja ditumpuk rompi dan dibungkus jas. Oh, jangan lupa dasi yang menggantung manis di lehernya. Langsung saja aku menurunkan Brian dan melepaskan jas serta dasinya.

“Makasih Tante!!!” kemudian dia kabur lagi entah ke mana. Aku menahan tawa. Bagaimana bisa aku malah menenteng dasi dan jas begini? Aku baru akan mengejar Brian saat Maru muncul dengan Brian dalam gendongannya.

“Om! Turun!!!” pinta Brian yang terus berontak. Maru malah tertawa, lalu menatapku.

“Apa kau bahagia?”

Baiklah! Lebih dari setahun di Indonesia dan hanya kalimat itu yang sanggup diucapkannya dengan lancar! Tidak seperti orang lain yang biasanya lebih tahu versi ‘I love You’ dalam berbagai bahasa, Maru justru lebih suka kata ‘bahagia’. Dalam kebahagiaan pasti ada cinta, tapi dalam cinta belum tentu ada kebahagiaan. Ya ampun! Puitis sekali dia…

“If I say I’m not…”

“You should be happy, it’s our party An…”

“Om!!!”

Akhirnya Brian berhasil melompat turun dan langsung bersembunyi di belakangku. Aku tertawa lagi. Maru ditolak keponakannya sendiri.

“Brian lebih milih Tante atau Om?” tanyaku usil. Maru mengernyit, lalu ikut-ikutan menatap Brian yang kebingungan.

“Eung… Brian maunya sama Tante aja, Om ngomongnya nggak jelas!” jawab Brian. Sontak aku langsung menggendongnya dan mengecup pipinya gemas.

“He said he choose me, go away…” aku pura-pura mengusir Maru. Dia justru makin menatapku tajam.

“Where’s mine?” tanyanya rancu.

“Huh?”

Maru menunjuk pipinya. Astaga! Bisa gila aku lama-lama!!!

Dia terkekeh melihatku membuang muka. Sesaat dia menghilang lalu muncul dengan seorang fotografer. Tiba-tiba Maru meraih pinggangku.

“Let’s take our picture! Brian will be our cupid!”

Apa dia bilang? Brian jadi malaikat cinta mungil yang senjatanya panah-panah aneh itu? Mana cocok ikon manis itu disamakan dengan Brian yang… pengacau?

Setelah itu Pak Eric datang dan ‘merebut’ Brian dari kami. ‘Brian bisa jadi pengacau handal kalau gabung sama Maru’ kilahnya. Maru hanya diam. Jelas, dia tak mengerti maksud Pak Eric.

“Hoy! Hellen Keller!”

Aku (dan Maru) membalikkan badan begitu mendengar panggilan khas itu. Badanku menegang. Dia berdiri di sana. Dia yang berhasil membuatku kelimpungan tahun lalu. Dia tersenyum dengan wajahnya sekarang lebih tegas.

“Matthew?”

“Hey! You were that boy, right?! Bali! Bali!”

Matthew tertawa mendengar tuduhan Maru. Ia mengangguk, seakan mengakui kesalahannya.

“Jadi kalian berjodoh ya? Astaga… Pas sekali! Yang satu cerewet yang satunya lagi…”

“Heh! Dia suamiku sekarang!” bentakku sebelum Matthew melanjutkan kata-katanya (yang pasti pedas). Dia tertawa, lalu menggeret seorang wanita yang tengah menggendong bayi. Aku dan Maru sejenak berpandangan, lalu kembali melihat dua orang ini.

“Kenalin, ini Leah, istriku. Yang ini Sam, anak pertamaku,” ucap Matthew sambil menunjuk wanita tadi. Berani sumpah aku shock setengah mati.

“She is my wife,” sahut Maru datar sambil merangkulku. Matthew tertawa, begitu pula Leah yang sesekali melirik Sam yang tertidur pulas.

Setelah perkenalan tadi, Maru dan Matthew malah mengobrol sendiri. Aku dan Leah hanya berdiri di samping mereka sambil sesekali tertawa. Aku tak menyangka Maru bisa secepat itu akrab dengan bocah satu itu.

Aku memang menyerah untuk memikirkan Matthew sejak Luna meyakinkanku kalau pria yang menabrakku waktu itu adalah Matthew. Yakh, kalau diingat-ingat juga memalukan sekali. Sudah tak bertemu bertahun-tahun tapi aku masih memikirkannya. Sepertinya aku dan Matt hanya boleh jadi sepasang teman yang saling mengejek.

Bagaimana bisa?

Oh, liat saja bagaimana dia merusak imageku di depan Maru! Kenapa Matt tidak bisa memilih momen yang lain?!

“Hey, dapet undangan dari mana? Perasaan aku nggak pernah ngirim buat kamu,” tanyaku. Matthew melirik Leah.

“Eung… sebenarnya undangannya untuk Ayahku, rekan bisnis perusahaan kalian. Tapi karena Ayah nggak bisa datang ya kita mewakili. Nggak nyangka malah ketemu teman lama…” jelas Leah sejelas-jelasnya.

“An, sorry ya! Kebetulan lima belas menit lagi aku ada meeting di kantor, terpaksa kita pulang sekarang. Bye!”

Matthew menarik tangan Leah sembarang sambil melambai ke arahku dan Maru. Maru tersenyum, lalu menatapku.

“How do you feel?” tanyanya.

“Errr… Great maybe?” jawabku asal. Maru kemudian menggandengku dan kami berdua menghampiri orang tua Maru.

“Thank’s for loving me, Mr. Lee…” bisikku pelan di telinga Maru.

“You’re welcome, Mrs. Lee…” balasnya. Aku tersenyum, lalu menggamit lengannya erat. Aish, sepertinya aku juga sudah jatuh hati pada manusia tinggi ini!

Akh, bukankah sungai harus terus mengalir agar tak terjadi banjir? Tidak mungkin sungai akan mengalirkan airnya berlawanan arus. Bukankah begitu juga filosofi hidup?

Lupakan ingatan gilamu itu, An! Ada seseorang di sampingmu sekarang! ^^

tamat

Iklan