Fanfiction · Fiksi

Something in the Park

Author                  : ChaNara

Cast                      : Chen (EXO) as Chen Kim, Jangseo Lee (OC), Xiumin (EXO) as Xiumin Kim

Genre                   : Lil’ romance, fluff, AU, OOC

Length                  : Ficlet

Summary           : “Saat kau jatuh cinta, kau memendamnya, dan saat kau ingin mengungkapnya, semua jadi sia-sia”__Chen Kim

A.N.                        : Aloha! Gue balik bawa fanfic ficlet. Mengapa EXO? Mengapa bukan boyband lain? Simple aja sih. Itu karena gue belum benar-benar mengenal mereka, jadi gue masih bisa berimajinasi bebas ke sana-sini tanpa kebayang sifat aslinya. Kalau gue pakai C.A.P misalnya. Gue bakalan susah bikin dia jadi seorang yang mendem perasaan, padahal dia termasuk ambisius. Kalau pakai Taemin misalnya. Dia juga susah dibikin mellow karena karakter dia cenderung malu sambil cengengesan sendiri. Jadilah gue ngambil member EXO aja. Begitulah ceritanya XD

Disclaimer         : Semua milik Tuhan YME. Cast yang disebut namanya menjadi milik saya selama ff ini berlangsung dan jadi milik agensi serta keluarga masing-masing di kehidupan sebenarnya. Jalan cerita sepenuhnya milik saya. Terima kasih sudah membaca, saya tidak memaksa untuk berkomentar, tapi tolong hargai hasil karya saya 🙂

*

Kau berdiri tepat di hadapan sebuah taman kecil yang sedikit tak terurus. Banyak tanaman liar, sekalipun sebenarnya itulah seni dari taman ini. Kau hanya butuh satu kata untuk melukiskan segalanya.

“Antik,” gumammu pelan.

Kakimu melangkah ke arah bangku kayu dan duduk di sana. Sesekali kau menahan tawa melihat anak-anak kecil yang tengah bermain sesuka hati. Entah, mengejar serangga-serangga mungil barangkali. Sore hari memang waktu yang tepat untuk bersantai. Terlebih untukmu yang baru saja tiba dari perjalanan panjang. California-Seoul bukanlah jarak yang dapat ditempuh dalam waktu singkat sekalipun kau naik pesawat, kawan.

Jelas kau masih ingat bagaimana Ibumu mengomel panjang karena kau langsung keluar rumah bahkan sebelum ada lima belas menit kau tiba di rumah. Kau tahu, seisi rumah masih rindu padamu. Tapi sisi hatimu yang lain berkata kalau tak ada ruginya untuk berjalan-jalan sejenak. Tak jauh dari rumahmu sebenarnya. Hanya sekitar dua puluh menit maka kau telah sampai di depan rumah lagi, mengetuk pintu, lalu memohon masuk.

Matamu terpaku pada siluet seseorang di balik pohon besar di pojok taman. Dia seperti mengendap-endap dan kau tahu jelas dia wanita. Kau tertarik, tapi tak mau beranjak dari dudukmu. Kau hanya memandangnya sampai wanita itu muncul seutuhnya. Kau tersenyum, bahkan wajahmu sedikit memerah.

“Cantik,” ucapmu tanpa sadar.

Dia memang cantik. Tubuhnya tinggi, rambutnya dikuncir ekor kuda. Sekalipun dari jauh, kau tahu ia memilik mata yang besar, hidung mancung, serta bibir tipis. Tulang pipinya tak terlalu menonjol dan itu tepat membuatnya sempurna, sekalipun kali ini ia hanya memakai kaos dan celana jeans panjang.

Kau baru sadar ia menenteng buku di tangannya saat ia berlari menuju sebuah kedai es krim yang ada di dekat taman. Kau semakin menjadi-jadi saat wanita itu tersenyum riang setelah mendapatkan satu cone es krimnya.

“Choco vanilla,” tebakmu sambil terus melihatnya yang sedang menikmati es krim.

Oops! Dia tak sengaja menyentuhkan ujung es krim yang tinggi ke hidungnya. Kau nyaris berlari menghampirinya untuk sekedar menyapukan sapu tanganmu ke hidungnya andai ia tak tertawa tiba-tiba. Astaga, dia menertawakan dirinya sendiri dan kau semakin sadar kalau dia terlihat semakin manis.

“Mungkinkah aku jatuh cinta?” tanyamu pada diri sendiri. Setelah itu kau kembali menatapnya sampai ia beranjak pergi dari kedai. Tepat saat itu pula, kau bangkit dari bangku dan kembali pulang. Hm, semoga Ibumu sudah tak mengomel lagi.

*

*

Sudah sebulan sejak kedatanganmu ke Seoul. Sudah sebulan juga tiap sore kau datang ke taman ini dan memperhatikan gadis itu.

Ya, gadis yang tertawa karena es krimnya mampir di hidung mancungnya. Kau terkekeh pelan mengingat tingkahmu yang tiba-tiba berubah begitu sampai di rumah. Ibumu bilang kau jadi sering tersenyum sendiri, Kakakmu bilang kau jadi sering menyanyikan lagu jatuh cinta, dan Ayahmu bilang kau tiba-tiba menyukai tanaman-tanaman hias milik Ibumu.

Akh, bukankah kau benar-benar jatuh cinta?

Sayangnya, sampai hari ini kau belum tahu siapa namanya. Padahal sebulan penuh, tanpa absen, kau mendatangi taman ini, duduk di bangku yang sama, dan memperhatikan gadis itu berkonsentrasi pada semak liar di balik pohon. Kau juga tak pernah mendekatinya, karena tiap kali kau berusaha menggerakkan kakimu, tiba-tiba saja kau merasakan kesemutan. Bahkan mengambil potretnya saja kau tak berani. Kau hanya bernyali untuk melihatnya dari jauh sambil sesekali ikut tertawa bersamanya.

Kali ini kau membawa tas kamera dan menaruhnya di pahamu saat kau duduk. Kau tak membuka isinya, karena gadis itu belum tiba. Lagi-lagi kau tersenyum mengingat tawa khasnya. Ya ampun! Kau gila!

Sepertinya gadis itu tak akan datang sore ini. Lihat saja, matahari nyaris tenggelam di ufuk barat tapi kau tak melihat batang hidungnya. Kau membuka tas kameramu sedikit, memperhatikan isinya tanpa mengeluarkannya, lalu menutupnya lagi. Kau membuang napas pasrah.

“Baiklah, mungkin dia tak datang hari ini,” kau mencoba menghibur diri sendiri. Perlahan kau bangkit dan beranjak dari taman. Tak apa, menyerah untuk hari ini saja.

*

Sore yang ketiga sejak gadis itu menghilang tanpa jejak dan kau masih tetap setia menunggunya. Kau berharap cemas sambil mencengkram sesuatu di balik tas kameramu. Entah apa isinya, yang jelas kau terlihat begitu men-dewa-kan benda itu. Lihat saja matamu yang melirik tajam pada setiap orang yang memandang penuh curiga pada tasmu.

Entah mengapa kau tiba-tiba tertarik untuk mengunjungi semak yang biasa diperhatikannya. Kakimu melangkah begitu ringan ke arah sana.

Kau terkejut luar biasa setibanya di semak itu. Ternyata ini bukan sekedar semak. Ini adalah semak yang dipenuhi bunga liar kecil yang cantik. Seketika kau mengingat ekspresi gadis itu tiap datang kemari.

“Mungkin karakter kalian sama. Liar, tapi tetap cantik,” ucapmu sambil menyentuh bunga-bunga kecil penuh warna. Kau menghela napas panjang begitu sadar kau baru mengetahui kenyataan kalau ada sesuatu secantik ini di balik pohon  besar yang terlihat seram.

Dan kau juga sadar akan kenyataan lain kalau kau merindukannya.

Kau melirik kedai yang biasa di datangi gadis itu. Kedai itu tetap buka, tetap ramai, sekalipun suasananya tak seceria biasanya-setiap ada si gadis. Kau pun tertarik ke sana.

“Paman, aku pesan choco vanilla satu,” ucapmu sambil menyodorkan lembaran uang pada pemilik kedai. Ia mengangguk dan segera membuatkan pesananmu. Kau duduk di meja tempat biasa gadis itu duduk. Hm, nyaman juga.

Begitu es krim itu tiba, pemilik kedai sempat menatapmu lekat-lekat. Karena risih, kau pun bertanya,

“Ada yang salah denganku, Paman?” tanyamu. Pemilik kedai itu tersentak, lalu menggeleng sambil tersenyum bijak.

“Tidak, aku cuma baru sadar kalau laki-laki yang biasa duduk di bangku sana itu cukup tampan!” jawabnya penuh humor. Kau tertawa pelan sambil tersipu. Astaga, kau sedang dipuji!

“Terima kasih Paman. Paman juga tidak lebih jelek daripada aku…”

“Hahaha… Kau ada-ada saja!”

Kalian pun tertawa bersama. Paman tadi memilih duduk di dekatmu dan kalian mengobrol ringan. Sesekali ia melontarkan candaan yang membuatmu tertawa lagi. Kau pun mengerti mengapa gadis itu begitu betah untuk sekedar duduk dan menikmati es krimnya di kedai ini.

“Paman tahu gadis yang sering main di semak itu kan?” tanyamu. Paman itu mengangguk.

“Jangseo maksudmu?” Kau tersentak kaget.

“Bahkan aku tak tahu namanya, Paman. Yang jelas dia sering mampir ke sini juga. Apa Paman tahu dia di mana sekarang? Akhir-akhir ini dia tak muncul…”

Paman itu menatapmu sejenak, lalu terkekeh. Ia beranjak dari kursinya dan mengambil sesuatu dari laci meja kasirnya, lalu ia duduk lagi di tempatnya semula dan memberikan benda itu padamu.

Eh? Undangan?

“Jangseo bilang dia menikah malam nanti dan akan tinggal di Suwon. Ia mengundangku datang, tapi karena aku harus tetap membuka kedai ini, jadi aku tak bisa datang. Barangkali kau mau mewakiliku. Oh! Sepertinya ada pelanggan, Aku kembali dulu ya?!”

Kau mengangguk tanpa ekspresi pada Paman itu. Akh, kau sebenarnya tak mendengar apa yang diucapkan Paman tadi. Kau masih terkejut dengan undanga pernikahan ini. cepat-cepat kau membukanya dan membaca isinya.

Sesaat kemudian kau tertawa sendiri menyadari kebodohanmu. Gadis itu bernama Jangseo dan dia akan menikah, tapi sampai detik ini kau masih mengharap ia datang ke taman dan kau punya kesempatan untuk memberikan sesuatu yang ada dalam tas kameramu tiga hari ini. Tawamu makin keras saat melihat nama pengantin prianya. Astaga… boleh disimpulkan kalau sebulan ini kau jatuh cinta pada gadis yang sudah jadi calon istri orang!

Setelah tawamu reda, kau pun menyambar ponselmu di saku dan mencari salah satu kontak. Setelah menemukannya, kau pun segera menelpon pemilik nomor tersebut.

Tak perlu waktu lama untuk menunggu jawabannya.

“Xiumin Kim, ini aku!” serumu pada penerima telpon itu.

“Eh? Siapa ini?” sahut si penerima telpon, Xiumin.

“Kau lupa suaraku hah? Aku Chen! Kawan yang kau tinggalkan seenak jidat di California sana!”

“Astaga! Kau rupanya! Ya, aku ingat. kau sudah kembali ke Korea?”

“Yayaya, aku pulang ke mari bulan lalu. Hey! Bagaimana bisa kau tak memberitahuku kalau kau akan menikah? Rupanya kau bukan hanya lupa suaraku tapi kau lupa semuanya tentangku!”

“Hehe, aku kehilangan kontakmu, jadi aku tak bisa menghubungimu. Darimana kau tahu aku akan menikah?” Kau tersenyum kecil.

“Harusnya kau tahu, Chen Kim adalah seorang yang ajaib! Haruskah aku datang ke Suwon sekarang?”

“Ya, tentu saja. Itu juga kalau kau tak sibuk. Aku tak memaksamu datang ke acara pernikahanku malam ini,”

“Baiklah, kalau begitu aku akan pulang sebentar lalu berangkat ke Suwon sore ini juga. Pastikan ada kamar kosong untukku. Bye!”

“Apa? Eh? Tapi Chen…”

Tut tut tut……

Kau memutus sambungan ponselmu dan beranjak dari kedai es krim. Tanganmu mengambil sesuatu yang tersembunyi di tas kamera.

Sebuah kotak kaca dengan cincin manis di dalamnya. Kau menghela napas pelan sambil menyusuri jalan pulang.

“Padahal aku sudah rapi-rapi mengatur rencana untuk melamarmu, eh malah kau menikah duluan. Dengan sahabatku pula! Aish, ya sudahlah, artinya kau bukan jodohku…” rutukmu pelan.

Ya, tentu saja rencana yang sangat rapi. Kau berniat mendekatinya, meminta berfoto bersama. Tapi dengan sedikit tambahan drama, kau akan membuat seakan-akan kau lupa membawa kamera dalam tasnya dan menyodorkan cincin itu sebagai ganti berfoto.

Akh, Chen Kim yang malang…

END

 

Kyaaaa!!!!! Ini apa??? Kenapa Chen jadi penuh cengengesan begini?? Kenapaaaa??????

Aih, beginilah hasil karya gue. Sok sok puitis ye? Padahal orang aslinya kagak-,-

Okedeh, thanks’ yang udah baca pokoknya! 😉

Iklan

4 tanggapan untuk “Something in the Park

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s