Cerpen · Fiksi

Talking to The Moon

hanbyul-talkingtothemoon

Aku masih menatap langit hitam nun jauh di sana. Tak sepenuhnya hitam.

Gemerlap bintang yang bertebaran dan terangnya separuh bulan cukup menyinari kegelapan. Aku masih mengingat satu wajah itu. Wajah yang tak akan pernah kulupakan sepanjang hidupku.

“Jason, tidurlah. Ingat kalau besok kau masih punya jadwal main opera, pagi sekali mereka sudah menunggumu,”

Suara lelaki dewasa itu cukup untuk membuatku menoleh. Tangannya tergerak, mengisyaratkanku untuk segera meninggalkan balkon apartemen dan naik ke tempat tidur. Aku mengangguk, tak mau berargumen lebih panjang. Kuakui aku belum merasa mengantuk. Mataku masih ingin terbuka, menatap langit malam, dan terus mengingat wajahnya. Wajah yang kurindukan.

“Aku akan segera tidur, Kak. Kau masuklah ke kamarmu dulu,” pintaku pada Kak Jordan, lelaki yang tadi menyuruhku tidur. Ia tersenyum manis, lalu mengacak rambutku sejenak.

“Kau tahu aku tak pernah ingin memforsir waktumu. Karena itu, aku menyuruhmu istirahat. Tidurlah,”

Langkahnya yang begitu panjang perlahan meninggalkan kamarku. Segera kututup pintu balkon apartemenku dan menarik tinggi selimutku. Kutarik nafas beberapa kali, lalu menutup mataku perlahan.

Esoknya, aku langsung sibuk dengan operaku. Kami semua mengerahkan seluruh kemampuan kami demi suksesnya opera ini. Hampir dua jam kami berjuang, akhirnya tirai panggung turun perlahan menutup opera kami.

“Jason! Operamu indah sekali!”

“Peranmu singkat tapi cukup membuatku terus mengingatnya! Kau hebat, Jason!!!”

“Kau muda dan bertalenta!!! Aku iri padamu!!!”

“Aku selalu menunggu album barumu Jason! Kau yang terbaik!!!”

Beberapa teriakan fans membuatku terus melemparkan senyum tulusku usai opera tadi. Mereka begitu setia menungguku dari pagi buta sampai tengah hari demi menonton aksi panggungku yang keluar tak lebih dari sepuluh menit dari satu setengah jam pementasan. Aku hanya muncul untuk berjalan, dibentak, lalu menangis tersedu. Namun, rupanya bukan hanya aku yang menangis, tapi penonton dan kru panggung, bahkan beberapa pemain tampak berkaca-kaca melihatku.

Namaku Jason, seorang muda berusia 20 tahun yang berprofesi sebagai penyanyi lagu-lagu ballad bertemakan ‘kegelapan’ juga pemain pentas panggung sandiwara dengan spesialis peran yang paling menguras emosi karena harus terus terpuruk. Oh, begitu gelapkah dunia pekerjaanku? Percayalah kalau aku tak segelap itu. Pribadiku cukup hangat untuk siapa saja, bahkan untuk orang yang tak kukenal sekalipun.

Aku tak berani bilang aku seorang yang terkenal, tapi aku mempunyai fans yang bisa dibilang banyak dan cukup untuk membuat namaku terus dibicarakan. Seorang pengamat musik bilang aku terkenal karena aku selalu menyanyikan lagu yang sebenarnya sama sekali bukan musik yang tepat untuk suaraku, dan itulah letak keunikanku. Sebenarnya bisa diterima masyarakat di tengah pilihan musik yang begitu banyak ini sudah membuatku sumringah setengah mati.

“Heh! Jangan melambai terus! Cepat masuk mobil!”

Tangan Kak Jordan  mendorongku masuk seenak jidat saat aku masih memberikan fanservice  pada fans yang masih meneriaki namaku. Baiklah, dia manajer yang baik.

“Habis ini ke mana?” tanyaku pada Kak Jordan yang tengah menyupir.

“Ke acara ulang tahun sebuah perusahaan. Kau menyanyikan lagu Bruno Mars yang…”

“Cause every night I’m talking to the moon~, still try to get to you~,”

“Yeah, you know what I mean, Jason,”

Aku mengangguk sempurna lalu segera menenggelamkan kepalaku ke jok mobil. Kak Jordan membiarkanku tidur barang sejenak. Ia tahu perjalanan kali ini memang cukup jauh dan macet mungkin membuat kami baru sampai setengah jam lagi. Well, he’s the best brother I ever had.

Begitu sampai, seorang berjas hitam langsung mengiringi kami menuju ruang aula hotel. Tampak panggung minimalis bertengger di sudut. Orang yang mengiringiku dan Kak Jordan tadi langsung memberi kode padaku untuk segera naik ke panggung. Aku mengangguk saja dan bergegas naik.

“I know you’re somewhere out there, somewhere far away~”

Aku menutup laguku diiringi riuh tepukan tangan dari orang-orang yang sedari tadi terus memintaku mengulang lagu milik penyanyi bersuara unik bernama Bruno Mars itu. Tiga kali, yeah, sekitar tiga kali aku terus menyanyikannya tanpa henti. Talking to the Moon, itu judulnya. Judul lagu yang sebenarnya menggambarkan sisi lain diriku. Oh, forget it! Aku bisa melihat Kak Jordan memberi kode kalau kami bisa segera pulang. Segera aku bergegas mendekat padanya.

“Ayo, kita bisa pulang sekarang. Aku sudah mengosongkan seluruh jadwalmu malam ini dan besok. Kau bisa bertapa di balkon sampai kau puas,” ucapnya saat aku berada di sampingnya. Aku tersenyum riang dan segera berpamitan pada pemilik acara ini. Sebenarnya putri dari orang yang kupamiti tadi menggeretku tanpa ampun agar aku tetap di sini, tapi dengan sigap Kak Jordan berhasil membuatnya mengalah.

“Jason kelelahan pulang dari opera tadi, kau menontonnya juga kan?” itu yang dikatakan Kak Jordan padanya. Benar saja, gadis itu langsung berbalik menyuruhku bergegas pulang, membersihkan diri, dan menarik selimut tinggi-tinggi. Oh baiklah, boleh aku bilang ini kekuatan seorang fans?

Begitu sampai di apartemen, aku langsung mengganti pakaianku dan bertengger di balkon. Langit malam ini sedikit lebih cerah dari yang kemarin. Kurenggangkan sedikit otot-ototku yang kaku akibat kelelahan tadi. Kuhirup udara di sini kuat-kuat. Angin tak banyak bertiup, membuatku tak merasa kedinginan sedikit pun. Hey, bukankah selama ini memang aku tak pernah bisa merasakan kedinginan saking ‘dinginnya’ hatiku selama ini karena merindukannya?

Fiuh… angin bertiup di sekitar tengkukku, membuat tanganku refleks menggosoknya pelan.

“Eomma[1], apa kabar Eomma sekarang?” tanyaku lirih. Tanpa sadar setetes air mengalir di pipiku, mengiringiku pada ingatan lima belas tahun lalu, di saat seorang Jason kecil berada dalam situasi yang terlalu sulit untuk dipahaminya.

Hanbyul tengah bermain-main dengan riang bersama ibunya di dalam kereta yang berjalan cepat. Ia begitu hiperaktif berlarian, membuat ibunya harus berulangkali membungkuk mohon maaf atas tingkah si Hanbyul. Namun, rupanya para penumpang kelas eksekutif itu justru begitu terhibur dengan tingkah polahnya. Mereka yang awalnya begitu bosan dengan isi kereta yang sunyi senyap, mendadak ikut tertawa riang bersama Hanbyul.

 “Eomma, pipis…” rengek Hanbyul manja. Ibu Hanbyul mengangguk, dan berdiri mengantar putranya ke kamar kecil.

Jedakk!

Tiba-tiba kereta tergoyang, membuat langkah ibu dan anak Korea itu terhenti sejenak. Hanbyul langsung memeluk ibunya erat.

“Ssshhh, gwenchana chagiya[2], Eomma di sini,” Ibu Hanbyul berusaha menenangkan Hanbyul yang panik. Dalam satu gerakan, ibu muda itu menguatkan ikatan tas yang menempel di punggung Hanbyul.

Brakk!!!

Kali ini kereta benar-benar tergoncang, oleng, lalu anjlok. Mereka berdua yang berada di pinggir gerbong terjepit kursi. Hanbyul menangis keras. Ia ketakutan, namun, sebuah tangan memeluknya dan kini melindunginya dari tindihan kursi.

“Eomma…” Hanbyul menangis keras. Terdengar jeritan dari penumpang lain.

“Hanbyul, lihat celah kosong itu, Nak! Lari keluar, panggil siapa saja untuk menolong kita!” suruh Ibu Hanbyul pada putranya. Terlihat Hanbyul menggeleng kuat, namun ibunya mulai membentaknya.

“Turuti apa kata Eomma! Cepat lari keluar!”

Hanbyul yang tak mengerti apa-apa dan masih menangis kini melangkah tak tentu arah setelah berhasil melompat keluar kereta. Kepalanya menoleh ke sana ke mari, lalu mulai sadar kalau ia berada di stasiun kereta. Matanya menangkap kerumunan orang yang mendadak mendekat. Ia langsung berlari, mencari siapa saja yang mau mengeluarkan Eommanya dari jepitan kursi. Baru saja Hanbyul ingin berteriak, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan yang begitu keras.

“EOMMA!!!!!!!”

Saat itu, saat Hanbyul kecil ingin berlari ke arah gerbong tempat ibunya berada, tiba-tiba saja seseorang meraihnya dan menahan larinya. Hanbyul berontak, menangis tersedu, namun orang itu tetap menahan Hanbyul dalam dekapannya.

Seseorang itu adalah Kak Jordan di masa lima belas tahun lalu, saat ia masih berstatus mahasiswa. Kak Jordan saat itu langsung membawa Hanbyul ke rumahnya.

Tidakkah kalian mengira kalau bocah itu adalah aku? Ya, akulah Hanbyul yang kehilangan ibunya dalam kecelakaan kereta. Akulah si anak Korea yang menangis karena gagal menyelamatkan Ibu yang amat disayanginya. Akulah Hanbyul yang kini berubah nama menjadi seorang Jason yang selalu menatap langit malam karena selalu merindukan sosok yang telah melahirkannya ke dunia.

Sampai saat ini, aku tak pernah mendengar kabar tentang Eomma. Sekali pun Kak Jordan telah berusaha pontang-panting mencari kabar tentang korban kecelakaan itu, tak sedikit pun berita tentang Eomma yang berhasil di dapatnya. Tapi aku tak pernah menyalahkannya. Hey! Apa kalian kira aku orang tak tahu diuntung yang seenaknya menyalahkan orang lain? Justru aku berhutang banyak padanya, karena sejak kejadian itu ia meminta orang tuanya untuk mengadopsiku, merawatku, dan mengganti namaku menjadi Jason. Ia juga yang berjuang keras sampai aku bisa sukses seperti ini. Ia begitu baik. Sangat baik.

“Eomma, Kak Jordan sangat baik. Sangat baik. Eomma bisa mendengarku kan? Sekarang Hanbyul sudah sukses. Hanbyul sudah bisa beli apartemen untuk tempat Hanbyul dan Kak Jordan tinggal. Eomma dimana? Hanbyul yakin Eomma masih ada di dunia ini dan Eomma masih mencari Hanbyul. Eomma, Hanbyul merindukanmu…”

Celotehan dari mulutku itu tak akan berhenti sampai matahari terbit. Tak peduli jika itu artinya aku tak tidur. Selama aku bisa mengungkapkan perasaanku, selama aku masih bisa bersuara, maka aku akan tetap seperti ini. Karena aku… sangat merindukan eommaku…

Akhirnya aku memang benar-benar tak tidur. Mentari pagi sudah menyembul di ujung horizon. Aku bergegas masuk dan lari ke dapur. Tampak Kak Jordan sudah duduk manis dengan dua mangkuk sereal di depannya. Aku pun ikut duduk dan langsung saja melahap sereal tadi.

Ting Tong!

Kak Jordan tampak bergegas menuju kamera pintu begitu mendengar bel di pagi hari itu. Aku hanya melirik sedikit, lalu kembali memakan sereal pagi hariku.

“Apa benar ini apartemen Jason?”

“Kau siapa?”

“Biarkan aku masuk dulu,”

“Identitas dulu!”

Akhirnya aku menyusul ke pintu karena Kak Jordan tampak berdebat konyol dengan tamu itu. Aku mengisyaratkan agar lelaki tinggi ini segera kembali dengan sarapannya. Segera kuhadapkan wajahku di depan interkom dan tepat saat itu si tamu membuka hoodienya.

Astaga! Betapa miripnya ia dengan Eommaku…

“Kau mencariku?” tanyaku perlahan.

“Apa kau yang bernama Jason?” tanyanya balik. Oh, apa aku masih kurang populer sampai gadis ini menanyakan namaku?

“Ya, aku Jason. Ada apa?”

“Biarkan aku masuk dulu, nanti aku ceritakan,”

“Baiklah, lupakan harapanmu untuk masuk dan pergi dari sini,”

“Jjamkaman[3]!”

Aku mendadak membeku begitu mendengar teriakannya. Lidahku tiba-tiba kelu, tak sanggup berkata-kata. Perlahan kumatikan interkom dan kubuka kunci pintu apartemen. Gadis itu cukup mungil. Berdiri dengan celana jeans panjang, jaket biru tebal, dan tas yang terlihat mendominasi punggung. Ia menatapku penuh kelegaan. Ia membungkuk sedikit, lalu menarik napas.

“Boleh aku masuk?” tanyanya pelan. Aku diam, mencoba menelusuri lekuk wajahnya yang membuatku terus mengingat Eomma.

“Aku hanya melakukan permintaan Eommaku, lalu aku akan pergi dari sini,” lanjutnya, membuatku segera tersadar. Aku menariknya masuk dan mendudukkannya di sofa tamu, lalu mengambilkan segelas jus apel untuknya.

Rupanya gadis itu bernama Hanyeon. Termasuk pribadi yang hangat menurutku. Sama denganku, dia juga anak Korea yang hidup di negeri orang. Tapi apa pun itu, selama ia bercerita aku terus menatap matanya yang cerah. Jujur, rasa rinduku pada Eomma perlahan mereda begitu melihat wajahnya yang benar-benar replika sempurna Eomma. Hati dinginku perlahan bisa merasakan kehangatan lagi. Eomma…

“Eommaku adalah salah satu fansmu, bahkan sampai… sampai saat terakhirnya bulan lalu. Beliau meninggal karena kanker perut, tapi bisa-bisanya Eomma memutar lagumu sambil menangis. Terima kasih atas lagumu, Eommaku jadi punya semangat hidup. Eomma memintaku memberikan ini padamu, tolong terimalah,” Hanyeon menyodorkan amplop putih ukuran sedang padaku, lalu berkata lagi, “boleh aku duduk di balkonmu? Aku lihat pemandangan di situ lebih indah. Setidaknya sebelum aku pergi dari sini, aku bisa…”

“Lakukan apa yang kau mau Hanyeon. Sebelumnya terima kasih untuk ini,” aku langsung menyela dan membuka pintu balkon untuknya. Ia mengangguk senang, lalu segera berlari ke balkon. Kak Jordan buru-buru menyambar lenganku begitu Hanyeon sudah menikmati dunia luar.

“Siapa dia?”

“Lucky fans,”

“Buka amplop itu, Jason,”

Rupanya Kak Jordan juga melihat amplop yang kupegang. Jujur aku juga penasaran setengah mati dengan isinya. Ditambah dengan… oh, sudah berapa kali aku bilang kalau wajah Hanyeon mirip dengan Eomma? Langsung saja jemariku merobek amplop itu dan mengeluarkan isinya yang ternyata selembar surat. Kak Jordan menarikku duduk.

Teruntuk anakku Hanbyul, yang kini telah bahagia.

Hanbyul, apa kabarmu, Nak? Ini Eomma yang mengusirmu dulu waktu di kereta. Eomma yang dulu membentakmu agar kau cepat keluar kereta. Maafkan Eomma Nak, maafkan Eomma. Saat itu hanya itu yang Eomma bisa lakukan agar kau selamat. Buktinya, kau sekarang bisa membaca surat ini, kan?

Jang Hanbyul, kini kau sudah sukses. Eomma mendengar setiap orang membicarakanmu. Eomma juga sangat menyukai lagu-lagumu. Jangan bilang semua lagumu tercipta karena kau merindukan Eomma! Liriknya benar-benar membuat Eomma selalu menangis sekali pun hanya mendengarnya setengah menit. Eomma benar-benar tak tahu kalau bakat mendiang Appa[4]mu menurun padamu. Eomma mohon, teruskan bakatmu, nak. Eomma menyukainya.

Hanbyul, kau sudah bertemu Hanyeon? Bagaimana? Apa dia anak yang baik? Dia adikmu, Hanbyul. Iya-iya, mungkin Hanbyul kecil tak pernah tahu kalau Eommanya sedang mengandung saat kecelakaan kereta itu terjadi. Sebenarnya saat itu ada seorang wanita menolong Eomma. Ia menarik Eomma keluar dan membawa Eomma ke rumah sakit. Sejak saat itu, Eomma hidup bersama wanita itu sampai Hanyeon lahir. Ia tak pernah tahu kalau ia punya seorang kakak. Temuilah dia, beritahu kalau kalau kakaknya adalah seorang penyanyi muda bernama Jason.

Haruskah sekarang Eomma memanggilmu Jason sekarang? Oh, betapa pantasnya nama itu dengan sosokmu. Tapi Eomma mohon jadilah dirimu yang sebenarnya, Nak. Jujur, Eomma sangat ingin kau memperkenalkan diri dengan nama “Hanbyul” di publik. Akh, abaikan yang ini. Mungkin jika namamu berubah, malah fansmu berkurang. Tetap seperti ini saja  ya…

Maafkan Eomma, Hanbyul. Eomma tak sempat bertemu denganmu karena waktu Eomma sudah habis. Tapi percayalah, Eomma selalu ada di dekatmu. Jaga dirimu baik-baik, Eomma titip Hanyeon ya…

Dari Eommamu,

 

Seluruh tubuhku mendadak gemetar membaca surat ini. Titik-titik air tampak membasahi kertas surat karena air mataku juga tumpah. Kak Jordan merangkulku dari samping. Ia tahu apa yang kubutuhkan sekarang. Tempat untuk menumpahkan semuanya. Menumpahkan semua yang kupendam 15 tahun ini.

Eommaku telah tiada. Eommaku telah pergi.

“Maaf, ada apa ini?”

Hanyeon bertanya dengan raut polosnya begitu tahu aku tengah menangis. Aku berdiri dan mendekapnya erat. Hanyeon hanya terdiam dalam dekapanku tanpa berusaha menjauh atau pun menanyakan hal lain. Ia benar-benar diam sekali pun kini tangisku juga kian parah.

“Tinggallah di sini Hanyeon. Tinggal bersama Kakak ya…” ucapku pelan di sela tangisku.

*

“Hanbyul, apa kau ingin punya adik?”

“Iya Eomma! Hanbyul pengen temen main!”

“Bagaimana kalau Eomma tiba-tiba harus pergi? Siapa yang jaga adikmu nanti?”

“Hanbyul yang jagain! Pokoknya Eomma jangan khawatir, pasti Hanbyul bantuin Eomma jagain Adek…”

Seorang ibu muda itu tertawa kecil mendengar celotehan putranya sembari menunggu kedatangan kereta. Sesaat ia melupakan kepergian suaminya yang menjadi korban kecelakaan pesawat yang baru saja ia dapat kabarnya kemarin. Celotehan bocah lelaki kecil ini membuat si ibu muda terus tersenyum manis.

“Eomma mau tahu, siapa nama adik Hanbyul nanti?” ibu muda itu bertanya lagi pada anaknya yang asyik bermain mobil-mobilan mininya. Anak itu menoleh dengan matanya yang selalu berbinar. Dengan mantap ia menjawab,

“Hanyeon! Jang Hanyeon!”

*


[1] ibu

[2] Tidak apa-apa sayang

[3] Tunggu!

[4] ayah

Iklan

Satu tanggapan untuk “Talking to The Moon

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s