seri 3 pake (c)read Talking to The Moon here

~

                Angin yang berhembus membuatku terpaksa mengeratkan jaket untuk kesekian kalinya. Gerimis juga menambah penderitaanku. Eomma, kau harus tahu betapa hebatnya aku hari ini!

                “Hanyeon! Kau lupa membawa buburmu!”

Seruan seseorang membuatku berbalik. Tampak seorang gadis yang sebaya denganku tengah berdiri di pinggir jalan sambil mengacungkan kotak makan. Ia berlari kecil ke arahku lalu menyerahkan kotak itu padaku. Matanya berbinar cerah.

“Bibi harus cepat sembuh. Ibu bilang orang sakit makannya bubur, jadi ini dibawa ya?” pintanya. Aku tersenyum.

“Aku bukan lupa, tapi kau yang ingin aku membawanya. Terima kasih, Eomma pasti senang,” balasku lalu segera berlari lagi. Berlari ke rumah sakit.

*

Krieet… Kubuka pelan pintu kamar Eomma. Terdengar suara nyanyian kecil.

“Mengapa suaramu selalu membuatku menangis?”

Kepalaku terangkat begitu mendengar Eomma terisak. Astaga… Lagi-lagi penyanyi bernama Jason! Aku langsung menutup pintu dan bergegas mendekati Eomma yang menonton acara tv yang menayangkan penyanyi muda mellow itu.

Eomma hanya sekilas melihat ke arahku, lalu kembali menonton tv. Tak kuambil pusing. Aku menyiapkan bubur yang tadi dibawakan Keola dan menaruhnya di meja nakas. Setelah mengambilkan segelas air putih, akupun mendekati Eomma.

“Eomma, makan dulu ya? Keola yang membawakan ini…” bujukku pada Eomma yang memejamkan dan menggerakkan badan mengikuti lagu milik Jason. Aku menggoyangnya pelan. “Eomma…” panggilku halus.

Wanita anggun itu membuka matanya dan menatapku, lalu segera mengangguk. Kutarik meja nakas mendekati kasur Eomma dan aku mulai menyuapnya. Sesekali Eomma merengek minta minum, dan segelas air putih tadi benar-benar menolongnya. Aku tersenyum tiap kali Eomma tertawa karena acara tv favoritnya.

Beliau seorang single parent, wanita tangguh, sekaligus lemah lembut. Seorang diri Eomma merawatku sejak aku baru bisa membuka mata. Ia sosok yang amat membuatku kagum. Sekalipun aku kadang berharap memiliki anggota keluarga lain selain Eomma, tapi melihat senyumannya yang selalu mengembang sepanjang hari membuatku segera melupakan keinginan itu. Eomma saja, cukup.

Kini ia tergolek lemah di atas ranjang rumah sakit karena kanker perutnya yang sudah mencapai stadium akhir. Pekerjaannya sebagai koki roti di sebuah toko kugantikan sementara. Bukannya gila harta, tapi aku juga harus memikirkan biaya rumah sakit, biaya makanku sendiri, ditambah biaya sekolahku yang tak mungkin kuhentikan di tengah jalan. Terbiasa hidup dengan kerja keras membuatku ringan saja melakukan itu semua. Pulang dari kuliah, lari ke toko roti, lalu kembali ke rumah sakit malam harinya. Ya, itu yang kulakukan selama dua bulan ini.

“Jason lagunya baru…” celetuk Eomma.

“Nanti Hanyeon belikan kasetnya,”

“Jangan, untuk sekolahmu saja. Di tv masih diputar kok…”

Aku yang sedang merapikan bekas makan Eomma hanya bisa menarik napas. Beliau sangat mengidolakan Jason, seorang penyanyi muda yang kadang juga main opera. Entah apa yang disukai Eomma, yang jelas tiap kali aku tidur di sampingnya pasti ia akan menyanyikan lagu Jason. Pernah aku bertanya pada Eomma, mengapa ia sangat menyukai Jason. Tapi jawabannya selalu membuat hatiku mencelos.

“Karena suaranya, lagunya, juga wajahnya yang mirip denganmu. Hanyeon versi laki-laki,”

Itu jawaban Eomma tiap kali aku bertanya. Yah, kuakui wajahku mirip penyanyi itu. mungkin karena kami sama-sama memiliki darah korea. Korea? Ya, tentu saja. Aku memang punya darah korea dari Eomma dan Appa yang sudah meninggal sebelum aku lahir. Sedangkan Jason… Entah, Eomma bilang ada.

“Tidurlah, sayang. Kau belum istirahat sama sekali, kan?” suruh Eomma. Matanya memandangku sayu. Aku mengangguk patuh dan segera menenggelamkan diri di sofa kamar. Akh… Tubuhku lelah…

*

Kakiku melangkah tergesa menyusuri lorong rumah sakit. Tanganku masih menggenggam sebuah surat yang membuatku sumringah seharian penuh. Laporan hasil semester yang memuaskan dengan kategori nilai A tampak melunjak-lunjak mengikuti kegiranganku. Beberapa orang memberiku sumpah serapah karena aku menabrak mereka sembarangan. Persetan dengan mereka, yang penting aku harus segera bertemu dengan Eomma!

Brak!

“Eom…”

Tiba-tiba langkahku terhenti dan mulutku terkunci rapat. Di dalam kamar Eomma tampak seorang dokter dan susternya tengah menangani Eommaku dengan raut wajah panik. Aku mendekat, tapi suster yang lain sudah menahanku.

“Ada apa dengan Eommaku, Suster?!” tanyaku histeris. Suster itu masih menahanku.

“Tunggu sebentar, Nyonya Jang sedang diperiksa…”

“Apa yang terjadi padanya?! Apa yang terjadi sampai kalian sepanik itu?! Ceritakan padaku! Ceritakan!!!”

Di tengah kehisterisanku dan kesusahpayahan suster ini, tiba-tiba dokter yang tadi berada di dalam kamar Eomma keluar dengan ekspresi yang tak kuinginkan. Ia menyuruh suster itu untuk melepasku dan membiarkanku berlutut, meraung-raung memohon penjelasan tentang keadaan Eomma. Sorot matanya sangat kelam, membuatku makin ketakutan.

“Maafkan kami, kami sudah berusaha sekuat tenaga…”

Akhirnya tangisku tumpah mendengar suara dokter muda yang terlihat frustasi itu. Aku seperti merayap di lantai rumah sakit. Laporan hasil semester yang kubawa entah sejak kapan telah basah dan lusuh dalam genggamanku. Tak kupedulikan orang-orang yang berusaha menghalauku saat aku mencoba menggapai tangan hangat Eomma.

“Eomma… izinkan Hanyeon menangis hari ini…” lirihku pelan.

Sore itu, aku merasa berubah menjadi liliput kecil di antara kumpulan raksasa. Takut, sedih, dan berduka.

*

Aku sudah siap dengan jaket dan tas punggung yang penuh dengan pakaianku. Aku masih bisa mendengar Keola meraung-raung pada ibunya untuk memaksaku tetap tinggal di rumah mereka. Aku diam saja. Tak mempedulikan Keola.

“Nyonya Jang menyimpan ini dibalik selimutnya. Ini jelas untuk Saudara Hanyeon,”

Mataku beralih pada amplop yang bertengger manis di meja kecil di depanku. Ku raih salah satunya yang masih terbungkus rapi sementara yang satu lagi langsung ku masukkan dalam saku jaket. Pesan Eomma membuatku menarik napas. Isinya sampai dua lembar, tapi ada satu hal yang kuingat. Hal yang membuatku mengambil keputusan besar ini.

Hanyeon, Eomma mohon. Tolong antarkan surat yang satu lagi pada Jason. Ini bukan sekedar surat fans biasa. Ini sangat penting. Setelah itu,  kalau kau tak keberatan, keluarlah dari rumah yang kita tinggal selama ini. Eomma merasa tak enak dari dulu kita menumpang tinggal dengan orang lain.

Aku bergegas keluar kamar dan kudapati Keola masih menangis. Aku tak mau melihat wajahnya, yang mungkin saja membuatku malah merubah keputusanku ini. Segera kutemui Ibu Keola yang duduk dalam diam.

“Hanyeon pamit, Tante. Terima kasih mau menerima Hanyeon dan Eomma lima belas tahun ini…”

Tiba-tiba saja Keola memelukku erat. Jaketku bahkan sedikit basah karena tangisnya.

“Tinggallah di sini…” lirihnya pelan. Dalam diam ku lepas pelukannya dan ku tatap matanya dalam.

“I can’t,”

Segera ku langkahkan kakiku keluar rumah meskipun raungan Keola makin keras terdengar. Ku sempatkan sejenak untuk berhenti di depan pagar untuk sedikit membungkuk, hal yang diajari Eomma untuk berterima kasih sekaligus menghormati orang lain. Dalam rumah itu telah kulewati masa lima belas tahunku hidup. Bahkan kepergian Eomma juga kulewati waktu aku masih tinggal di sana. Terlalu kurang ajar andai aku meninggalkan rumah ini tanpa penghormatan. Dalam pelan, aku masih sempat berucap,

“Terima kasih…”

*

Tepat jam tujuh pagi. Baru satu setengah jam lalu aku meninggalkan rumah Keola, tapi rasanya aku sudah sangat merindukan tempat itu. Biasanya jam segini aku sudah bersiap menuju kampus dan Keola merengek memintaku mengantarnya ke sekolah. Hosh! Lupakan itu, Hanyeon! Hadapi keputusan yang kau sudah pilih!

Kini aku berdiri tegak di depan pintu apartemen. Jantungku seakan berdegup sekian kali lebih cepat. Pintu ini adalah pintu apartemen Jason. Aku mendapatkan alamatnya dari surat Eomma. Segera kupencet tombol yang berada di dekat interkom.

Ting Tong!

Muncullah seorang laki-laki di layar interkom itu. Aku mendekat, mencoba bicara.

“Apa benar ini apartemen Jason?”

“Kau siapa?”

“Biarkan aku masuk dulu,”

“Identitas dulu,”

Aku hampir saja berdebat dengan lelaki bersuara bass itu andai sebuah tangan tidak menariknya mundur. Aku sedikit menunduk, lalu segera mendongak lagi sambil melepas hoodie yang menutup kepalaku.

Astaga! Dia Jason!

“Kau mencariku?” tanyanya perlahan.

“Apa kau yang bernama Jason?” tanyanya balik sambil berusaha mati-matian untuk tidak gelagapan. Ia menatapku malas, lalu segera menjawab lagi.

“Ya, aku Jason. Ada apa?”

“Biarkan aku masuk dulu, nanti aku ceritakan,”

“Baiklah, lupakan harapanmu untuk masuk dan pergi dari sini,”

“Jjamkaman[1]!”

Jason terlihat kaget saat aku tiba-tiba berteriak menahannya. Dengan ekspresi yang sama, ia mematikan interkom dan membuka pintu apartemennya. Ia terlihat masih acak-acakan, mungkin baru bangun. Aku menatapnya lega. Segera ku bungkukkan tubuhku dan ku tarik napas panjang.

“Boleh aku masuk?” tanyaku pelan. Ia terdiam dan justru malah memandangku aneh. Ia seperti mengingat sesuatu.

“Aku hanya melakukan permintaan Eommaku, lalu aku akan pergi dari sini,” lanjutku, membuatnya sedikit kaget. Ia menarikku lembut dan mendudukkanku di sofa. Entah sejak kapan, tangannya tiba-tiba sudah memegang segelas jus dan menyodorkannya padaku.

Segera ku ceritakan semua kisah Eomma pada Jason setelah meneguk habis segelas jus apel tadi. Ia juga menanggapi ceritaku seakan kami telah kenal cukup lama. Mataku sempat beradu pandang dengan penyambutku tadi. Ia sedang sarapan dan mengawasi kami. Ku alihkan wajahku ke arah Jason lagi.

“Eommaku adalah salah satu fansmu, bahkan sampai… sampai saat terakhirnya bulan lalu. Beliau meninggal karena kanker perut, tapi bisa-bisanya Eomma memutar lagumu sambil menangis. Terima kasih atas lagumu, Eommaku jadi punya semangat hidup. Eomma memintaku memberikan ini padamu, tolong terimalah,” ku sodorkan amplop putih yang tadi kumasukkan dalam saku jaket, lalu berkata lagi, “boleh aku duduk di balkonmu? Aku lihat pemandangan di situ lebih indah. Setidaknya sebelum aku pergi dari sini, aku bisa…”

“Lakukan apa yang kau mau Hanyeon. Sebelumnya terima kasih untuk ini,” Jason langsung menyelaku dan membukakan pintu balkon. Aku mengangguk lega dan segera berlari keluar. Sebenarnya ini hanya alasan agar aku bisa sedikit melepas tegang. Tak apalah, sekalipun pemandangan di sini cukup membosankan. Hanya gedung-gedung pencakar langit yang ada sejauh mata memandang.

Cukup lama aku berada di luar dan kuputuskan untuk segera masuk. Namun, tiba-tiba saja aku sudah disambut dengan Jason yang menangis dalam rangkulan lelaki yang menyambutku tadi.

“Maaf, ada apa ini?” tanyaku penasaran.

Siapa yang menyangka kalau tiba-tiba Jason berdiri dan mendekapku erat. Aku membeku, tak sanggup melakukan apapun selain diam dalam pelukan Jason. Tangisannya makin keras, membuatku makin tak bisa berpikir jernih.

“Tinggallah di sini Hanyeon. Tinggal bersama Kakak ya…”

Sekalipun ia berucap dalam lirih, aku masih sanggup untuk mendengarnya. Apa ia bilang?! Kakak?! Segera kudorong tubuhnya, membiarkan ia menatapku heran.

“Aku tak mengerti maksudmu! Aku kemari hanya untuk mengantar pesan dan segera pergi! Permisi!” bentakku sambil membuang tangan Jason yang berusaha meraihku.

Aku langsung berlari ke arah pintu tanpa mempedulikan Jason yang menyebut namaku dalam lirih. Jujur, langkahku goyah mendengarnya. Namun segera ku kuatkan diriku kembali dan aku bergegas membuka pintu.

“Tunggu!”

Langkahku terhenti mendengar teriakan suara berat. Kutolehkan kepalaku perlahan dan kudapati lelaki tinggi besar itu menatapku. Ia lalu menyodorkan surat dari Eomma untuk Jason.

“Bacalah, kau akan tahu kenapa Jason memintamu tetap di sini,” suruhnya.

*


[1] Tunggu!

Iklan