Through an AffairWanita berperawakan kecil itu masih menatap cincin yang melingkar di jari manisnya. Cincin berwarna keperakan dengan permata kecil sebagai mata cincin. Itu cukup terlihat mewah sekaligus elegan.

Tapi ekspresi pemiliknya sama sekali tak menunjukkan sedikitpun kegembiraan. Hanya tampak kesunyian di sana.

Tap tap…

Wanita itu menoleh saat mendengar suara sepatu beradu dengan jalan. Jalan ini cukup sepi, tapi bukan itu alasan yang membuat perhatiannya tiba-tiba teralihkan.

Si wanita sangat mengenal suara langkah itu.

“Daniel!” panggil wanita itu sekeras mungkin.

Tak ada yang merasa terpanggil.

“Daniel!!!” serunya lagi. Beberapa orang menoleh ke arah wanita itu, namun bukan mereka yang dipanggil.

“Daniel Armand Lee!!! Can’t you hear me?!” pekik si wanita lebih kencang. Napasnya terengah-engah setelah mengeluarkan teriakan sekeras itu.

Wanita itu terlihat sedikit lega saat seorang pria yang menggendong anak kecil menghentikan langkah dan membalikkan badan ke arahnya. Wanita itu segera berlari menghampiri pria yang dipanggilnya.

“Everything is done, Sandara! Everything about us!” seru Daniel mantap, sebelum wanita itu berhenti dari larinya.

Wanita bernama Sandara itu mendongak sejenak ke arah langit, lalu kembali menatap Daniel.

“Why?” tanya Sandara lirih. Daniel tersenyum tipis. Tangannya mengusap pelan rambut anak dalam dekapannya.

“I love them. My daughter, my wife, I love my family. I need them, not you,”

“I’m your girl, Daniel!”

“You were my girl!”

Sandara menyeka air mata yang turun di pipi tirusnya. Ia terlihat sangat menderita. Oh, mini skirt itu tentu saja terlalu buruk untuk musim salju seperti ini.

“Please, Daniel… You know how much I love you and I believe that you still love me too,”

“You are wrong, Sandara. We don’t love each other. We just got confused because of our problem. You love Jiyong, I love Hyejung.”

Sandara menggeleng pelan. Matanya menatap anak kecil dalam dekapan Daniel nanar. Sekilas teringat wajah Jiyong di benaknya. Wajah sang kekasih yang –menurutnya- telah mencampakkannya. Wajah seseorang yang telah menyematkan cincin ke jari manisnya.

Jiyong terlalu sibuk dengan pekerjaannya dan Sandara merasa tersingkirkan. Jiyong lebih muda darinya, mungkin itu yang kadang membuat Sandara berpikir kalau Jiyong terlalu kekanakan. Tidak, Sandara tak mungkin masih menyimpan hati untuk Jiyong.

“No, Daniel. Ji doesn’t need me. I can’t love him anymore,”

“You can, but you never try,”  jawab Daniel. Anak dalam dekapannya sedikit menggeliat, tapi Daniel cepat-cepat menenangkannya.

“Listen, Sandara, I’m sorry. Thanks, you gave me a lot of sweet memories –even though I couldn’t give you anything. You… akh, I don’t know how to say it, but I choose my family. Hyejung loves me more than you. She knew what happen between us, but she still stay beside me, encourage me. Just stop it, Sandara. We’ll hurt them if we don’t stop. Hyejung and Jiyong,” ujar Daniel tenang. Sandara hanya terus menggeleng. Ia sedikit tak mau menerima keadaan.

Sandara tiba-tiba mengingat kenangan manis tentang Daniel dan dirinya. Kenangan di mana ia menggelayut manja di lengan Daniel. Kenangan di mana mereka berjalan menyusuri jembatan diselingi candaan ringan. Kenangan saat Daniel memeluknya hangat. Kenangan saat mereka berbagi kasih. Mereka menikmatinya, Sandara yakin akan hal itu.

Sebenarnya semua diawali saat Sandara berusaha menjauh dari Jiyong. Benar-benar menjauh. Jangankan mengunjungi apartemen Jiyong, melewati tempat kerjanya pun ia tak mau. Sandara ingin melepas sakit hatinya dengan melupakan Jiyong.

Sampai akhirnya Sandara bertemu dengan Daniel di sebuah bar kecil di sudut kota. Mungkin saat itu mereka mabuk, tapi seingat Sandara, ia dan Daniel tanpa ragu saling menceritakan masalah masing-masing. Daniel bermasalah dengan studinya dan itu mengancam pekerjaannya. Mereka sama-sama frustasi saat itu, namun merasa sedikit lebih baik saat mereka bersama.

Dan dari sanalah semua dimulai.

Sandara tahu kalau sebenarnya Daniel sudah berkeluarga, tapi ia tak peduli. Toh saat mereka bersama, hanya berdua, Daniel benar-benar hanya melihatnya. Sandara tak pernah menemukan sosok lain di mata Daniel selain dirinya.

Atau mungkin… Sandara tak peduli akan hal itu.

Perlahan, Sandara mulai bangkit dan masalah Daniel pun mulai menunjukkan jalan terang. Sandara sempat bepikir kalau ini karena mereka melewati semuanya bersama-sama dan ia yakin mereka saling mencintai.

Namun semua tiba-tiba hancur saat Daniel mengajaknya ke sebuah café di depan sebuah department store. Mulanya Sandara mengira ini hanya kencan biasa, tapi semua jelas terlihat salah saat seorang wanita yang menggandeng anak kecil menghampiri mereka. Sandara tahu itu Hyejung, istri Daniel dan anak kecil itu Haru, anak mereka. Sandara sedikit terkaget saat mendengar panggilan Hyejung untuk Daniel.

“Armand!”

Sandara tak pernah memanggil Daniel dengan nama itu. Tepatnya Daniel tak pernah mau dipanggil seperti itu. Ia tak nyaman, katanya.

Tapi Hyejung baru saja menyebut ‘Armand’ dan Daniel terlihat biasa saja. Bahkan pria itu menyambutnya dengan kecupan lembut di pipi Hyejung, di depan mata Sandara. Cukup untuk membuat Sandara panas.

Hyejung hanya mampir sebentar lalu segera keluar dari café. Daniel juga terus menunjukkan senyumnya sampai Hyejung tak lagi terlihat. Sandara mulai tak nyaman, berperasangka buruk terhadap Daniel.

Benar saja, itu terjadi.

Daniel memutuskan hubungan mereka. Daniel memintanya untuk memulai hubungan mereka sebagai sepasang teman, bukan sepasang kekasih. Ia bilang kalau Hyejung telah mengetahui semuanya dan Daniel tahu pasti Hyejung terluka. Daniel tak ingin mengoyak luka itu lebih dalam.

Dan sekalipun Sandara memohon pada Daniel untuk tak pernah memutuskan hubungan mereka, Daniel justru keluar dari café dengan alasan ia menyayangi Hyejung lebih dari apapun, lebih dari Sandara. Sukses benar Sandara merasa terbuang.

Kini ia berdiri di depan Daniel, memohon semuanya lagi sekalipun jawaban Daniel tak pernah berubah. Sandara –merasa- ia hanya membutuhkan eksistensi Daniel, bukan orang lain.

“Daniel, can’t we…”

“We can’t, Sandara. You know my answer,” jawab Daniel tegas. Sandara telah berderai air mata, jatuh terduduk di tempatnya berdiri.

“Sorry, Sandara. Hyejung is waiting for us in the car. I hope I can see your smile soon,” ucap Daniel lalu segera membalikkan badannya dan melangkah dengan cepat. Bahkan Sandara baru menyadari kalau daritadi Daniel membawa paperbag berisi roti yang ujungnya mencuat keluar.

Langkah itu menjauh seiring dengan tangis Sandara yang menyayat. Tak tersisa sedikitpun kekuatan di sana. Sandara merasa benar-benar terpuruk.

“Where have you been, Dara?”

Suara itu membuat Sandara terpaku.

Suara khas.

Suara yang sangat dikenalnya.

“Do you know, how much I miss you?”

Sandara masih terdiam. Ia berusaha mencerna semuanya saat kehangatan menjalar di tubuhnya lewat pelukan seseorang dari belakang. Sandara juga sangat mengenal pelukan ini.

“I’m Ji, Dara. Let’s go home…” ucap suara itu lagi. Sandara segera membalikkan badannya dan memeluk orang itu erat.

Orang itu Jiyong dan Sandara sadar kalau sesungguhnya ia lebih merindukan –dan membutuhkan- eksistensi Jiyong daripada Daniel. Sandara menenggelamkan wajahnya di bahu Jiyong.

“I miss you too, Ji. I miss you too…” lirih Sandara.

Masih tetap memeluk Jiyong dengan posesif. Sandara tak ingin salah langkah lagi. Cukup sekali dan itu terlalu buruk.

Sangat buruk andai terulang kembali…

Iklan