Kau buru-buru membuka pintu dan memasuki perpustakaan, takut ada yang mengambil novel yang telah kau incar sejak hari pertama orientasi sekolah. Hiruk pikuk masa perkenalan itu membuatmu hanya sempat sekilas melihat deretan koleksi perpustakaan tanpa sempat meminjamnya. 

Dan bodohnya baru hari ini kau mengetahui bahwa siswa baru belum boleh meminjam apapun dari perpustakaan sebelum memiliki kartu pelajar.

Jadilah kau memilih melewatkan menu makan siang hari ini demi Anna and The French Kiss impianmu. Bye bye sup ikan…

Senyummu mengembang cerah saat novel itu masih berada tepat di tempat terakhir kali kau melihatnya. Cepat sekali kau ambil novel itu dan duduk di kursi kosong di sudut ruang, tepat di depanmu adalah rak berisi koleksi komik. Rencananya setelah kau habiskan novelmu, kau akan melihat-lihat komik di sana, barangkali ada yang menarik. Tapi hanya setelah kau habiskan novelmu. 

Juga andai tak ada novel lain yang menggoda. Kalau tak salah ada Angel of Morning Star Club yang direkomendasikan Stella, sahabat kecilmu, di sudut rak. 

Bruk! 

Kau baru membuka halaman pertama saat beberapa komik jatuh dari rak. Refleks kau menoleh dan tampak seorang laki-laki membereskan komik-komik yang berserakan di lantai dengan wajah memelas. Matanya besar, senada dengan kantung matanya yang seakan menggambarkan jadwal tidur tak teratur. Sepertinya dia seangkatan denganmu, di lengannya ada badge satu garis warna biru, tanda angkatan pertama. Kau mulai menebak apakah memang itu ekspresi aslinya atau dia hanya berusaha terlihat tak berdaya untuk mengundang simpati penjaga perpustakaan. 

Padahal penjaga perpustakaan hanya tertawa kecil lalu memberi kode pada pria itu untuk merapikan komik-komik itu lagi. 

Berarti itu memang wajah aslinya.

“Ada-ada saja…” gumammu pelan dan kembali fokus dengan novelmu, tenggelam sampai bel berbunyi tanda jam makan siang telah selesai. 

Dan kau mengembalikan novel itu di rak untuk segera kembali ke kelas. 

Oh, pria tadi juga sepertinya sudah kembali ke kelas. Hanya kau siswa terakhir di sana.

~~

Esoknya kau kembali ke perpustakaan di jam makan siang untuk membaca novel yang sama. Menu nasi goreng kimchi rupanya tak bisa menggodamu. Separuh novel yang belum terjamah nampaknya lebih menggiurkan di matamu. 

Saat kau masuk laki-laki kemarin terlihat duduk di lantai, bersandar pada rak koleksi komik. Kalau tidak salah ia sedang membaca komik One Piece, ada Luffy di covernya. Mungkin karena kau tak pernah melihat orang lain di area itu sehingga kau mudah mengenalinya. 

Tak perlu waktu lama untukmu segera membaca lagi Anna and The French Kiss yang tersisa. Kali ini kau menikmatinya sembari mengunyah potongan kiwi dan stroberi yang dibawakan ibumu pagi tadi. Ah, pantas saja kau mampu menolak nasi goreng. 

“Eh bocah! Ayo latian! Pake kabur segala!”

Puluhan pasang mata, termasuk milikmu, langsung mengarah ke pintu masuk. Ada seorang tinggi yang mencak-mencak di sana. Dia melihat ke arah laki-laki yang tadi pertama kali kau lihat dengan raut wajah kesal tak terkira. 

Sampai lupa kalau ia tergolong berisik di dalam perpustakaan. 

Tapi rupanya penjaga perpustakaan orang yang sangat baik hati. Ia hanya menoleh ke arah pria yang sedang membaca komik, memberinya kode untuk segera menyusul manusia tinggi tadi. Yang diberi kode mengangguk penuh tatapan terima kasih sekaligus penyesalan dan langsung berlari keluar. 

Puluhan pasang mata yang tadi terusik kemudian kembali tenggelam dalam urusan masing-masing. Termasuk dirimu yang mulai gundah karena kau hanya perlu membaca 50 halaman lagi dan kau akan menjumpai sampul belakang. Angel of Morning Star Club juga tak ada di tempatnya kemarin, sedangkan novel-novel lain tak ada yang menarik. Mau menikmati istirahat di luar perpustakaan, tapi suasana di dalam terlanjur membuatmu nyaman. 

Dan yang nyaman memang menyenangkan. 

“Ayo ke kelas, ada pembagian kartu pelajar,” tiba-tiba ada yang menepuk bahumu tepat saat kau membaca kalimat terakhir novel itu. 

Oh, teman sebangku rupanya. 

“Beneran nih? Duluan aja deh, ni balikin buku dulu,” sahutmu ramah. 

Ia mengangguk dan melenggang keluar, lalu kau menyusul setelah merapikan kotak buahmu. Kau melewati rak komik dan matamu menangkap deretan Naruto di sana. 

Baiklah, dapat sasaran selanjutnya. 

~~

Ini adalah hari ketiga kau memilih perpustakaan untuk membuang waktu. Bedanya kau datang sebelum bel istirahat berbunyi karena guru yang bertugas cuti entah ke mana, kotak buahmu lebih besar dari yang kemarin, dan kau langsung memilah komik, bukan novel seperti kemarin. Niatnya kau ingin memilih Naruto, tapi rupanya ada Detective Conan dan Doraemon juga yang membuatmu bimbang. Akhirnya kau memilih Tokyo Ghoul dan langsung duduk meluruskan kaki di lantai serta bersandar pada tembok. 

Dasar aneh. 

Kau hampir membuka halaman pertama saat kau menyadari ada orang lain yang lebih dulu hadir dalam perpustakaan sebelum dirimu. Sosok itu ada di balik rak, terdengar merutuk kecil sambil mendengus. Penasaran, kau memilih untuk menengok si pemilik dengusan. 

Rupanya si pria pembuat keributan kemarin. Ia tampak merayap dan merogoh bawah rak komik. Tentu saja kau mengernyit kebingungan. Ia tampaknya sedang mencari sesuatu, tapi kenapa sambil meraba-raba? Kenapa tidak dilihat saja lalu diambil? Kenapa dia selalu berhasil mencuri perhatianmu? 

Kemudian kau melihat kacamata berbingkai hitam yang sepertinya terlempar di sudut perpustakaan. Cukup jauh memang dari pria itu, tapi kau yakin tak ada hal lain yang sepertinya dicari si pria. Sigap kau ambil kacamata itu dan menyodorkannya.

“Nyari kacamata ini bukan?” tanyamu ragu. Seketika kau melihatnya tersenyum lega dan langsung menerima kacamata darimu. 

“Aduh makasih ya! Dah hampir putus asa gue nyariin… Eh? Bukannya lo yang kemaren baca novel di sana? Suka komik juga ya?” ucapnya sambil memakai kacamata. 

Eh? Dia menyadari keberadaanmu?

“Eung… Kok tau gue baca novel?” tanyamu.

“Gue dari awal sekolah di sini tiap hari mainnya di perpus, nah biasanya orang-orang masuk perpus langsung belok ke arah koleksi iptek, jadinya gue inget aja yang main di koleksi intermezzo gini…” jawabnya. 

“Perasaan lo kemaren bacanya gak pake kacamata, gue gak salah liat kan?” lagi-lagi kau bertanya. Ia tertawa kecil. 

“Gue minus banyak, cuma biasanya pake lensa kontak, tadi pagi lensanya dibuang Hwanhee ke tong sampah, makanya gue pake kacamata…”

“Hwanhee?”

“Oh, Hwanhee adek gue. Baru tiga taun sih, gak tega mau nyemprot,”

Manggut-manggut kau memahaminya. Rupanya ia pria yang ramah dan pantas saja penjaga perpustakaan begitu baik padanya, rupanya ia pengunjung tetap.

Walaupun aneh juga menjulukinya pengunjung tetap, toh dia juga angkatan baru sepertimu.  Mana mungkin ia benar-benar sesering itu mengunjungi perpustakaan untuk bisa dijuluki pengunjung tetap. 

“Nama gue Eunha, dari kelas B,” ucapmu sambil menyodorkan tangan. Ia sedikit terkejut, lalu tersenyum lagi. 

“Changhyun, kelas A,” jawabnya sambil menjabat tanganmu. 

Tak perlu juga sebenarnya. Kau langsung tahu namanya Lee Changhyun saat membaca nametagnya. Anggap saja basa basi. 

Tapi kalau Changhyun kelas A, kenapa kau merasa tak pernah melihatnya? Seharusnya kelas kalian berdampingan kan? 

“Minggu depan hari terakhir pendaftaran klub ya?” tanyanya. 

“Wah iya bener, minggu depan. Lo daftar klub apa? Manhwa?” tanyamu balik. 

Changhyun mengernyit dan kau ikut kebingungan. 

“Gue udah jadi anggota klub dance dari tahun lalu btw, jadi nggak daftar tahun ini,” jawabnya.

“Ha? Emangnya kalo klub dance bisa daftar dari SMP ya?”

“Ha?”

“Kita seangkatan kan?”

Tawa Changhyun pecah mendengar pertanyaanmu sementara kau kebingungan dan berpikir keras, bagian mana yang lucu. 

“Kok ketawa sih?”

“Gue yang tampil di penutupan orientasi kemaren, lo gasadar?” 

Yang kau ingat waktu penutupan hanya penyanyi perempuan dari angkatan terakhir dan Masked Crew, tim dancer bertopeng yang sukses membuat penutupan orientasi jadi benar-benar meriah. Kau tak ingat ada Changhyun di atas panggung. 

Tunggu. 

Tim dancer bertopeng? 

“Lo anggota Masked Crew?!” pekikmu, tak peduli aturan umum perpustakaan adalah harus menjaga ketenangan. Changhyun mengangguk senang. 

“Iya gue anggota Masked Crew dan gue angkatan kedua,”

“Kok badge lo masih satu garis? Harusnya kan dua?”

“Oh, ini yang bikin lo ngira gue angkatan pertama?” kau mengangguk. “gue belom beli badge, belom sempet ke koperasi,” lanjutnya santai. 

Santai. 

Sementara dirimu berusaha menahan malu di hadapan senior. Sial. 

“Angkatan baru juga belom dapet nametag ya?” tanyanya. Kau menggeleng pelan. 

“Udah jadi, cuma belom ambil,”

“Di koperasi?”

“Iya,”

“Yaudah ambil yuk, sekalian gue beli badge. Ntar kalo gue nunda lagi bisa-bisa waktu seleksi anggota klub malah dikira peserta lagi,” ajaknya sambil membenarkan letak kacamatanya. 

“Eh? Ambil apa?”

“Ambil nametag lo lah, mumpung ada temennya. Abis itu makan, gue gapernah liat lo makan siang. Eh kemaren makan deng, buah ya kalo gasalah?”

Otakmu sibuk memikirkan sejak kapan ia memperhatikanmu dan kebingungan harus mengiyakan atau menolak. Kalau mengiyakan kau harus menahan malu, kalau menolak tambah malu lagi kalau bertemu dengannya di lain hari. 

“Udah ayo aja. Lumayan nih gue pamer ke temen-temen gue, dikira angkatan pertama karena muka gue unyu. Ni kotak makan lo kan? Yok ke koperasi, kalo kebanyakan di perpus ntar lo dicap kutu buku, terus dijadiin sumber contekan. Udah apal gue sama kelakuan bocah… ”

Dan kemudian entah sejak kapan ia telah menggenggam kotak buah dan menggeretmu keluar. 

Dan kau juga pasrah. 

Ya anggaplah balasan kau sembarangan menilai orang. 

Dia bukan pria melas, justru ceria luar biasa…

~

End 

Iklan