“Aku denger kamu jadian sama yang punya butik ini, bener ya?”

Riskan memang pertanyaan seperti ini ditanyakan di pertemuan pertama di menit ke sepuluh mereka bercakap-cakap. Ah, bukan cakap-cakap juga istilahnya. Toh hanya Nickhun yang bertanya dan Victoria menjawab seadanya sambil sibuk meneruskan pekerjaannya-merapikan renda gaun pengantin. Pertemuan mereka juga tak bisa dibilang sengaja, walaupun dikatakan kebetulan pun tidak. Kemarin Nickhun tak sengaja melewati butik ini kemarin dan melihat Victoria di dalam, lalu hari ini ia sekedar iseng kembali melewati butik. 

Nyatanya tetap ada Victoria, jadi Nickhun tak melakukan ini atas unsur kesengajaan. 

“Nggak kok, aku nggak jadian sama siapapun sejak enam tahun yang lalu,”

Skak mat. 

Kini Nickhun yang terpaku. Victoria tetap saja sibuk, seakan eksistensi pria itu tak ada bedanya dengan manekin-manekin tanpa kepala di sekitarnya. Manekinnya juga berbadan wanita, jadi Victoria tak terlihat tertarik. 

Enam tahun lalu Nick putus dengan Victoria. Selang dua hari Nickhun sudah menggandeng Tiffany kemana-mana, klaim sudah resmi pacaran. 

Tapi hari ini Nickhun resmi lajang tanpa kekasih selama setahun. Kalau ikut kata Vic tadi, berarti mereka sama-sama kosong. Berarti juga ada kesempatan untuk…

“Ah iya, tadinya aku bingung ngirimnya ke mana, soalnya kamu pindah rumah dan kita lost contact. Tapi karena ketemu di sini jadi langsung aja ku kasihin,” Victoria menyodorkan sesuatu. “Dateng ya, minggu depan kok, masih sempet kalo mau ngatur waktu,”

Batal kesempatan jadi pacar. Diganti jadi kesempatan memberi selamat. 

Itu undangan pernikahan. 

Pernikahan Victoria Song dan Kangta Ahn. 

“Tadi kamu bilang…”

“Emang beneran nggak jadian kok. Dia minta aku jadi pacarnya pas abis kita putus, tapi aku nolak. Aku bilang aku mau fokus ngejar mimpiku jadi designer dan nggak mau buang waktu untuk pacaran, terus aku ke Paris dan nggak ada yang tau itu kecuali orang tuaku,” potong Victoria. “baru tahun lalu aku pulang, dia nemuin aku dan nembak lagi. Aku nolak lagi karena emang gak mau pacaran. Aku maunya kerja. Guess what? Dia nggak marah dan malah minta aku jadi designer di butik ini. Kalau itu kamu mungkin udah mencak-mencak kan?”

Entah kenapa Victoria malah menceritakan segalanya seperti tak ada masalah. Nickhun tak bisa melakukan apapun kecuali terdiam dan mendengarkan meski sebenarnya tak mau. 

Siapa juga yang mau dengar cerita seperti itu? 

Tiba-tiba Victoria menghentikan semua aktivitasnya dan menarik kursi untuk duduk di depan Nickhun. Ia tersenyum tipis, membuat Nickhun salah tingkah. 

“Dia bukan tipe orang yang bisa jadi pacar idaman. Dibandingin kamu, dia kalah jauh. Kaku, pendiam, gak asik lah. Tapi dia gigih, Nick. Dia ku tolak dua kali tapi tetep jadi orang baik. Dia langsung menangin 3 hati sekaligus. Papa, mama, aku, lama-lama suka aja sama dia. Lama-lama aku selalu bersyukur tiap pagi ketemu dia. Happy tiap kali dia nanyain kabar aku tiap hari. Kayak gitu Nick,” cerita Victoria. 

“Dan kalian tetep gak jadian?”

“Iya dan aku serasa puber lagi. Tiga bulan lalu dia lamar aku, bilangnya ke papa. Gak ada alasan apapun buat nolak,”

Cerita Victoria terdengar tidak mungkin, tapi Nickhun tak punya alasan apapun untuk membantah. Nyatanya dia sudah kalah dengan pria yang membuat Victoria seperti gadis yang menceritakan cinta pertamanya. Ia bisa melihat malu sekaligus senang di wajah wanita yang enam tahun lalu dibuatnya menangis itu. Demi Tuhan ia berpikir keras, barangkali ia sedang dihukum karena menyia-nyiakan orang lain. 

“By the way dia nembak kamu waktu kita putus? Kalian kenal dimana?” tanya Nickhun.

“Dia punya industri garmen, kerja sama ekspor impor sama papa. Dia pernah main ke rumah, ya itu ketemunya,” jawab Victoria. “Nick, hidup itu lucu,” lanjutnya. 

“Hm?” Nickhun mengernyit. 

“Dulu waktu kita putus ku kira aku gak bakal suka sama orang lain, tapi ternyata malah aku ketemu orang yang mau nungguin aku tanpa kejelasan,”

Nickhun mulai tak paham arah pembicaraannya. 

“Mungkin ni terdengar aneh, tapi aku juga berharap kamu segera ketemu jodohmu. Tiffany aja udah sama Gray, nggak ngiri kamu?”

“Ekhm!”

Victoria tertawa. Nickhun langsung menyilangkan tangan, jelas kesal. 

Kasus Tiffany dan Gray mirip dengan awal kisahnya bersama Tiffany. Nickhun mulai percaya karma itu ada. 

“Gray sering jadi model di sini, makanya aku bisa ketemu Tiffany. Ah! Krystal baru putus sama Kai, mau nomornya?”

Krystal itu sepupu Victoria. Dulu Victoria sering meledek Nickhun, katanya Nickhun mau berpacaran dengannya hanya demi mendekati Krystal. Dasar masa lalu. 

Kemudian Nickhun mulai bisa menerima keadaan dan kenyataan. Bisa jadi kedatangannya memang apes. Tapi anggaplah hari ini ia mendapatkan teman yang mengenalnya dengan baik. Malah kalau bisa sekalian saja ia menjadi teman Kangta. 

Lumayan juga sepertinya, perusahaan tempatnya bekerja mungkin bisa bekerja sama dengan industri garmen milik calon suami Victoria. Ya tak ada salahnya juga kan… 

“Sepertinya sudah waktunya aku kembali ke kantor. Tadinya aku mau memintamu kembali jadi pacarku, tapi malah harus datang minggu depan…” Victoria tertawa lagi. 

“Nanti banyak model yang datang, pilih aja salah satu,” sahut wanita itu santai. Nickhun mengacungkan jempolnya dan segera berdiri. 

“Titip salam untuknya ya, bilang aku iri,” 

Dan Nickhun melenggang keluar butik dengan langkah lebih ringan. Ya walaupun sekarang perutnya kosong dan ia kelaparan. 

Ah, nanti pesan jajangmyeon saja, tak ada pilihan lain. 

Iklan