Hari hampir gelap saat kau berjalan menuju bus stop di depan sekolah. Salahkan seleksi anggota paduan suara yang seenaknya memaksa siswa baru untuk membuang waktu bermain di sore hari. Padahal masih seleksi, belum pasti juga akan diterima. Dasar klub sok penting. 

Oh, tidak. Hanya bercanda. Tentu saja klub itu penting, kalau tak penting kau tak akan mendaftarkan diri kan? 

Terima kasih karena bus stop tujuanmu masih tersedia bagian kosong untuk diduduki. Bus yang biasa kau tumpangi juga belum datang. Kau punya kesempatan untuk meluruskan kaki sejenak. 

“Eunha?” 

Kau menoleh dan mendapati sosok familiar duduk di seberang bangku yang kau duduki. Laki-laki berkacamata dengan kantung mata yang khas. Dia nyengir dan kau tertawa. 

“Kak Changhyun tumben nggak naik mobil,” celetukmu sambil menggeser posisimu agar tak canggung.

Iya, laki-laki itu Changhyun, seniormu. Perkenalan kalian yang sedikit nyeleneh kemarin tentu saja tak mungkin dilupakan. Untungnya Changhyun orang baik. Setelah menarikmu ke koperasi, saat itu kalian hanya makan siang kemudian mengobrol riang tentang klub. 

Walaupun jelas sekali Changhyun ingin kau ikut seleksi Masked Crew, tapi tetap saja kau lebih memilih paduan suara. 

Dan siswa yang mengendarai mobil ke sekolah bisa dihitung dengan jari. Changhyun salah satunya. 

“Nih, belum bisa nyetir,”

Kau baru sadar Changhyun memegang kruk lengan di tangan kirinya. Pergelangan kaki kanannya masih dibalut gips. Kau hanya menganga sampai Changhyun kembali bersuara. 

“Udah seminggu, salah mendarat pas latihan. Lumayan sih, kan kalo gak pake mobil duit gue gak abis buat beli bensin. Lo biasa naik bus ya?”

Seperti biasa Changhyun selalu seenaknya bercerita. Kau hanya mengangguk sambil terus menatap kaki Changhyun.

“Nggak sakit Kak?”

“Udah nggak, udah biasa gue dipakein beginian,”

“Heh? Biasa?”

Dan lancarlah Changhyun bercerita tentang anggota geraknya yang langganan cedera. Bangga ia berkata kalau dokter yang menanganinya sampai bosan bertemu dengannya di rumah sakit. Teman-teman satu klubnya menjuluki Changhyun gila karena dia tak pernah takut melakukan atraksi apapun. 

Mungkin itu yang namanya ambisi. 

“Itu apa?” Changhyun menunjuk kotak yang kau bawa. Kau pun membukanya. 

“Pir dikukus, mau nyoba?” tawarmu basa-basi, tanpa menyangka Changhyun juga langsung mengunyah pir kukus isi madu, jahe, dan almond milikmu tanpa ragu. 

“Kok enak? Bikinin buat gue dong! Bawain pas gue latian ya? Ya ya ya?”

“Latian? Bawain? Bikinin?”

“Iya! Bosen gue, kalo latian cuma minum doang. Ni kan manis nih, jadi tenaga yang kebuang bisa langsung balik lagi! Bawain ya? Lo bikin sendiri kan?”

Tin tin! 

“Eunha, ayok!”

Fokusmu seketika terpecah saat suara familiar memanggilmu. Seorang wanita paruh baya dari dalam mobil hitam melambaikan tangannya. Kau kenal orangnya, tapi asing dengan mobilnya. 

Lebih asing lagi dengan kedatangan Mama untuk menjemputmu. 

“Mama naik mobil siapa? Tumben juga jemput,” tanyamu. Wanita itu tertawa gemas. 

“Punya kantor, bawa lemburan soalnya, terus tadi Kakakmu bilang kamu pulang telat,  yaudah iseng Mama lewat. Itu temen kamu?” 

Seketika sadar kalau Changhyun masih di tempatnya, hanya saja sekarang ia berdiri dengan susah payah. Sepertinya belum terbiasa dengan kruk lengannya. 

“Halo Tante, saya Changhyun, temennya Eunha,” Changhyun memberi salam dan kau melihat Mama tersenyum jahil. 

“Iya, halo juga. Pas Eunha ulang tahun datang ya, mau dibikin perayaan kecil-kecilan,”

Nah kan. 

“Mama apa sih??? Kak, aku pulang duluan ya, hati-hati!”

Kemudian kau buru-buru masuk mobil dan melambaikan tangan. Tak ada kesempatan untuk Changhyun menjawab undangan mendadak, apalagi kesempatan untuk Mama kembali mengucapkan sesuatu seenaknya. 

Just no no. 

Dan yaaa… Walaupun resikonya malam ini kau tak bisa tidur tenang untuk sekedar menjawab pertanyaan-pertanyaan usil dari keluargamu. 

Ah, susahnya jadi remaja. 

~DONE~

Iklan