Uncategorized

#WhatIThinkAbout Toleransi

Holla every one, here I am wanna talk about something a bit serious and just like the other posts, all in here is my opinion. 

And tolerance is something that I already face since I was born. 

Bah! Capek juga otak sok pake bahasa inggris sepanjang itu πŸ˜‚

Tapi beneran kok, bahasan ini agak serius dan menurut gue ini perlu banget untuk dibahas. My problem is I have no one that I could discuss with. Well, bukan gapunya sih, tapi jujur ini lebih kepada gue terlanjur nggak nyaman sama orang yang sok tahu dan gamau diusik and sadly people around me are just like that, just like me πŸ˜…

Nah, itulah alasan kenapa gue lebih memilih untuk menulis di sini karena percaya nggak percaya, ada banyak orang yang lebih memilih untuk mengungkapkan sesuatu sebagai dirinya yang lain karena sadar orang sekitarnya gak bisa nerima pemahaman itu. Belibet sih, tapi ya fakta mo gimana πŸ˜…

Back to the topic, toleransi yang sekarang ini sering gue temuin adalah menuntut orang lain untuk “iya” untuk kepentingannya sendiri, tapi “tidak mau” untuk kepentingan orang lain. 

Cikal bakal gue menulis ini adalah bahasan di salah satu group chat yang sebenernya juga gue ogah-ogahan untuk bergabung di dalamnya. Gatau gimana awalnya, tiba-tiba ada dua senior yang ribut masalah paham ideologi (atau politik, gatau lah gue masih goblog masalah beginian). Salah satu diantaranya ngotot negara ini adalah negara Pancasila, yang satunya ngotot negeri ini akan jadi negara Islam. Cukup panjang perdebatannya (dan yang kekeuh negara Islam keliatan banget nganggep ini bahasan serius walaupun dua2nya pakai majas satir), gaada anggota lain yang berkomentar apapun, sampai si ketua grup muncul dan memohon agar dua manusia itu berhenti. 

Oiya sebelum membahas lebih jauh, gue cuma mengingatkan kalau gue menempatkan diri sebagai orang awam dan opini gue di sini sengaja gak gue telaah juga pake referensi macam-macam. Simply because gue pengen berbicara sebagai seseorang yang masa kanak-kanaknya hidup di lingkungan heterogen yang damai sejahtera banget, di tempat yang menurut gue adalah tempat terbaik untuk belajar toleransi tanpa takut mengatakan sebuah opini. 

Sebenernya ketika perdebatan itu masih berlangsung, gue pengen ngasih tau ke mereka gitu lho, mencoba sharing “ini lho gue, ngerasain banget apa itu toleransi, once we understand it, we will never talk about those stupid mind (nggak deng, bukan pikiran bodoh kok)”, tapi kemudian gue mencoba berpikir, jangan-jangan sebenernya masing-masing lagi nyari bibit penerus. Atau bukan nggak mungkin mereka lagi pamer pengetahuan masing-masing. What a…

Ya, gue gak bisa menahan diri untuk tidak berpikir jelek and I don’t even know why and how could I have such a opinion. Udah nggak ada yang murni di negeri ini, mungkin itu salah satu alasan kuat.

Tbh gue gak setuju dengan cara keduanya bertutur, tapi lebih gak setuju lagi dengan pemikiran si negara Islam yang sampai menyangkutpautkan rahim seorang ibu Muslim yang akan mengandung anak Muslim sehingga Muslim akan menjadi banyak sebagai penguat argumennya. 

Why didn’t he say the benefit instead of mention all the thing that have correlation with majority?

Gue akan lebih bisa menerima kalau si negara Islam menyebutkan hal-hal baik apa yang bisa diterima masyarakat luas (bukan hanya Muslim). Nyatanya dia secara tersirat mengatasnamakan jumlah pasukan yang jadi kunci utama dan emang bener Muslim di Indonesia adalah mayoritas. 

Tapi mungkin dia lupa kalau ada banyak manusia yang terlahir sebagai Muslim hanya karena orang tuanya Muslim. Beda cerita dengan Mualaf yang kebanyakan sudah mempelajari dengan sungguh-sungguh sebelum memeluk Islam. 

Menjadi tambah salah (di mata gue) ketika si negeri Islam langsung berpikir kalau semuanya bisa dipukul rata dengan basis syariah. No people, that’s not how this life will going on. 

Lalu apa nih hubungannya sama toleransi? Sekrusial apa sih hal ini sampe gue nekad nulis tanpa referensi? 

Gini gengs, just like I said before, gue lahir di lingkungan heterogen. Tetangga depan rumah gue orang Mandacan, samping kanan Manado, samping kiri Buton, mainnya sama orang Bugis, meanwhile keluarga gue orang Jawa yang udah nggak ‘njawani’. Untuk keyakinan, mayoritas non Muslim (ada Kristen Protestan, Katolik, Budha). Gue tumbuh di lingkungan seperti itu and I think that was the time that i started to not do something yang bisa nyakitin orang, simply because I don’t want them feel hurt (yes fellas, gue gamau orang lain sakit hati, bukan nggak mau gue yang sakit hati). Untuk nggak nyakitin orang lain, gue butuh belajar untuk berpikir sebelum bertindak. Dalam proses berpikir itu gue jadi sadar kalo gak semua yang menjadi hal prinsip menurut kita bisa diterapkan di orang lain.  

Nah, mungkin that was how i learnt about tolerance. Gue yang berumur 4 tahun gak mungkin gue maksain tetangga gue yang non Muslim untuk solat, padahal emak gue kalo tau gue nggak solat langsung dumel-dumel panjang (ada beberapa anak di sekitar gue yang menyamakan semua perlakuannya di rumah ke teman-temannya). Gue juga nggak ngejek mereka yang harus ngerelain hari minggunya untuk ke gereja sementara gue bisa bebas main. Pas lebaran keluarga gue dikirimin minuman kaleng, ntar pas natal keluarga gue gantian ngirim (mirip-mirip parsel lah). Oiya pas hari raya pasti silaturahmi jalan banget. Pas lebaran hari pertama ruang keluarga rumah gue pasti penuh, mulai dari temennya orang tua gue sampai tetangga rame-rame makan sambil ngeledek satu sama lain. Ntar gantian juga pas hari raya lain, kita yang datang walaupun kita agak nahan diri untuk makan karena kadang mereka masak babi. 

Iya, gue di jaman kecil udah biasa banget liat masakan babi. Rumah gue juga deket banget sama gereja. Gue dulu apal juga lagu gereja, walaupun ya kalo nyanyi ntar diomelin emak. Bukan karena itu lagu agama lain, tapi karena gue nyanyinya pake nada becanda padahal itu lagu pujian. Sakral kata emak, bukan becandaan. 

Tapi kalo gak ada emak juga gue tetep nyanyi, malah barengan abang gue, kadang bapak juga ikutanπŸ˜‚

Nah, hal-hal beginian yang bikin gue nyaman-nyaman aja sama yang namanya perbedaan. Gue juga terbiasa untuk memfilter pertanyaan di depan orang yang baru gue kenal, just in case pertanyaan gak cocok. Sebisa mungkin gue nggak mengungkit SARA, palingan cuma nanya dari mana. Ntar dari jawaban itu gue bikin hipotesa. Setelah berhipotesa, ntar tinggal nunggu arahnya aja. Simpelnya sih misal ada azan, gue gak akan bilang “Ayok solat”, melainkan “aku solat dulu ya”. Ada lho kejadian temen gue baru kenal orang dan diajak solat, eh ternyata Hindu. Bodohnya dia pake nyeletuk “yah ku kira Islam”.

Apa salahnya? 

Penggunaan, “yah” di situ seakan-akan mengungkapkan nyesel. Untungnya orangnya santai, kalo sensian kan bisa jadi dia mikir “emang kenapa kalo bukan Islam? Salah?”. Kalo diterusin, bisa jadi konflik. 

Ooya, kemaren sempet rame banget isu kafir. Gue sih nggak akan mempermasalahkan makna kafir sesungguhnya, yang gue permasalahkan adalah kebodohan masyarakat sekitar ni. Kafir dalam masyarakat kita terlanjur dicap negatif, jelek, neraka lah pokoknya. Nah baru sekarang ni ditambahin alasan kalo Muslim menganggap mereka yang non Muslim sebagai kafir, jadinya seenaknya lah pada nyebut beginian. 

Buat lo yang nggak setuju dengan pernyataan gue atas kata “kebodohan”, iya gue paham. Kenapa gue bilang kebodohan bukan karena kurang pengetahuan, tapi karena kurang melek sama keadaan. Itu lho, kata itu udah jadi negatif, ya tolong jangan dipakai sembarangan. 

“KAFIR LO!!!”

Siapa sih yang nggak emosi kalo dikatain kayak gitu walaupun emang bener keadaannya? 

Gengges, ini masalah toleransi. Yang (menurut gue) harus kita pegang adalah jangan nyakitin orang lain, apalagi masalah yang prinsip banget. SARA, kondisi fisik, dan keluarga menurut gue adalah sesuatu yang nggak cocok untuk dijadiin topik pembicaraan, apalagi sampai nadanya merendahkan. Bahas politik juga mayan riskan karena bisa-bisa ujungnya bahas agama. 

Ya walaupun yaaaa kita gabisa juga asal pukul rata hanya dengan alasan toleransi. Contoh nih, karena ngumpul sama temen-temen non Muslim pas jam solat kita gak solat, itu bego kalo sampe begituπŸ˜‚ Atau kasusnya dibalik, karena non Muslim sendirian jadi ikutan solat, sama begonya πŸ˜‚ 

Kita toleransi terhadap prinsip orang lain, tapi ya jangan prinsip kita disepelein juga. 

Oiya, walaupun tadi gue nyebutin topik yang nggak cocok tu, bukan berarti gak boleh ya. As long as kalian sadar batasannya untuk tidak menyinggung, sah-sah aja kok. Gue sering malah diskusi masalah agama sama temen gue yang non Muslim, walaupun ujungnya lebih sering kita ketawa sendiri pas sadar kalo semua agama dasarnya ya sama, kebaikan. Gaada agama yang ngajarin jelek, mungkin manusianya aja yang salah interpretasi. Malah kadang keringanan yang diberikan dijadiin alasan. 

Ya semacam dalam perjalanan gitu, ada keringanan untuk menggabungkan solat dan/atau menyingkat solat. Kemudian itu dijadiin alasan untuk mengakhirkan solat, padahal perjalanannya ngelewatin masjid/mushola/pom bensin ber-mushola/tempat makan ber-mushola/toko ber-mushola. Gue gak tau hukumnya akan menjadi seperti apa, tapi di keluarga gue dari kecil diterapin untuk lebih baik berhenti sejenak untuk solat daripada dilewatin. Pengecualian kalo gaada tempat yang memungkinkan untuk solat lah. Wong ini jelas ada tempatnya kok sok mengakhirkan. Iya kalo 5 menit yang akan datang masih sempet, lha kalo tiba-tiba mati mendadak? πŸ€”πŸ€“

Hal-hal kecil kayak gitu tuh yang menurut gue lebih penting untuk diurus daripada ngotot-ngototan julukan kafir dan landasan agama untuk negara. Karena ya pada dasarnya kalo udah sadar dan mau memahami agama masing-masing, gabakal ada kok kasus penyelewengan, korupsi, apalah-apalah itu karena semua takut akan Tuhan. 

Selain takut,  jadi sadar juga kalo nyakitin orang lain tu ga asik. 

Well, this is what I think about toleransi. I won’t ask you to agree, I’d rather ask you all to think more about that. If I was wrong, tell me, don’t belittle me. All of us need to be a better person, us means you and I πŸ˜†

Sankyu

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s