Lucu.

Bocah itu duduk di depanku, benar-benar fokus dengan ponselnya, barangkali seluruh hidupnya hanya ada di dalam sana. Masih teringat jelas dalam benakku ia memakai kaos yang sama beberapa waktu lalu saat kami bercanda bersama. 

Ya, aku benar-benar mengingatnya. Aku dan dia saat itu mendiskusikan kegiatan organisasi mendatang. Kami beristirahat sejenak untuk melepas penat. 

“Eh, kalo aku tiba-tiba gagu gimana ya? Suaranya jadi sengau nggak jelas gitu tuh!” celetuknya tiba-tiba. Aku mengerling dan mencoba menggodanya. 

“Hati-hati lho, ntar aku doain kamu gagu beneran seumur hidup! Ntar biar malu kamu pas ijab kabul susah ngomongnya!” balasku. Ia terkejut dan tertawa terbahak-bahak. 

“Eh eh! Nggak dong, kamu juga ikutan malu kalo aku jadi gagu beneran. Kan nikahnya sama kamu!”

Butuh beberapa detik untukku memahami maksudnya sampai ia tersenyum jahil. Aku menepuk bahunya dan pura-pura tertawa. 

“Kamu menang, aku kalah,” ucapku. Kami kemudian tertawa bersama dan kembali melanjutkan diskusi kami. 

Lucu memang. 

Ya. 

Yang membuat semua ini menjadi lebih lucu adalah aku tak pernah bisa melupakan caranya bercanda. 

Iya bercanda. 

Tapi aku berharap itu menjadi kenyataan. 

Ada yang lebih lucu lagi.

Dia sudah punya pacar. 

~DONE~

Iklan