Setahun lalu kalau tak salah situasinya sama. Aku mendengar dia berbicara. Mungkin yang berbeda hanya waktu dan posisiku yang tak lagi sekedar mendengar. Aku punya tugas lain hari ini. Aku harus mencatat waktunya juga. 

Setahun lalu juga perasaanku tetap sama. Rasanya semua kata yang keluar dari mulutnya membuatku terbakar semangat walau memang cuma sekejap. Aku juga ingat telah berhenti mengaguminya, tapi tiba-tiba siang tadi ia membuatku kembali ingin memujinya dalam hati. Barangkali itu namanya termakan karisma. 

Lagipula siapa juga yang sanggup bertahan tetap normal kalau orang sepertinya tiba-tiba tersenyum ke arahmu hanya karena kau reflek merespon pertanyaannya? 

Ah, bukan sekedar ke arahku. Matanya juga langsung menatap mataku walau semua terjadi hanya dalam hitungan detik. 

Aku normal kok, masih normal. 

Bahkan walaupun sudah ribuan kali aku mendengar perkataannya, nyatanya aku tetap tak bisa tak mengagumi diksi dan tekanan di tiap patah katanya. Dia memang manusia istimewa yang seenaknya hadir dalam hidupku. Seolah-olah kau hanya boleh menerima saja, tak boleh menolak. Perasaanku juga tetap tak karuan, bahkan hanya karena aku tak sengaja berpapasan dengannya. 

Aku hampir hapal semua tentangnya. Dialek, cara berdiri, cara berjalan, caranya menatap orang lain, tak ada yang tak ku ketahui tentangnya. 

Kalau bukan Tuhan yang paling sempurna, barangkali sudah kujuluki ia sebagai tanpa cacat. 

Tapi dia sudah punya kekasih. 

Itu sayangnya. 

Sayangnya ia punya kekasih. 

~DONE~

Iklan