“OMG WE’RE DONE FELLAS!!!”

Kami tertawa saat si ketua melompat kegirangan. Lega, akhirnya pentas seni yang hampir setahun kami rencanakan berhasil sukses. Semua penonton melompat kegirangan sepanjang pertunjukan. Panitia mana yang tak bahagia melihatnya? 

Aku tersenyum melihat rekanku yang lain mulai mengelompokkan diri dan saling bercanda. Memang dasar aku yang sulit membaur, jadi tak akan ku salahkan siapapun. Sesekali aku asal ikut tertawa, tapi kemudian mundur teratur. 

Lucu.

Kami tenggelam cukup lama dalam kegembiraan kami, walau memang jelas intensitasnya perlahan menurun. Akhirnya kelompok-kelompok itu mulai terurai teratur. Aku menyaksikan saja sampai aku mendapati seseorang dengan energi berlebih sepertiku sedang berdiri sendiri di sudut ruang.

“Kesempatan,” aku membatin. 

Tanpa membuang waktu aku langsung menghampiri dan menepuk bahunya. 

“Nyanyi yuk?” ajakku.

“Ayok!” sahutnya.

Dan langsung saja aku bernyanyi seenaknya. Ia pun ikut-ikutan menganggukkan kepala. Hanya sebait aku bernyanyi kemudian tiba-tiba berhenti dan kami saling menjauhkan diri tanpa aba-aba seperti tak ada apa-apa. 

“Itu dia ngapain?”

Aku langsung menoleh ke sumber suara. Seorang pria dan wanita tertawa sambil melihat ke arahku. Mereka juga menggelengkan kepala, seperti tak percaya aku bisa seedan itu. 

Iya, aku. Tadi orang yang ku ajak bernyanyi langsung berjalan ke arah berlawanan denganku. 

Ah sial. 

Hancur kan citraku sebagai anak pendiam. 

~DONE~

Iklan