Aku keluar dari ruang kesehatan dengan sedikit terhuyung. Tak tahu lagi seperti apa rupaku setelah tiba-tiba ambruk di tengah evaluasi yang sebenarnya tak mencekam dalam levelku. Lebih karena kelelahan yang keterlaluan sebenarnya. Ya, barangkali aku harus berterima kasih pada Tuhan karena Ia membuatku pingsan sehingga tak perlu ikut acara bersih-bersih. 

Tapi tentu saja aku memilih ikut bersih-bersih daripada ambruk seperti tadi. 

Beberapa orang terlihat menjaga jarak denganku saat aku keluar. Waspada mungkin, takut-takut aku ambruk lagi. Tim kesehatan yang menolongku juga masih menggerutu karena aku menolak untuk beristirahat lebih lama. Mereka berlebihan, kan aku harus pulang karena acara bersih-bersih sudah selesai. 

“Yakin aman?” si ketua menepuk bahuku, aku mengacungkan jempol. Aku mencoba tersenyum seindah mungkin.

Aku duduk sejenak sambil merapikan barang-barangku yang terkumpul di sudut ruang. Tadi tim kesehatan menyuruhku menunggu karena pulangku akan diantar. Aku sih asal mengiyakan, daripada mereka menggerutu lagi. Saat aku mencoba fokus dengan barang-barangku, seseorang tiba-tiba mengacak rambutku. Aku berbalik dan mendapati seorang pria yang kukenal baik di sana. 

“Dasar! Ni siapa ni?” ucapnya sambil menunjuk wajahnya. Aku berpura-pura memicingkan mata. 

“Fathur kan?” 

“Fahri ini! Fathur mah bukan panitia!” serunya sebal.

Tentu saja aku tahu siapa dia. Lagipula Fathur kan saudara kembar identiknya, harusnya dia maklum kalau banyak yang salah tebak. 

“Iya tau aku, Fathur kan lebih cakep!” balasku jahil. Ia merengut. 

“Dasar bikin khawatir! Dah ah, aku pulang duluan!” 

Ia kemudian menjauh sambil sesekali melihat ke arahku untuk sekedar menjulurkan lidah. Aku tertawa saja. Ia terlihat lucu kalau merajuk.

Aku suka. 

~DONE~

Iklan