Cerpen · Fiksi

Jaga

“Lhoh?! Kamu di sini juga?”

Aku membalikkan badanku. Seseorang menepuk bahuku dan ternyata aku mengenalnya.

Aku harus mendongakkan kepalaku karena tinggi badannya masih sekitar dua jengkal di atasku.

Dia yang terlalu tinggi. Badanku tak pendek-pendek amat. 

“Hehe… Iya. Kamu sendirian? Pacarmu?” balasku. Ia mengangguk. 

“Bosen kalau berdua terus. Kamu juga sendirian?”

“Tadi sama sepupuku, tapi dia pulang mendadak. Yaudah sendirian, sayang banget kalo ditinggal,”

“Bahaya! Pake earplug nggak?”

Aku mengeluarkan benda kecil berwarna oranye dari telingaku. Ia yang awalnya terlihat panik terlihat lebih tenang. Ia sempat melihat ke arah panggung sebelum tiba-tiba menggeretku keluar dari kerumunan penonton. 

“Kamu kok berani nonton beginian sendiri? Nanti kalau tiba-tiba telingamu sakit lagi gimana? Ini kenceng banget musiknya!”

Ya pentas seni mana yang musiknya pelan-pelan? Dasar aneh! 

“Aku pengen nyari hiburan aja kok,”

“Tapi kupingmu gimana?”

“Aku pake earplug, tenang aja,”

Ia menatapku cukup lama, kemudian melipat kedua tangannya di dada. 

“Yaudah, jangan jauh-jauh dari aku,”

Aku membuang napas panjang. Tentu saja aku serba tak enak kalau jadi begini. Aku cuma menonton pentas seni untuk melepas penat. Kupingku yang tak kuat mendengar suara keras sudah kusumpal agar tak kambuh. Aku sudah menyiapkan segalanya dan tiba-tiba pria ini membuatku terlihat seperti gadis ceroboh. 

“Jangan gini dong, nanti kalo ada temen kita yang ngeliat gimana?” Aku mencoba membujuk. Ia malah menatapku tajam. 

“Ya tinggal bilang kita nggak sengaja ketemu, terus nonton bareng. Emang gitu kan nyatanya?”

“Tapi kamu punya pacar!”

“Ya kenapa kalau aku punya pacar? Aku cuma mau jagain kamu!”

“Ya aku nggak enak lah! Cowok mungkin nganggep ini sepele, beda sama cewek! Aku nggak mau dituduh macem-macem!”

Bentakanku agaknya membuat ia melunak. Jujur aku tak enak hati, tapi hanya ini yang bisa ku pikirkan. Buru-buru aku menjauh darinya dan kembali ke arah kerumunan penonton. 

Belum sampai lima langkah aku berjalan tiba-tiba lenganku tertahan. Ia menggenggam tanganku erat. 

“Kalau aku bilang aku putus sama pacarku, kamu mau aku jagain?”

~DONE~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s