Cerpen · Fiksi

Jalan-Jalan

Kedua jarum arlojiku sama-sama menunjuk angka 1 saat aku berlari-lari keluar kelas. Dosen hari ini begitu semangat sampai penjelasannya molor 15 menit. Padahal baru hari pertama masuk kuliah. Malah seingatku kami tak membahas kontrak belajar sama sekali dan langsung membahas materi. 

Otakku panas mendadak. 

Sebenarnya akan menjadi biasa saja kalau hari ini aku tak ada agenda khusus. Tapi sayangnya aku terlanjur mengiyakan-dengan penuh semangat-tawaran dari salah satu teman lamaku untuk membuang waktu bersama. Ia bilang ia bosan dan ingin sejenak menikmati hidup. Bahkan ia juga memintaku untuk memilihkan tujuan perjalanan kami. Ia hanya bilang kami akan bertemu di depan kampusnya jam satu siang. 

Dia teman pria favoritku sejak jaman sekolah dulu.

Yang menjadi masalah adalah aku belum memutuskan tempat tujuan kami. Kepalaku terlanjur pusing mendengarkan dosen berkepala plontos sedari pagi. Ketika salah seorang teman sekelasku menawarkan makan siang bersama, baru ku ingat janji kami. Aku kalang kabut. 

Aku tak pernah sepenuhnya percaya dengan kekuatan internet. Banyak yang bilang internet punya sejuta solusi untuk semua masalah, tapi faktanya tak ada satu pun jawaban yang berhasil membuatku merasa tercerahkan. 

Solusi yang muncul adalah destinasi bersama pasangan, padahal kami hanya teman. 

Akhirnya aku memilih menyerah dan keluar kelas mendahului dosenku yang belum selesai mengucapkan salam. Seluruh badanku rasanya ikut panik karena aku tak mau salah satu dari kami akan merasa kecewa atas tujuan kami nanti. Mataku berusaha jeli menatap ponsel, terpaksa berharap pada jawaban internet yang klise itu. Sungguh mati aku juga ingin menikmati perjalanan ini!

“Hey!”

Kepanikanku berhenti sesaat. Aku mendongakkan kepalaku, sedetik kemudian baru menyadari sekitar empat langkah lagi aku akan menabrak gerbang kampus. Detik berikutnya aku menyadari bahwa yang menegurku tadi adalah temanku yang duduk manis di atas motornya. 

Sialan, ini kan bukan kampusnya. 

“Kok kamu ke sini?” tanyaku kikuk. Ia tersenyum.

“Iseng, kelasku udah selesai setengah jam lalu. Kamu nggak bawa motor kan? Yuk berangkat langsung aja,” seenaknya ia mengajak, padahal aku masih kebingungan. 

“Ih, janjiannya kan ketemu di kampusmu,” kilahku. 

“Nggak apa-apa. Errr…  Kita makan terus nonton aja ya? Yang penting berdua kan?”

Eh? Jadi dia yang memutuskan? 

“Kita ngikut rencanamu besok-besok aja, pas jalan berdua lagi,”

Ha? 

“Aku ngajak jalan-jalan buat obat kangen aja sih, soalnya kita kuliah satu kota tapi jarang ketemu,”

Aku hanya bisa tercengang mendengar setiap patah katanya. Berdua? Jalan-jalan? Obat kangen? Dia edan? 

“Nggak marah kan?” tanyanya. Aku menggeleng kuat. 

“Nggak kok, cuma kaget,” jawabku seadanya. 

Ia tertawa kecil, kemudian turun dari motornya dan mendekat padaku. Aku baru sadar juga kalau tinggi badanku hanya sepadan dengan bahunya saat ia mengacak rambutku. 

“Udah ah, jangan bikin aku gemes. Yuk!”

Dan entah sejak kapan ia menggandengku ke arah motornya. Ia terus mengoceh tapi telingaku terlanjur sulit mendengar.

Aku tak pernah tahu kalau diriku menggemaskan. 

~DONE~

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s